Sabtu, 03 Oktober 2026

Beasiswa adalah Kepercayaan: Awardee Dana Abadi UB Diajak Membangun Karakter, Jiwa Wirausaha, dan Literasi Keuangan

Beasiswa adalah Kepercayaan: Awardee Dana Abadi UB Diajak Membangun Karakter, Jiwa Wirausaha, dan Literasi Keuangan

Pembekalan penerima Beasiswa Dana Abadi Universitas Brawijaya mengajak mahasiswa melihat beasiswa sebagai kesempatan untuk bertumbuh. Selain prestasi akademik, mereka didorong mengasah kepemimpinan, kemampuan bekerja sama, inisiatif, dan kecakapan mengelola keuangan.


MALANG — Beasiswa membantu mahasiswa melanjutkan pendidikan dan meraih prestasi. Di balik dukungan tersebut terdapat kepercayaan yang perlu dijaga: kesempatan belajar diharapkan berkembang menjadi kemampuan untuk mengambil tanggung jawab, berkarya, dan memberi manfaat bagi orang lain.

Pesan itu mengemuka dalam Pembekalan Penerima Beasiswa Dana Abadi Universitas Brawijaya Semester Ganjil 2026 di Ruang Sidang Gedung Rektorat Lantai 8, Sabtu, 3 Oktober 2026. Kegiatan ini membahas kesiapan awardee menghadapi kehidupan setelah kampus, mulai dari karakter dan kepemimpinan hingga pengelolaan keuangan pribadi.

Salah satu pemateri, Ardantya Syahreza, S.E., Sekretaris Divisi Penghimpun Dana Abadi UB, menyampaikan paparan bertajuk Building the Entrepreneurial Mindset: Dari Penerima Beasiswa Menjadi Pencipta Peluang. Ia membuka sesinya dengan pertanyaan sederhana kepada para awardee: mengapa mereka berada di ruangan itu? Apakah mereka hadir karena keinginan dari dirinya sendiri?

“Beasiswa ini adalah berkah dan kepercayaan. Cara menghormatinya adalah mengambil tanggung jawab atas hidup sendiri, terus belajar, dan mulai menciptakan manfaat bagi orang lain,” demikian inti pesan yang ia sampaikan kepada para awardee.

Tanggung Jawab Ada pada Diri Sendiri

Ardantya mengingatkan bahwa mahasiswa tidak harus langsung mengetahui seluruh arah kariernya, menjadi pengusaha, atau mencapai keberhasilan besar saat masih kuliah. Mereka dapat mulai dengan membangun kemampuan, mengenali persoalan di sekitar, dan mengambil langkah yang berada dalam kendali mereka.

Dukungan beasiswa dapat membuka pintu. Dosen, keluarga, dan teman dapat membantu sepanjang perjalanan. Namun, keputusan untuk belajar, mencoba, memperbaiki kesalahan, dan melangkah maju tetap berada pada diri mahasiswa.

Pandangan tersebut menjadi dasar materi entrepreneurial mindset yang ia bawakan. Bagi Ardantya, pola pikir kewirausahaan tidak hanya diperlukan oleh orang yang ingin mendirikan perusahaan. Dokter, insinyur, peneliti, pegawai, pekerja sosial, maupun pemimpin organisasi dapat menerapkannya dalam bidang masing-masing.

Intinya adalah membiasakan diri melihat kebutuhan atau masalah, mengambil inisiatif, mengusulkan solusi, mengujinya dalam skala kecil, lalu belajar dari hasilnya.

IPK Perlu Berjalan Bersama Karakter

Dalam paparannya, Ardantya juga membahas tantangan yang akan dihadapi mahasiswa setelah lulus. Persaingan mencari pekerjaan semakin ketat. IPK yang tinggi merupakan pencapaian akademik yang penting, tetapi lingkungan profesional juga menilai bagaimana seseorang bekerja bersama orang lain dan menjalankan tanggung jawab.

Kemampuan menyampaikan gagasan dengan jelas, mendengarkan kebutuhan orang lain, menerima masukan, menghargai waktu, menjaga sikap, dan menuntaskan pekerjaan ikut membentuk kepercayaan. Keterampilan tersebut dapat dilatih jauh sebelum mahasiswa mengikuti wawancara kerja, antara lain melalui tugas kelompok, organisasi, kepanitiaan, magang, dan kegiatan sosial.

“Salah satunya melalui penguatan soft skill dan karakter. Capaian akademik yang tinggi perlu diimbangi dengan kemampuan leadership, bekerja sama, berkomunikasi, serta membangun relasi dengan orang lain,” tegas Ardantya.

Ia menggambarkan dua lulusan dengan nilai akademik yang sama baik. Salah satunya menguasai teori, tetapi sulit bekerja sama dan selalu menunggu instruksi. Lulusan lain juga terus belajar, namun terbiasa bertanya apa yang dapat ia bantu, mendengarkan sebelum menjawab, serta menuntaskan tugas yang dipercayakan kepadanya. Perbedaan sikap itu dapat memengaruhi kepercayaan yang mereka peroleh.

“Di perusahaan, kami akan lebih memilih teman-teman yang mau belajar dan mau kerja keras daripada yang sudah pintar tapi tidak bisa bekerja sama,” ujarnya.

Karena itu, mahasiswa diajak menilai perkembangan dirinya dengan pertanyaan yang lebih luas daripada nilai akademik: apakah ia mampu menjelaskan ide dengan baik, sungguh-sungguh mendengarkan, menepati janji, dan membuat timnya bekerja lebih baik?

Empat Fondasi Entrepreneurial Mindset

Ardantya merangkum pola pikir kewirausahaan dalam empat fondasi.

Pertama, kejelasan tujuan. Mahasiswa tidak perlu memastikan jabatan yang akan dipegang sepuluh tahun mendatang. Mereka dapat mulai dengan bertanya kemampuan apa yang ingin dibangun, persoalan siapa yang ingin dibantu, dan mengapa hal itu penting. Tujuan yang jelas membantu mereka memilih kesempatan belajar yang bermakna.

Kedua, mengambil tanggung jawab. Mahasiswa tidak dapat mengendalikan seluruh keadaan ekonomi ataupun keputusan orang lain. Mereka tetap dapat menentukan cara mempersiapkan diri, merespons penolakan, mencari masukan, dan memperbaiki kemampuan.

Ketiga, berinisiatif. Ketika menemukan masalah, langkah awal dapat berupa mendengarkan orang yang mengalaminya dan mengajukan ide sederhana. Inisiatif terlihat ketika seseorang bersedia mencoba, tanpa selalu menunggu tugas atau jabatan resmi.

Keempat, daya juang. Semangat never give up berarti terus belajar ketika percobaan pertama belum berhasil. Mahasiswa perlu memahami alasan sebuah ide belum bekerja, mengubah pendekatan, meminta bantuan bila diperlukan, dan mencoba lagi dengan pengetahuan yang lebih baik.

Keempat fondasi itu menghubungkan tujuan pribadi dengan tindakan. Mahasiswa diajak menjadi lebih peka terhadap kebutuhan di sekitarnya, lalu berani memulai dari masalah yang dapat mereka pahami.

Memulai dari Modal yang Sudah Dimiliki

Ardantya menanggapi anggapan bahwa menciptakan peluang selalu harus dimulai dengan uang. Pendanaan dapat diperlukan ketika sebuah usaha berkembang. Namun, langkah awal untuk menghasilkan manfaat bisa dimulai dari pengetahuan yang dipelajari, kemampuan yang diasah, waktu, perhatian, dan kesediaan untuk mengamati.

Ia mengajak awardee mengikuti proses sederhana: mengamati persoalan, mendengarkan orang yang mengalaminya, memahami kebutuhan mereka, mengajukan ide, menguji solusi kecil, lalu memperbaikinya.

Contohnya dapat ditemukan dalam berbagai bidang studi. Mahasiswa pertanian dapat berbicara dengan petani dan pembeli ketika melihat hasil panen sulit terserap. Mahasiswa kesehatan dapat membantu menyusun informasi kesehatan yang lebih mudah dipahami, dengan memeriksa akurasinya bersama tenaga yang kompeten. Mahasiswa teknik, sosial, atau ekonomi juga dapat mengamati proses yang menyulitkan sebuah komunitas dan menawarkan perbaikan yang sesuai dengan kemampuan mereka.

Langkah tersebut mungkin belum menghasilkan usaha baru. Namun, pengalaman mendengarkan, menyelesaikan persoalan, dan bekerja bersama orang lain akan membangun kemampuan sekaligus kepercayaan.

Kepemimpinan Tumbuh dari Kepercayaan

Bagi Ardantya, jiwa kewirausahaan berkaitan erat dengan kepemimpinan. Sebuah gagasan membutuhkan orang yang mau memberi masukan, bekerja sama, dan mempercayakan tanggung jawab. Pengaruh karena itu dibangun melalui tindakan yang membuat seseorang dapat diandalkan.

Mahasiswa dapat mulai memimpin dalam kelompok kecil: memberi ruang bagi anggota yang belum berbicara, membantu tim menyepakati langkah berikutnya, menuntaskan bagian tugasnya, serta mengakui dan memperbaiki kesalahan.

Ardantya, alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis UB, juga menilai pengalaman organisasi sebagai ruang latihan yang penting. Kegiatan di luar kelas memberi mahasiswa kesempatan menghadapi perbedaan pendapat, membagi pekerjaan, dan bertanggung jawab atas hasil bersama.

“Akademis itu satu hal penting pada waktu lulus. Tapi pada waktu kerja, kalau dia punya pengalaman sosial atau organisasi, pernah memimpin, itu akan jauh lebih menunjukkan bahwa dia orangnya proaktif,” ucapnya.

Kepercayaan tidak dibangun dalam satu kegiatan. Reputasi tumbuh dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten. Ketika seseorang terbukti dapat diandalkan, ia akan lebih siap menerima tanggung jawab yang lebih besar.

Literasi Keuangan untuk Menopang Kemandirian

Selain karakter dan kepemimpinan, pembekalan ini mengangkat pengelolaan keuangan pribadi. Alifa Gina Maharani, Mutual Fund Product Campaign Specialist Trimegah Sekuritas, membahas kebiasaan menabung, dasar-dasar investasi, serta cara mahasiswa memahami arus uang yang mereka kelola.

“Harapannya ketika nanti mereka sudah lulus dan bekerja, mereka sudah mempunyai bekal bagaimana mengelola keuangan, bagaimana cara menabung yang benar, dan bagaimana mengoptimalkan penghasilan yang mereka dapatkan,” ujar Alifa.

Menurutnya, kebiasaan menabung dapat dimulai dari nominal kecil. Konsistensi membantu mahasiswa membangun disiplin yang kelak berguna ketika mereka mulai memperoleh penghasilan sendiri.

“Mindset untuk menabung dan berinvestasi itu harus dibangun dan dibiasakan sejak dini, dari nominal yang kecil. Kalau dari uang yang sedikit saja kita tidak terbiasa menabung, ketika nanti memegang uang yang lebih besar justru akan semakin sulit,” jelasnya.

Alifa juga mengajak mahasiswa membedakan kebutuhan dan keinginan, mencatat sumber dana, serta memetakan pengeluaran. Dengan mengetahui dari mana uang berasal dan ke mana uang digunakan, mahasiswa dapat menyusun prioritas tanpa mengabaikan kebutuhan utama selama kuliah.

Pengetahuan dasar tentang investasi turut membantu mereka menilai tawaran keuangan secara lebih kritis dan mengenali potensi penipuan atau investasi bodong.

Satu Masalah, Satu Langkah dalam Tujuh Hari

Menutup paparannya, Ardantya memberi para awardee tantangan yang dapat segera dilakukan. Dalam tujuh hari, mereka diminta menuliskan satu masalah nyata di sekitarnya, berbicara dengan sedikitnya dua orang yang mengalaminya, lalu melakukan satu langkah kecil. Langkah itu bisa berupa rancangan awal, percobaan sederhana, ajakan bekerja sama, atau usulan perbaikan kepada pihak yang tepat.

Target tersebut tidak menuntut hasil besar dalam waktu singkat. Tujuannya adalah melatih mahasiswa untuk melihat persoalan, mendengarkan, dan bertindak berdasarkan apa yang mereka pelajari.

 Berdasarkan bahan pemberitaan kegiatan, program Beasiswa Dana Abadi UB telah memberi manfaat kepada 124 mahasiswa.

Melalui dukungan pendidikan dan pembekalan ini, para awardee diharapkan dapat menjaga prestasi akademik sambil mengembangkan karakter, kemampuan bekerja bersama, inisiatif, dan kemandirian finansial. Kepercayaan yang mereka terima hari ini menjadi lebih bermakna ketika kelak hadir dalam karya serta manfaat bagi orang lain.

Disusun dengan menggabungkan materi paparan Ardantya Syahreza dan bahan pemberitaan BACAMALANG.COM serta TIMES Indonesia mengenai Pembekalan Penerima Beasiswa Dana Abadi UB, 3 Oktober 2026.

Minggu, 31 Mei 2026

JANGAN CONNECT SEMUA AKUN SOCMED DI META

Bapak/Ibu dan rekan-rekan yang saya hormati,

Mohon izin, saya ingin menginformasikan bahwa beberapa waktu terakhir ini saya mengalami kejadian yang cukup menyedihkan dan merepotkan. Akun Facebook lama saya, yang sudah saya gunakan sejak tahun 2007, tiba-tiba dinonaktifkan oleh Meta.

Tidak hanya Facebook, WhatsApp saya juga sempat ikut bermasalah dengan alasan melanggar ketentuan usia. Beberapa akun Instagram saya pun ikut ter-logout dan terdampak.

Awalnya saya benar-benar bingung, karena akun-akun tersebut sudah saya gunakan bertahun-tahun untuk komunikasi dengan keluarga, sahabat, rekan kerja, komunitas, dan jejaring profesional. Banyak sekali kenangan, hubungan, dan perjalanan hidup yang tersimpan di sana.

Alhamdulillah, setelah melalui proses yang cukup panjang, dibantu banyak pihak, serta melakukan proses banding, nomor WhatsApp dan akun-akun Instagram saya akhirnya bisa kembali. Namun sayangnya, akun Facebook lama saya tidak berhasil dipulihkan.

Karena itu, saya membuat akun Facebook baru ini. Mohon izin untuk kembali terhubung dengan Bapak/Ibu dan rekan-rekan semua. Apabila menerima permintaan pertemanan dari akun ini, mohon berkenan untuk menerimanya.

Dari kejadian ini, ada pelajaran penting yang ingin saya bagikan:

Kita perlu lebih berhati-hati dalam menghubungkan semua akun penting — seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, dan email — ke dalam satu sistem manajemen akun.

Apabila salah satu akun bermasalah, diretas, atau terkena pembatasan yang tidak kita pahami, dampaknya dapat merembet ke akun-akun lain yang terhubung.

Pelajaran besarnya: jangan menghubungkan semuanya dalam satu tempat.

Semoga pengalaman saya ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih berhati-hati menjaga identitas digital, akun pribadi, akun profesional, dan seluruh kanal komunikasi yang kita gunakan sehari-hari.

Terima kasih banyak atas perhatian, bantuan, doa, dan kesediaan Bapak/Ibu serta rekan-rekan untuk tetap terhubung.

Akun Facebook baru saya:
https://www.facebook.com/share/1E9hebqRkg/

Salam hormat,
Ardantya Syahreza

#KeamananDigital #AccountSecurity #FacebookBaru #LessonLearned #ArdantyaSyahreza

Jumat, 06 Juni 2025

Potensi Investasi Resort Wisata Kesehatan di Malang Raya Dipresentasikan di Osaka

Potensi Investasi Resort Wisata Kesehatan di Malang Raya Dipresentasikan di Osaka

 

Pada acara Indonesia Tourism Investment Business Forum 2025 sebagai bagian dari program besar Osaka World Expo 2025 yang mengambil tema Industri Health & Wellness Tourism di Centara Grand Hotel Osaka, pada tanggal 3 Juni 2025, Malang Health Tourism Board diundang oleh Kementerian Pariwisata RI sebagai salah satu presenter proyek inisiasi health & wellness tourism dari Indonesia, selain dari SinarMas Land, Rebana Jawa Barat, Sari Ater, Mahakam Group dan Mustika Ratu.

Indonesia merupakan destinasi wisata eksotis dan populer yang terkenal akan kekayaan warisan budaya dan pengalaman kebugaran yang autentik. Negara ini terkenal dengan studio yoga di tepi pantai, resor kebugaran mewah bintang lima, sumber air panas alami, spa etno-kebugaran (seperti spa Jawa dan Bali), kuliner sehat dan lezat, serta terapi tradisional yang berbasis pada rempah-rempah dan herba asli. Indonesia juga menawarkan pengalaman kebugaran berbasis alam, seperti meditasi, jalan santai, dan aktivitas kebugaran luar ruangan lainnya seperti eco-trekking, menyelam, dan bersepeda. Indonesia berada di peringkat ke-18 dalam Peringkat Negara Kebugaran Global pada tahun 2023, dengan ukuran Ekonomi Kebugaran sebesar USD 56,43 miliar, dan tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata 6,7% dari tahun 2019 hingga 2023*. Peringkat ini menempatkan Indonesia di atas negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Filipina, Thailand, dan Malaysia.

Kementerian Pariwisata Republik Indonesia memprioritaskan sektor Industri Wisata Kesehatan sebagai salah satu motor untuk pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan percaya bahwa Jepang dapat menjadi negara strategis untuk pengembangan industri ini di Indonesia, sekaligus sebagai potensi pasar bagi turis lansia ke Indonesia.

Malang Raya dan Bromo merupakan salah satu kawasan wisata paling menakjubkan dan strategis di Indonesia, khususnya untuk kesehatan berbasis alam, tempat peristirahatan kesehatan, dan kehidupan lansia. Udara pegunungan yang sejuk (18– 24°C sepanjang tahun), hutan yang rimbun, dan perbukitan yang indah menjadikan Batu dan Malang sebagai surga kesehatan alami. Maka dari itu, Malang Health Tourism Board mengkonsolidasi pelaku industri pariwisata dari Batu, Jatim Park Group, dengan para Rumah Sakit dan Klinik di Malang Raya, Jawa Timur bahkan Internasional, untuk berkolaborasi menciptakan sebuah kawasan terintegrasi resort dengan pelayanan medis, kebugaran, olahraga, dan program lansia yang bernama Mariposa.

Proyek ini berpotensi untuk menjadi sebuah Kawasan Ekonomi Khusus karena memiliki potensi untuk menciptakan ekonomi baru bagi Malang Raya, terutama bila dapat mengundang berbagai klinik dari luar negeri yang akan bergabung  di resort tersebut.

Malang Health Tourism Board berperan penuh untuk mewujudkan konsolidasi kerjasama antar stakeholders, realisasi investasi dan pengembangan resort tersebut.

“Keberadaan proyek ini diestimasikan akan dapat menciptakan tambahan Rp 200 miliar per tahun bagi Malang Raya dari wisatawan mancanegara, wisatawan kebugaran, wisatawan corporate wellness, dan turis domestik lainnya”, ujar Ardantya Syahreza, Ketua Malang Health Tourism Board.


Rizki Handayani Mustafa, Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata RI, mengapresiasi konsep dari Mariposa yang berpotensi untuk dapat diwujudkan dan mengundang para calon investor dalam dan luar negeri untuk bergabung pada proyek Mariposa, Konsep Kawasan Terintegrasi Wisata Medik, Kebugaran dan Senior Living di kawasan Jawa Timur Park, Batu, Malang, Jawa Timur, Indonesia.

Jumat, 01 September 2023

Ardantya Syahreza : Digitalisasi dan Mental Health Adalah Kunci Pelayanan Kesehatan Promotif dan Preventif pada Malang Health Tourism


Pada kesempatan pemaparan, sebagai undangan pembicara pada acara dengan mengusung tema Oportunity Health Tech, Ketua Malang Health Tourism Ardantya Syahreza menyampaikan, “Dalam menyelaraskan terhadap visi kesehatan Indonesia yang telah ditetapkan pemerintah dengan diterapkannya SatuSehat sebagai roadmap digitalisasi kesehatan untuk mendapatkan sensus data kesehatan masyarakat Indonesia yang nantinya bertujuan dalam rangka pengelolaan, memprediksi potensi penyakit serta pencegahannya maka jika dikaitkan secara praktis pada wisata kesehatan, digitalisasi sudah menjadi sebuah urgensi yang harus segera dipetakan dan diaplikasikan dalam rangka meningkatkan efektifitas dan kecepatan jangkauan pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara luas. Pelayanan kesehatan yang dimaksud di sini adalah pelayanan kesehatan yang tidak hanya berorientasi pada sisi kuratifnya atau pengobatan, namun juga promotif dan preventif."

Ardantya Syahreza, selaku penginisiasi Malang Health Tourism, yang telah diresmikan sebagai kawasan health tourism keempat di Indonesia setelah Sumatra Utara dengan Medan Medical Tourism Board, Bali dengan Bali Medical Tourism Association, dan Sulawesi Utara dengan North Sulawesi Health Tourism, oleh Menteri Pariwisata pada April 2023 lalu, menambahkan Malang Health Tourism sendiri telah mengadopsi visi pemerintah untuk terus menggalakkan layanan promotif dan preventif seperti dimulainya pembangunan jaringan klinik di Malang dan Jawa Timur agar lebih dapat menjangkau masyarakat yang tidak sakit dan mengundang masyarakat untuk check kesehatan serta mengelola gaya hidup sehat dengan panduan dan konsultasi dengan dokter. 

Berbagai jenis teknologi seperti Telemedicine, AI Diagnostic, AI Healthcare Analytic, Personal Healthcare Assistance Mobile Apps dan personal electronic medical record adalah beberapa contoh bagaimana digitalisasi akan mentransformasi layanan kesehatan sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. “Saya sampaikan juga kemarin, pada saat pemaparan, bahwa ada catatan penting yang perlu dijadikan agenda penting dalam rangka menciptakan kerangka kesehatan komprehensif pada program Health Tourism ke depan yaitu perihal pencegahan penyakit tidak hanya fokusnya secara fisik, tapi juga secara mental health. Pendekatan layanan mental health juga perlu adanya kombinasi pendekatan emosi, digital dan alam. Pendekatan secara emosi tentunya harus dilakukan oleh psikolog atau psikiater, skrining mental wellness dapat dilakukan secara digital dan dapat segera menghubungi mental wellness expert. Dalam konteks unique service dari Malang Health Tourism, juga ada pendekatan untuk membawa pasien ke Alam agar mendapatkan penyegaran pengalaman spiritual. Kombinasi pelayanan kesehatan dengan kombinasi digitalisasi dan nature/alam, akan membawa pelayanan medical/health tourism yang sangat menarik dan relevan bagi masyarakat modern. Dan tentunya akan menjadi daya jual juga untuk dengan mudah menarik wisatawan dari Luar Negeri ke Indonesia. Mengingat kesehatan mental akhir-akhir ini menjadi isu besar generasi mendatang yang harus kita hadapi melalui terobosan-terobosan pada program Health Tourism ke depan yang perlu diadakan sebagai jawaban,” paparnya

Sumber: https://m.mediaindonesia.com/humaniora/608767/ardantya-syahreza-mental-health-jadi-kunci-sukses-health-tourism-indonesia

Jumat, 18 Agustus 2023

Learning is A Never Ending Process



Ardantya Syahreza is a businessman and professional who handles a variety of responsibilities since he currently leads multiple enterprises in diverse industries. Some of the businesses are his, while others are owned by his extended family.

Ardantya established his first company, PT Marketing Komunikasi Indonesia, in 2005. The company provides marketing services and brand communication strategy consultation in activation activities (event promotions) that allow for measurable customer database acquisitions, product trials, and purchases.

A brand activation agency is not the same as an event planner (EO) where they only promote. A brand activation agency, on the other hand, designs and oversees brand-appropriate promotional activities.

 

"This is nothing more than an activity that directly reaches out to people who utilize the brand," said the AIESEC Indonesia Alumni Chairman.


MKI has been trusted to manage major brands due to his hard work. Its clients currently come from various industries, including food and beverage, pharmaceuticals, telecommunications, oil, and banking.

Ardantya said that MKI's research department is its greatest asset. For such a brand, they first have to conduct market research. "Market research is required initially to figure out what consumers want from a brand, and we undertake this ourselves via our research section," he concluded.

When Ardantya started MKI in 2005, he said that not many brands had executed this. “There are a lot of advertisements on television, but there are still few events. Advertisements don't necessarily target consumers, so I tried to take a side-by-side approach to the client.”

"Back then, I was in charge of a lot of prospecting operations and pitch proposals for potential new brand clients," he said. "I recognized an opportunity to build a service with a new business model to serve clients who want their marketing budget to be associated with company achievement or sales after dealing with new prospects for a long time."


F&B expansion

Ardantya, an Universitas Brawijaya Faculty of Economics alumnus, expanded his business by launching a culinary business and F&B service with a franchising system. 

Under the auspices of PT Kuliner Nusantara Sejahtera Indonesia, he oversaw the Bakso Kota Cak Man outlet franchisee management, became the master franchisor of Sour Sally Mini, and created Marlous Martabak, NSW Bruger, and Sushi Pablo.


Ardantya is the holding company for the two firms that operate under the Indocre Lintas Usaha banner. It also comprises PT Generasi Muda Indonesia, which bridges the information gap between the academic and professional worlds. The Indocre Group is devoted to participating in the creative industry area.

Man with a vision

Ardantya's breadth of experience has sharpened his commercial acumen. His early career began as an intern at the Royal Bank of Canada Branch Office in Ontario. He then returned to Indonesia as a Nielsen Research Executive, eventually becoming a business development manager for an advertising firm.

ARDANTYA SYAHREZA SHARES LEADERSHIP TIPS FOR MILLENIALS AND GEN Z’S

Ardantya Syahreza from Persada Hospital shares his leadership experiences in more than 25 years.

04.03.2022
BY HANUM FAUZIA

Ardantya was requested to join a family business, PT Persada Medika Raya in October 2019, which is part of the holding PT Persada Capital Investama, which was founded by his uncle, the late Benny Subianto. Ardantya has been named development director at the firm in charge of Persada Hospital.

This experience transformed Ardantya into a learner who seeks to comprehend all of the surprises in her surroundings. He promotes the acceleration of transformation and innovation as the Development Director of PT Persada Medika Raya. Persada is intended to go beyond curative medical services. Sports, nutrition, and cosmetic components are also currently being planned.

Ardantya Syahreza is a multi-tasking guy who amazed us with his leadership achievements. He was the Deputy Director of Persada Hospital in Malang, East Java. His leadership experiences in handling 700 employees in his hospital's family business shouldn't be in doubt. In fact, he already learned about being leadership since he was a student at Brawijaya University. Ardantya was a President of AIESEC Indonesia who made him have frequent interaction with global young people to talk about global issues and how we can address the issues through youth exchange programs. You can also read more about him here.

Through an interview with The S Media, Ardantya gives us insight into how to be a successful leader at a young age. 

We call you a truly multitasking man as your businesses come from various industries. How do you sharpen your fresh ideas every day?

I have learned that in order to keep our ideas alive and up to date is by always learning and be open to anything new continuously. Being open means we put ourselves as a forever-student. We are not smarter than anyone, and we want to learn about everything.

I also think that younger generations are smarter than me, and I could learn about digital, startups, and anything new from them. 

Is this pandemic affecting you a lot in terms of productivity and your journey in the professional world? What do you think this pandemic could change millennials' path to leadership?

This pandemic definitely impacts our hospital business. As a hospital, of course, we have to cater the public health issues. But on top of the rush and crisis, Persada Hospital made to achieve more in 2021. When things are changing, we just need to ride on the waves. This will require speed to adapt and change. Not all organizations and leaders can make things happen in such a quick response. The winner is the one who can adapt the fastest. 

This pandemic will make our millennials more perseverant in facing problems and more creative to face challenges. It will make every millennial to be more adaptive and faster to adapt. 

As a leader, you must have experience in handling employees from gen Z or millennials. Is that difficult as we know that young employees today are considered more unruly and behave as they want?

Gen Z and Millenials mostly tend to take easy on things. They are not pushing things to the max. Therefore, in certain cases, leaders must show examples and create a reward-punishment system to create such productive culture among the gen Z and millennials. 

Photo Courtesy of Ardantya Syahreza

In order to keep ourselves relevant with the current times and even lead changes or transformations, we need to be fast in adopting new trends and new approaches. Well, to be honest, I am often attending webinars and reading various articles regarding digital, technology, organization transformation, leadership, and many more.


There are so many young generations today that have high eagerness to be a successful entrepreneur like you. But most of them are mood-swingers. How do you see this phenomenon?

Being an entrepreneur means being alone. Being an entrepreneur is being a human being who has a strong purpose and passion to work on certain issues. An entrepreneur is someone who can not live without any strong purpose. They will work hard to achieve the purpose and gather people and resources to make things happen.

I do not see the young generations are mood-swingers. They are really smart, instead. But, they do have to lack in their emotional quotient. How they can be more persistent and able to engage and respect people is something that young generations need to learn more.


Do you have such an inspiring mentor or role model that you admire? What is the most valuable lesson that you learned from him/her?

Mr. Benny Subianto – he is my uncle, an older brother of my father, who crawled his career from a salesman in United Tractors until become one of the 50 richest men in Indonesia. He passed away on January 4th, 2017. 

I admire him because I love the story behind all the career and business success that he achieved is what I admire from him. The value of working hard and building a reputation is what I learned from him. He was also a gentleman who likes to help people. He helped so many people no matter they treated him back in different ways. But I learned from him that doing good to others is the most precious asset in life. 

First, you need to have a strong idea to address any issues. In order to lead a company, we need to know how we want to be different and unique to address customers’ problems. Secondly, as a leader, you need to have a strong will to achieve your vision. A strong attitude will lead to our persistence, a never-say-die person, and always try to find a way to make things happen.

Lastly, as a leader, you are a leader who needs to learn from your team and also empower them to become the next leader. No leader can lead an organization without good leadership skills. 

 

Rabu, 09 Agustus 2023

Malang Resmi Jadi Kawasan Health Tourism


TIMESINDONESIA, MALANG – Walikota Malang Sutiaji menerbitkan Surat Keputusan (SK) Walikota Malang tentang Malang Health Tourism (MHT) pada 26 Juni 2023. Tim Wisata Kesehatan Malang yang dilantik Menteri Sandiaga Uno pada 16 April 2023 itu akan bekerja untuk periode 2023-2028 dengan ketua Ardantya Syahreza SE.

Dalam keterangan yang diterima TIMES Indonesia, Ardantya Syahreza menyampaikan, sesungguhnya Malang Health Tourism ini merupakan bagian dari program nasional Indonesia Health Tourism yang dibentuk oleh pemerintah pusat.

"Program ini dibuat untuk mengembangkan daerah-daerah dengan potensi gabungan Wisata Medis dan Wisata Wellness seperti olahraga dan pemandangan alam," ucap Dacil, sapaan akrab Ardantya Syahreza.

"Program ini juga telah ditetapkan sebagai salah satu program prioritas strategis nasional," sambungnya.

Untuk diketahui, pada 16 April 2023, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, meresmikan Malang menjadi kawasan health tourism keempat di Indonesia. Malang pun mengikuti jejak Sumatera Utara dengan Medan Medical Tourism Board, Bali dengan Bali Medical Tourism Association, dan Sulawesi Utara dengan North Sulawesi Health Tourism.

Khusus Malang Health Tourism, program ini menawarkan layanan Wisata Medis (Medical Tourism), dan Wellness Tourism. "Malang memiliki kombinasi dari ketersediaan dokter sub-spesialis di berbagai bidang yang berada di beberapa rumah sakit dengan berbagai kelengkapan alat medis untuk diagnosis maupun intervensi," jelas Dacil. 

Hal ini dipadu dengan berbagai pilihan destinasi pariwisata seperti Wisata Gunung Bromo, Wisata Hutan Coban Rondo, Wisata Kuliner Kota Malang, dan Wisata Buatan Jatim Park di Batu. Resorts dan akomodasi yang nyaman dengan pemandangan dan desain yang menarik juga tersedia untuk penyembuhan.

https://timesindonesia.co.id/wisata/463690/malang-health-tourism-lahir-berwisata-di-malang-raya-kian-bermakna

Pacu Pertumbuhan Ekonomi dan Layanan Kesehatan melalui Tim Wisata Kesehatan Malang


*Pacu Pertumbuhan Ekonomi dan Pelayanan Kesehatan*

Malang Posco Media, Malang-Tim Wisata Kesehatan Malang bertekad terus memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi, pelayanan kesehatan dan pariwisata di Malang. Selain itu, juga membuka tambahan lapangan kerja, menambah kesejahteraan masyarakat dan menambah keahlian baru dalam melayani market turis dari manca negara.

Demikian ditegaskan Ketua Tim Wisata Kesehatan Malang, Ardantya Syahreza, SE kepada Malang Posco Media, Rabu (9/8). Ditambahkan, Malang telah diresmikan menjadi kawasan health tourism keempat di Indonesia oleh Menparekraf/Kabaparekraf Sandiaga Salahuddin Uno, pada 16 April 2023. Sedangkan tiga daerah sebelumnya adalah Sumatra Utara, Bali dan Sulawesi Utara.

‘’Malang Health Tourism menawarkan layanan Wisata Medis (Medical Tourism) dan Wellness Tourism. Hal ini sangat tepat sebab Malang memiliki kombinasi dari tersedianya para dokter sub spesialis di berbagai bidang yang berada di beberapa rumah sakit dengan berbagai kelengkapan alat medis untuk diagnostik maupun intervensi,’’ paparnya.

Ardantya Syahreza menuturkan, berbagai keunggulan tersebut juga dipadu dengan berbagai pilihan destinasi pariwisata seperti Wisata Gunung Bromo, Wisata Hutan Coban Rondo, Wisata Kuliner, Wisata Buatan di Batu dan sebagainya. Terlebih juga tersedia cukup banyak pilihan restort dan akomodasi yang sangat nyaman dan disain yang menarik untuk healing.

Karena itu, Tim Wisata Kesehatan Malang yang dibentuk dengan SK Wali Kota Malang Nomor 188.45/213/35.73.112/2023 tanggal 26 Juni 2023 mempunyai beberapa program untuk mencapai masyarakat yang sehat secara jasmani dan rohani. Karena awareness kesehatan yang lebih baik, deteksi kesehatan lebih awal dan rutin, maintenance physical dan wellness dalam gaya hidup serta pelayanan medis ahli dan terukur.

‘’Kami menyediakan pelayanan medis terintegrasi dengan harga yang lebih terjangkau dengan tenaga ahli medis subspesialis serta fasilitas medis yang terstandarisasi. Serta, menyediakan pelayanan wellness dengan kekayaan pariwisata alam dan buatan,bersama dengan instruktur wellness yang ahli,’’ pungkas Dacil, sapaan akrabnya.

 https://malangposcomedia.id/pacu-pertumbuhan-ekonomi-dan-pelayanan-kesehatan/