Jumat, 27 Juli 2012

INDONESIAKU, Pasti Bisa

Saya suka membayangkan di sela sela kesibukan sehari hari, akan menjadi seperti apakah Indonesia di 10 , 20, 30 tahun mendatang. Kadang kadang masih terheran heran, mengapa negara yang kaya dengan sumber daya alam dan sebagainya ini, masih belum bisa menjadi negara yang jauh lebih maju dari sekarang. Walaupun diakui 10 tahun terakhir pasca krisis ekonomi 1998, Indonesia bisa dibilang sukses rebound dan bahkan masuk menjadi salah satu negara G20. Artinya kita dianggap sebagai salah satu promising country / market. Krisis ekonomi di Amerika dan Eropa, seakan juga tidak mempengaruhi pertumbuhan dan kekuatan ekonomi Indonesia. Bisa dibilang, team Ekonomi Indonesia, canggih. Semua pertumbuhan ekonomi minus, kitabisa bertahan di 6% per tahun. Luar biasa. Meningkatnya pula kesejahteraan penduduk, dengan bertambahnya jumlah penduduk kelas ekonomi menengah, ini juga buah prestasi yang mengesankan.

Walaupun kita laju positif, bukan berarti kita sudah bagus. Banyak sekali pe-er lain di depan mata, yang kalau tidak digarap, justru akan menjadi bom waktu. Yaitu:

1. Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia.

Indonesia sampai saat ini masih dihadapkan dengan tantangan untuk lebih memperbanyak penduduk yang terdidik / educated, berkeahlian profesional, cerdas, dan inovatif. Masih banyak penduduk yang belum mendapatkan pendidikan yang layak, karena sekolah dasar saja sudah mahal, apalagi Universitas.
Ini terjadi terutama di daerah, suburb, kampung, desa. Pe-er ini terletak pada masalah ; sekolah yang terjangkau dan bagus untuk mencetak generasi muda yang pandai dan siap berkarya. Masalah ini klasik, masih terbentur di orang Indonesia juga yang suka curi anggaran. Katanya anggaran pendidikan paling tinggi. Mana hasilnya? Anggaran besar, malah jadi sering dikorup.
Banyak anak gak punya, gak jadi sekolah. Padahal bisa saja salah satu atau lebih dari mereka yang akan membawa kita semua ke penghidupan bangsa yang lebih baik. Orang korup itu kurang berfikir panjang dan sangat egoistis.

Sampai sekarang, kita bisa rasakan, betapa banyak: lulusan kuliah gak dapat kerja karena skillnya tidak memadai, mentalnya tidak memadai. Betapa banyak anak muda yang nganggur, milih kerja apa saja asal dapat uang untuk hidup. Tujuan hidupnya cuma SURVIVAL. Jangan harap ada yang ingin berkontribusi untuk negara dan masyarakatnya, pokoknya mereka bisa hidup aja sudah sukur. Betapa banyak, anak orang kaya yang sekolah di luar negeri atau perguruan tinggi bergengsi, tapi juga prestasinya biasa biasa saja.

Adalah beberapa tokoh tokoh muda cerdas, tapi gak banyak. Belum bisa dibilang Generasi muda Indonesia itu mengesankan. Kalau dibilang lifestyle, konsumtif, itu iya pasti.

Pekerjaan nomor satu: investasi dan ciptakan manusia Indonesia yang berkualitas lebih banyak lago, karena semakin banyak anak Indonesia brilliant dan inisiatif, akan makin naik derajat kualitas kehidupan bangsa ini. Pasti. Kita harus basmi generasi muda yang cuma mau kerja dapat gaji / upah / uang semata. Kita hidup harus penuh dengan semangat memberikan manfaat bagi orang lain.


2. Korupsi dan Moral.

Sampai kapan mau melestarikan korupsi dan curi uang negara buat banyak mulut? Saya gak ngerti orang orang yang doyan cari uang dari anggaran negara. Apa gak merasa ikut punya negara? Apa gak merasa perbuatannya akan menghancurkan ? Apa cuma mikirnya anak cucunya saja? Apa tidak berfikir, apalah arti hidup ini kalau hanya cuma untuk survival keluarga sendiri? Tidakkah kita ingin berbuat lebih banyak untuk orang lain? Partai politik sibuk taro orang di kabinet dan BUMN untuk memperkaya partai. Ya Allah. Anggota DPR sibuk cari proyek supaya bisa ambil cuilan cuilan mark up dari anggaran negara. Duh, gak kasian sama nenek nenek yang tinggal di desa pakai gubug reot? Pengusaha sibuk bayar sogokan kanan kiri untuk dapat proyek besar dari negara, biar kaya raya. Ini juga cuma mikirin keluarganya sendiri. Berlanjutlah lingkaran tikus ini ke para orang bawahan yang hormat minta ampun sama pejabat dan pengusaha yang banyak duit, gak peduli korup atau tidak. Asal bos bayar gede, saya bakal setia. Dari level atas sampai bawah, kualitas moral orang Indonesia itu jelek. Semua cuma suka semata mata dengan Uang. Duh,moralnya di mana kah? Apa lupa dulu kecilnya diajarin apa. Apalah arti uang banyak kalau waktu Anda mati, uang tersebut belum bermanfaat untuk orang lain. Hukum saja bisa dibeli, sama saja, ada uang semua bisa diatur. Kasihan kan orang Indonesia ini?
Anda yang baca juga jangan sok suci. Di kerjaan dan kehidupan Anda, sudah kebal belum dengan uang? Atau harga diri dan moral Anda sudah gak terlalu penting demi uang lebih banyak? Moral. Indonesia punya krisis moral di masyarakatnya. Ini pe-er kedua.

Satu hal yang saya pelajari,ada beberapa titik efektif untuk issue ini:
A. Buat semua guru adalah sudah teruji moral budi pekertinya dan hidup berkecukupan.
B. Ciptakan diktator putih yang adidaya, yang mampu membunuh para koruptor, preman,pembunuh, penipu dan lain sebagainya.

3. Sumber Daya Alam

Sudah punya semua resources di dalam negeri ini, kok banyakan di eksport? rugi amat. Lahannya luas, bisa jadi negara agraris, tapi banyak import bahan makanan. Ternyata belum cukup memenuhi demand dalam negeri untuk bahan makanan. Kok bisa? Ya karena pertaniannya gak digarap! Terus, sukanya jual bahan mentah keluar, cuma mau dihargai harga komoditas. Sebagai orang brand, kenapa gak diolah dulu segala sesuatunya menjadi merk merk olahan Indonesia? Ini lebih memiliki added value yang luar biasa. Gak cuma pertanian,tapi juga kelautan, pariwisata, kayu, pertambangan, kuliner ... Ya Allah banyaknya masih banyak lagi. Stop jual komoditas! Olah dulu baru jual! Cukupkan persediaan kebutuhan dalam negeri, itu harus. Kurangi import. Begitu juga dengan bahan bakar minyak. Tolonglah hentikan itu semua praktek curi uang atau mencurangi uang negara. Gak kasihan dengan banyak orang susah? Kalian sibuk memperkaya diri sendiri? ... Indonesia ini butuh Leader yang kuat dan bermoral. Hidupnya cuma ingin berbuat baik untuk orang. Indonesia butuh banyak orang pintar yang mengeluarkan ide ide pengembangan kehidupan bangsa ini. Indonesia butuh masyarakat bermoral supaya bisa besar. Ini semua , saya yakin bisa terwujud, kalau kita bersama sama , mau peduli bahwa ini semua pe er kita bersama.

Jakarta, 27 Juli 2012

Rabu, 25 Juli 2012

FORMULASI RISET untuk MARKETING COMMUNICATION / BRAND ACTIVATION yang EFEKTIF

E SUKSES : ESQUIRE MAGAZINE JULY 2012 : ARDANTYA SYAHREZA

 FORMULASI RISET APLIKATIF
 "Menguatkan basis research / consumer insights dan kalkulasi efisiensi kampanye yang terukur dalam menjalankan bisnis marketing communication"

Basis Research
Menjalankan sebuah bisnis riset yang terkesan serius, Ardantya Syahreza alias Dacil justru mengimplementasikan basis research dalam setiap perancangan komunikasi pemasaran sebuah produk. Dengan bendera PT Marketing Komunikasi Indonesia (EXIGO) , Dacil menahbiskan perusahaannya sebagai marketing communication agency yang berfokus pada brand activation.

Latar belakang didirikannya PT Marketing Komunikasi Indonesia adalah karena pada waktu Dacil bekerja di agency periklanan sering menemukan pertanyaan yang sama dari berbagai klien, "Berapa return of investment yang bisa didapat dengan campaign yang Anda rancang ini?". Pada saat itu, agency periklanan merasa pertanyaan itu tidak relevan untuk mereka karena agency periklanan lebih mengedepankan kreatifitas penyampaian pesan produk - tidak dirancang untuk dikaitkan dengan ROI bisnis secara langsung.

Pria asal Malang, Jawa Timur ini mencoba melawan pasar advertising agency dan event organizer dengan memadukan kedua hal tersebut dan dilengkapi dengan basis research. Singkatnya, di perusahaan yang Dacil pimpin ini, semua rancangan kampanye dan program selalu berbasis research, pemahaman konsumen dan pasar, sebelum mengembangkan suatu konsep strategi. Aplikasi ini memang dilakukan oleh industri periklanan, namun belum dilakukan untuk pengembangan kegiatan below-the-line.

Selama sudah 7 tahun berdiri, perusahaan ini pernah menangani BCA, Kidzania, Nestle Indonesia, Sari Husada, Shell Indonesia, Danone Dairy Indonesia, Kraft Foods Indonesia, Petrojaya Boral Plasterboard, Hutchison Telecom Indonesia, LG Electronics, Combiphar, Mayora Indah, Mercedes Benz Indonesia, dan beberapa consumer goods client lainnya. Saat ini yang sedang intense bekerja sama dengan perusahaan ini adalah Nestle Indonesia dan Shell Indonesia.

Sebelum memulai usahanya sendiri di bidang marketing communication agency, pria berusia 36 tahun ini mencari pengalaman dengan bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan research multinational pada awal tahun 2000 dan advertising agency multinational pada tahun 2003 sampai dengan tahun 2005. Ia bahkan pernah bekerja magang di Kanada. Kesempatan bekerja tersebut didapat karena program international traineeship dari AIESEC, sebuah organisasi mahasiswa internasional yang ia geluti sejak ia kuliah di Universitas Brawijaya. Bosan menjadi karyawan, ia pun mendirikan MKI pada tahun 2005 bersama sang adik.

Jatuh Bangun
Awal mula Dacil berbisnis sebenarnya sudah dimulai ketika ia menjadi karyawan, dengan mengambil franchise Bakso Kota Cak Man asal Malang di Jakarta pada awal tahun 2005. Dengan menggandeng beberapa partner, ia merasakan manisnya membuka food outlet dan memutuskan benar-benar menjadi pengusaha pada September 2005 dengan keluar dari perusahaan tempatnya bekerja dan mendirikan MKI.
Menjalani MKI pun mencapai puncaknya di akhir tahun 2007 dengan meng-hire sekitar 30 orang karyawan pada saat itu. Namun tanpa diduga, kesuksesan tersebut tidak berlanjut lama. Enam bulan pertama di tahun 2008, MKI tidak mendapatkan klien sama sekali. "Entah apa yang terjadi ketika itu. Saya menganggapnya 'misteri Ilahi'. Dalam keadaan tidak ada pemasukan sedangkan harus menggaji karyawan, akhirnya saya katakan pada mereka di bulan Juni 2008, saya tidak bisa meng-hire mereka. Beberapa orang memang sudah mengundurkan diri", kisahnya.

Sempat terpikir oleh Dacil untuk kembali menjadi seorang profesional dan bekerja pada orang lain. Namun, membayangkan konsekuensi kebebasan berkarya sebagai seorang pengusaha, maka Dacil mengurungkan niatnya.
Tidak menyerah, Dacil dibantu dengan istri terus membangun kembali PT Marketing Komunikasi Indonesia. Ketika itu, ia hanya dibantu oleh satu sekretaris dan office boy. Berbekal network dan portfolio sebelumnya, ia maju terus dengan MKI. Karena sumber daya manusia yang minim, ia pun harus mencari bantuan dari beberapa pekerja lepasan per proyek. Selain itu, ia juga mengajak kerja sama beberapa teman yang juga memiliki usaha event organizer untuk sharing project dengan berbagi keuntungan.

Sekarang, Dacil bisa dibilang bisa bernafas lega karena perusahaannya sudah berjalan dengan normal dan terus kembali bertumbuh.

Petik Pelajaran
Kondisi hampir pailit yang pernah ia alami 4 tahun lalu membuat Dacil mengambil hikmah. "Dulu, mungkin karena modal semuanya 100% berasal dari keluarga dan didapat dengan mudah, saya kurang cukup berhati-hati dalam melangkah dan mengambil segala keputusan. Saya suka mengeksplorasi sana-sini dengan minim perhitungan dan pertimbangan", ungkapnya tentang kesalahan di masa lalu. Apalagi posisi partner yang merupakan saudara kandung sendiri, membuat tampuk pemegang keputusan sulit dipilih.

Kini, ia mencoba menjadi lebih baik. Saat ini, ia sangat terlibat dalam day-to-day operasional perusahaan, bahkan bisa dibilang masih terlalu one-man-show. "Mungkin masih sedikit trauma, jadi maunya hands-on terus", katanya. Tapi ia menyadari bahwa ini adalah tantangan untuk dia harus segera shifting menjadikan PT MKI sebuah perusahaan yang mandiri dan sistematis. Sistem kepemimpinan coaching harus lebih ia tekankan daripada mengambil alih semua mayoritas pekerjaan.

Satu yang pasti, ia akan terus menjalankan bisnis marketing communication ini karena jumlah populasi masyarakat Indonesia yang makin bertambah, ekonomi tumbuh dan berarti akan terus bermunculan berbagai produk yang berlomba merebut pasar. Marketing communication akan berperan penting dalam membantu para klien pemilik produk tersebut untuk mengkomunikasikan produknya secara efektif kepada masyarakat.
Selain itu, franchise restoran yang ia jalani pun sudah ada tiga (3) cabang dan berencana ingin terus ekspansi. Ia mengaku tak tertarik untuk kembali bekerja menjadi karyawan, bahkan ketika ia mengalami kejatuhan dalam bisnisnya. "Mungkin yang menarik menjadi pengusaha adalah saya bebas berinisiatif, mengeluarkan ide apa saja dalam keseharian kita. Dan saya merasa memiliki kekuatan dalam hal itu. Yang pasti, saya harus pintar-pintar mengelola waktu dan bekerja keras", ungkapnya.

(Esquire Magazine, July 2012, page 72-73)

Selasa, 20 Maret 2012

Industri Periklanan Memerlukan Para Marketer Muda

 Industri Periklanan Memerlukan Para Marketer Muda


MALANG: Industri periklanan ke depan akan membutuhkan banyak tenaga marketing muda menyusul berkembangan usaha bersangktuan.

CEO Exigo Brand Activation Agency yang juga founder PT. Marketing Komunikasi Indonesia, Ardantya Syahreza, mengatakan tenaga marketing muda mempunyai peluang besar untuk tampil di bidang industri periklanan. Apalagi belanja perusahaan untuk iklan dari tahun ke tahun terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.

Dari data yang ada, menurut Ardantya, pada 2009 belanja iklan baik untuk TV, media cetak, radio, dan media lainnya mencapai Rp48,585 triliun. Angka tersebut naik menjadi Rp59,827 triliun pada 2010, dan pada 2011 diperkirakan lebih dari Rp60 triliun. Kondisi ini membuka peluang besar bagi tenaga marketing muda usia.

“Young marketer itu mempunyai sejumlah keunggulan yakni peka terhadap tren yang sedang berkembang, lebih kompetitif, cerdas, dan mempunyai kemampuan yang lebih kapabel,” kata Ardantya di Marketing Training `Indonesia and Global Trend Need You Young Marketer` yang digelar AESEC Universitas Brawijaya (UB) Malang, Sabtu (26/11).

Dengan begitu, karir di bidang marketing, ujar dia, sangat menjanjikan dan mempunyai tingkat kompetisi yang besar. Saat ini jumlah penduduk Indonesia mencapai 237 juta jiwa dan diprediksi mengalami pertumbuhan sebesar 6% setiap lima tahun. Selain itu Indonesia menunjukkan sebagai negara nomor dua terbesar di dunia pengguna Twitter maupun Facebook.

Facebook misalnya Indonesia pengguna ke dua yakni sebesar 35,17 juta di bawah Amerika yang mencapai 152,18 juta pengguna. Hal ini menunjukkan perkembangan tren dunia berada di tangan orang-orang muda. (dw)

Kamis, 01 Maret 2012

MENYUARAKAN MEREK

Majalah BESTLIFE
Edisi Maret 2012

"MENYUARAKAN MEREK"
 my style : Ardantya Syahreza



Pria asli Malang ini kembali membangun bisnis komunikasi pemasarannya dengan lebih hati-hati setelah 'habis-habisan' dan lepas kendali.

Pria berkacamata itu tersenyum ketika menjelaskan bagaimana kabar perusahaan komunikasi pemasaran miliknya saat ini. "Sejak berdiri bulan September 2005, kami sempat naik turun, kemudian melaju setelah mendapat suntikan dana tambahan dan akhirnya jatuh di pertengahan tahun 2008. Kami sempat habis karena saya terlalu banyak eksplorasi dan tidak fokus. Istri saya sampai terlibat membantu kantor saya waktu itu", ujar Ardantya Syahreza, CEO PT Marketing Komunikasi Indonesia (MKI).

"Sekarang kondisinya bagus. Kami sedang menangani beberapa perusahaan consumer goods yang menjadi klien setia kami", ujarnya dengan bersemangat.

Tetapi meskipun MKI sudah mulai bangkit dan berlari, Ardantya tidak ingin membawa perusahaannya untuk lebih besar. "Saya tidak ingin perusahaan ini terlalu besar karena industrinya cukup kompetitif. Jadi saya sengaja membuatnya kecil, ramping, efisien dan prudent. Yang penting stay healthy," ujar pebisnis yang juga menggenggam 3 outlet waralaba kuliner yang sedang naik daun, Bakso Kota Cak Man; cabang Plaza Semanggi (lantai 3A), cabang Cibubur Junction (lantai LG), dan cabang Margo City (lantai 2 Food Court).

"Semua bisnis yang menonjolkan kreatifitas dan brand communication, sangat menarik bagi saya. Dalam bisnis komunikasi pemasaran seperti saat ini contohnya, kita dituntut untuk selalu kreatif kalau tidak mau dilibas oleh kompetitor."

Kamis, 26 Januari 2012

AIESEC Teach Marketing Skills to Students

http://prasetya.ub.ac.id/berita/AIESEC-Teach-Marketing-Skills-to-Students-6487-en.html


AIESEC Teach Marketing Skills to Students

Print version PDF version RTF version
Submit by humas3 on November 28, 2011 | Comment(s) : 0 | View : 596
AIESEC teach marketing skill to students

AIESEC teach marketing skill to students


AIESEC (Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales) teach marketing skills to students. Related to that, on Saturday (26/11) a marketing training entitled "Indonesian and Global Trend Need You, Young Marketer" is held. The event, held in Hotel UB, is attended by student representatives from various universities in East Java and Yogyakarta.

In his presentation "What You Can Get from Campus to Become Marketing Professional", Djanalis Djanaid stressed that the ability of a business is decided by marketing skill. According to him, marketing has several functions, such as merchandising, buying, selling, branding/standardization, storage and ware housing, transportation, finance, communication, and risk taking. To be a professional marketer, he convey the importance of special skill such as mastery of concept, art in the concept implementation, good mental attitude, and negotiation skill. Furthermore he specifically described the negotiation skill that should be possessed by a marketer. For the success of negotiation, he advised three strategy; time strategy, communication strategy, and message technique strategy.

Marketing theory is also explained by speaker from PT. Marketing Komunikasi Indonesia, Ardantya Syahreza. According to Ardantya, the core of marketing is about understanding what the people needs. "Marketing is the effort to understand market prospect in creating products and services with added value", he said. The process covers segmenting, targeting and positioning statement.

Testimonials and success story of marketing is then presented by two speakers from PT. Bogasari Flour Mills, Tbk and PT. Astra International, Tbk. Interviewed by PRASETYA Online, head of committee Karisma K. Viranata said that the training is aimed to improve marketing potentials of the youth generation to be young marketers. For the students, according to her, marketing skill is not only needed when working. By aiming for fresh graduate, she also expects that the participants at least able to market themselves when applying for works. [nok]

Senin, 24 Oktober 2011

MENJAMURNYA BISNIS WARALABA

MENJAMURNYA BISNIS WARALABA
(LIVE ON BERITA SATU TV , 21 OKTOBER 2011)
Speakers:
Ardantya Syahreza (Pengusaha Waralaba)
Tri Raharjo (Pemimpin Redaksi Info Franchise)

Hadir di Berita Satu TV

Sebagai media terdepan dalam bisnis franchise, kami sudah jadi rujukan banyak pihak terkait dengan perkembangan dan peluang bisnis franchise di Indonesia. Terkait hal tersebut, pada 21 Oktober silam Majalah Info Franchise mendapat kesempatan tampil di acara Jurnal pagi, Berita Satu TV (sebelumnya Q-Channel), sebuah televisi berbayar (pay tv) melalui First Media. Anda juga bisa menikmati live streaming BeritasatuTV di beritasatu.com.

Dalam acara tersebut, Tri Raharjo, Pemimpin Redaksi Majalah Info Franchise, dan Ardantya Syahreza, franchisee Bakso Malang Cak Man, didaulat menjadi narasumber. Tema yang diangkat juga menarik, “Menjamurnya Bisnis Waralaba”. Pada kesempatan itu, Tri Raharjo memaparkan berbagai peta market dari waralaba asing dan lokal, syarat bisnis franchise, potensi dan peluang berbisnis franchise. Sementara Ardantya Syahreza lebih menyoroti alasan mengambil bisnis franchise, tantangan dan hambatan di bisnis franchise, serta keuntungan berbisnis melalui franchise. Dipandu oleh Prima host dari Berita Satu makin menambah hangatnya perbincangan “Menjamurnya Bisnis Waralaba”.




DIALOG TRENTOP PAGI SABTU, 221011


TEMA : MENJAMURNYA BISNIS WARALABA 
BISNIS WARALABA MEMILIKI POTENSI YANG SEMAKIN MENJANJIKAN // ASOSIASI FRANCHISE INDONESIA MENCATAT / OMZET WARALABA KESELURUHAN MENCAPAI 114,6 TRILIUN RUPIAH PADA TAHUN 2010 // SEDANGKAN TAHUN 2011 DIPERKIRAKAN NAIK MENJADI 135,4 TRILIUN RUPIAH //

BAGAIMANA PERSAINGAN DUNIA WARALABA? APA SAJA PELUANG DAN HAMBATANNYA?   

KAMI SUDAH MENGHADIRKAN TRI RAHARJO / PENGAMAT BISNIS WARALABA DAN PENGUSAHA WARALABA YANG SUDAH BERKECIMPUNG DALAM BISNIS INI SELAMA LEBIH DARI LIMA TAHUN / ARDANTYA SYAHREZA//


ATURAN YANG MEMPERSEMPIT
DAMPAK KRISIS GLOBAL THD BISNIS WARALABA
WARALABA ASING NAIK 100 PERSEN DAN MAKIN PESAT DI TAHUN 2012
ANTISIPASI THD WARALABA ASING


SEGMEN 1 : WARALABA ASING VS LOKAL


TRI RAHARJO :
   1.  WARALABA ASING VERSUS LOKAL, BAGAIMANA PERSAINGANNYA?
"Sebenarnya, waralaba asing dan waralaba lokal memiliki pasar yang berbeda di pasar Indonesia ini."

   2.  WARALABA LOKAL APA YANG DOMINAN? MENGAPA?
"Yang saya lihat berkembang sekarang adalah didominiasi oleh waralaba food and beverage"

ARDANTYA SYAHREZA :
   1.  WARALABA APA YANG ANDA JALANKAN? (TIDAK USAH MENYEBUTKAN BRAND, SEBUT SAJA WARALABA MAKANAN BRAND LOKAL)
-----
"Saya sudah 5 tahun lebih ini menjalankan sebuah usaha waralaba makanan bakso atau bakwan dari kota Malang".
-----

   2.  BERAPA BESAR MODAL AWAL? BERAPA LAMA WAKTU PENGEMBALIAN MODAL?
---
"Modal terdiri dari:
1. Biaya Franchise atau license menggunakan merek tsb, sistem dan supportnya selama sekian tahun. Saya 5 tahun. Pada tahun 2005 habis 50 juta utk 5 thn.
2. Biaya Down Payment sewa tempat, around 50 juta.
3. Biaya renovasi tempat around 50 juta
4. Sisa 50 juta untuk pembelian perangkat dan kas awal.
200 juta.
Dan alhamdulillaah bisa BEP selama 1.5 tahun."

   3.  BERAPA GERAI YANG SUDAH ANDA MILIKI?
------------
"Saya saat ini memiliki 2 gerai. Di Plaza Semanggi lantai 3A dan di Cibubur Junction LG. Akan buka lagi Desember, di Margo City Depok.
Sebelumnya pernah buka di Kemang Food Fest, Blok M Plaza, dan Sabang, tapi kurang beruntung :)"

   4.  APA ALASAN ANDA MEMBELI WARALABA LOKAL?
-----
"Tidak ada alasan khusus.
Saya mengambil waralaba lokal ini yg notabene dari kota Malang, kota masa kecil saya, adalah karena saya tahu sebagai produk bakwan Malang , memang yg paling enak.
Dan, melihat Jakarta yg dipenuhi pendatang, dan sudah dikepung dg berbagai macam gerai makanan fast food dan brand luar, mereka (konsumen/pasar) ada kerinduan utk mencari bakwan yg 'kampung'.
Ya udah, peluangnya ada, maka saya ambil. Dan Alhamdulillaah benar.
"

   5.  BAGAIMANA PERSAINGANNYA? APAKAH WARALABA ASING MENYULITKAN BISNIS ANDA?

---
"Justru tidak.
Masyarakat Jakarta punya demand dan waktu sendiri untuk brand2 makanan asing, dan ada waktu sendiri untuk brand2 makanan lokal. Jadi tidak bersaing justru. Krn masyarakat ada alokasinya masing2.
Yang saya inginkan adalah menyamai ukuran bisnis dengan para waralaba asing tadi :)"
-----

SEGMEN 2 : TANTANGAN DAN HAMBATAN WARALABA



ARDANTYA SYAHREZA :

   1.  BERAPA LAMA ANDA MENJALANKAN BISNIS WARALABA?

"Sudah 6 tahun lebih."
   2.  APA YANG PALING MENANTANG DARI BISNIS INI?

"Bagaimana menyediakan sebuah produk lokal atau 'kampung' dan menyediakannya ke sebuah lingkungan urban, harus lebih modern, tapi tidak boleh kehilangan identitasnya sebagai makanan lokal. Nah, menjaga keseimbangan itu yg tidak mudah.
Selain itu, bagaimana kita juga berkreativitas untuk mencari peluang pasar, keinginan konsumen dan cara2 pendekatan apa saja yg kiranya efektif utk masing2 segmen: tua, muda, keluarga, anak kuliah, dst."

   3.  APA SAJA HAMBATANNYA?
----
"Hambatan adalah pada franchisornya.
Adalah di mana sebuah pemilik merek franchise atau franchisor tidak dapat memberikan support yg maksimal.
Dlm pengalaman saya adalah kurangnya support program marketing, sdm, quality control, keuangan dan akuntansi. Jadinya, kita ini franchisee kalau tidak jago mencari cara sendiri, bisa stagnan bisnisnya.
Yang harus dicatat adalah:
Seorang franchisor tidak hanya cukup punya produk atau jasa bagus atau diterima pasar, tapi perlu juga sistem. "

   4.  BAGAIMANA ANDA MENJAGA BISNIS INI, KUALITAS ATAU KEUNIKAN WARALABA YANG ANDA KELOLA?
-----
"Dua-duanya.
Seperti Anda mengelola brand anda sendiri. Kualitas harus dijaga, begitu juga keunikan.
Yang lucu adalah, apabila franchisor tidak bekerja optimal utk menyamakan kualitas dari gerai satu dg yg lain, kita jadinya berjuang sendiri utk differentiate outlet2 kita dari outlet2 lain dg merek yg sama.
Kita gak mau dibilang di lokasi X merek ini kok gak enak, tapi di tempat saya enak. Nah, akhirnya persaingan kurang sehat kan."

ARDANTYA SYAHREZA :
   1.  APA SAJA YANG ANDA DAPATKAN MELALUI WARALABA?
------
"Produk makanan jadi atau koki ahli untuk membuat makanannya. Kemudian boleh menggunakan mereknya selama masa waralaba."
   2.  APA KENDALA BERAT YANG MASIH ANDA HADAPI?
----
"Yg saya sampaikan tadi. Berjuang sendiri.
Maunya kalau udah beli waralaba itu kan maunya udah enak, udah ada sistem, disupport, bekerja bersama.
Pada saat itu tidak ada, kita harus kerja ekstra keras utk create segala macam program promosi khusus utk outlet kita, quality control sendiri, rekrut SDM sendiri, dll."

   3.  APA KIAT ANDA UNTUK MENJAGA KELANGSUNGAN WALARABA ANDA?
-------
"Jaga kualitas dan reputasi.
Terus ciptakan interaksi atau program promosi dg customer. Treat ini seperti merek yg Anda kelola."

   4.  TERKAIT MASUKNYA SEMAKIN BANYAK WARALABA ASING, APA STRATEGI ANDA?
------
"Nggak ada strategi khusus. Mungkin malah mencoba mencontoh dan belajar dari gerakan2 mereka. Supaya kita juga bisa besar spt mereka.
"

   5.  ANDA AKAN MENCOBA WARALABA LAIN? MENGAPA?
-----
"Why not?
Waralaba atau tidak, yg penting ada peluangnya atau tidak, customer mau atau tidak.
Kalau ada peluang, ya masuk lagi lah. Apalagi kalau kita gak terlalu bisa membuat atau melakukan jasanya, atau apalagi kalau brandnya sudah memberikan jaminan mutu dan sudah punya pasar besar.
Begitu."


Contact Person:
Ardantya Syahreza
Twitter : @ardansyahreza 

Dari Marketing Researcher Sampai Berjaya sebagai Company Owner (ARDANTYA SYAHREZA)


DARI MARKETING RESEARCHER SAMPAI BERJAYA SEBAGAI
COMPANY OWNER
---------------------------------------------------------------------------
Ardantya Syahreza
(market+ magazine , Oktober 2011, page 21)

Sosok suami dan bapak dua anak ini tak lain merupakan pengusaha muda yang berjaya di bidang pelayanan komunikasi pemasaran dan bisnis restoran. Lahir di Jakarta, 20 Desember 1976, kini Ardantya Syahreza menjabat sebagai CEO PT Marketing Komunikasi Indonesia (MKI), agensi komunikasi pemasaran yang didirikannya pada tahun 2005 silam. Tak hanya itu, pria jebolan Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya ini juga sukses menempati posisi Chairman AIESEC Indonesia Alumni Organization. Lalu, di bidang kuliner, ia merupakan sosok penting di balik kesuksesan K-Food Indonesia dengan Bakso Kota Cak Man-nya dengan cabang ada di Plaza Semanggi lantai 3A, Cibubur Junction LG dan akan dibuka di bulan Desember 2011, di Margo City Depok.

Ardantya Syahreza mengawali karirnya sebagai Marketing Researcher di ACNielsen Indonesia. Dengan memfokuskan diri pada riset-riset kualitatif untuk pemahaman dan pendalaman konsumen, ia melanjutkan karir risetnya di Exquisindo Global Research. Tak puas mengangani Indosat, Telkom Indonesia, HM Sampoerna, Honda, Daihatsu, ABC President dan klien-klien lainnya, Ardantya Syahreza mulai menggeluti bidang lain; yaitu sebagai Business Development Manager di DDB Indonesia, sebuah perusahaan periklanan multinasional global ternama. Ia pun mulai menjamah pekerjaan pengembangan strategi komunikasi pemasaran berbasis consumer insights.

Tak sampai disitu, pada tahun 2005, Ardantya Syahreza mengibarkan dua bendera sekaligus; PT Marketing Komunikasi Indonesia dan K-Food Indonesia.

Pengusaha muda yang tergabung dalam HIPMI sejak 2007 lalu ini mengoperasikan PT MKI dalam dua divisi; EXIGO (http://www.createbrandexperience.com/ atau www.mki-group.com/exigo) , agensi yang berfokus pada brand activation, dan Cauldron Research (www.mki-group.com/cauldron_research) yang mendedikasikan diri di bidang riset pemasaran.

Kini PT MKI di bawah naungannya telah menangani Bank Central Asia (BCA), Hutchison Telecom Indonesia, Kalbe Farma, Nestle Indonesia, Danone Dairy Indonesia, Kraft Foods Indonesia, Sari Husada, Abbott, Mercedes-Benz, BMW Indonesia, LG Electronics, Ranch Market, Produgen, Garudafood, Kidzania Jakarta, Exelcom Indonesia dan klien-klien ternama lainnya.

Ardantya Syahreza telah memutuskan untuk terus berkontribusi dan menginspirasi lewat karirnya di bidang business of brand marketing communication, marketing research, events & sales promotion dan food culinary.


Contact Person:
ARDANTYA SYAHREZA
Twitter : @ardansyahreza