Sabtu, 03 Oktober 2026

Beasiswa adalah Kepercayaan: Awardee Dana Abadi UB Diajak Membangun Karakter, Jiwa Wirausaha, dan Literasi Keuangan

Beasiswa adalah Kepercayaan: Awardee Dana Abadi UB Diajak Membangun Karakter, Jiwa Wirausaha, dan Literasi Keuangan

Pembekalan penerima Beasiswa Dana Abadi Universitas Brawijaya mengajak mahasiswa melihat beasiswa sebagai kesempatan untuk bertumbuh. Selain prestasi akademik, mereka didorong mengasah kepemimpinan, kemampuan bekerja sama, inisiatif, dan kecakapan mengelola keuangan.


MALANG — Beasiswa membantu mahasiswa melanjutkan pendidikan dan meraih prestasi. Di balik dukungan tersebut terdapat kepercayaan yang perlu dijaga: kesempatan belajar diharapkan berkembang menjadi kemampuan untuk mengambil tanggung jawab, berkarya, dan memberi manfaat bagi orang lain.

Pesan itu mengemuka dalam Pembekalan Penerima Beasiswa Dana Abadi Universitas Brawijaya Semester Ganjil 2026 di Ruang Sidang Gedung Rektorat Lantai 8, Sabtu, 3 Oktober 2026. Kegiatan ini membahas kesiapan awardee menghadapi kehidupan setelah kampus, mulai dari karakter dan kepemimpinan hingga pengelolaan keuangan pribadi.

Salah satu pemateri, Ardantya Syahreza, S.E., Sekretaris Divisi Penghimpun Dana Abadi UB, menyampaikan paparan bertajuk Building the Entrepreneurial Mindset: Dari Penerima Beasiswa Menjadi Pencipta Peluang. Ia membuka sesinya dengan pertanyaan sederhana kepada para awardee: mengapa mereka berada di ruangan itu? Apakah mereka hadir karena keinginan dari dirinya sendiri?

“Beasiswa ini adalah berkah dan kepercayaan. Cara menghormatinya adalah mengambil tanggung jawab atas hidup sendiri, terus belajar, dan mulai menciptakan manfaat bagi orang lain,” demikian inti pesan yang ia sampaikan kepada para awardee.

Tanggung Jawab Ada pada Diri Sendiri

Ardantya mengingatkan bahwa mahasiswa tidak harus langsung mengetahui seluruh arah kariernya, menjadi pengusaha, atau mencapai keberhasilan besar saat masih kuliah. Mereka dapat mulai dengan membangun kemampuan, mengenali persoalan di sekitar, dan mengambil langkah yang berada dalam kendali mereka.

Dukungan beasiswa dapat membuka pintu. Dosen, keluarga, dan teman dapat membantu sepanjang perjalanan. Namun, keputusan untuk belajar, mencoba, memperbaiki kesalahan, dan melangkah maju tetap berada pada diri mahasiswa.

Pandangan tersebut menjadi dasar materi entrepreneurial mindset yang ia bawakan. Bagi Ardantya, pola pikir kewirausahaan tidak hanya diperlukan oleh orang yang ingin mendirikan perusahaan. Dokter, insinyur, peneliti, pegawai, pekerja sosial, maupun pemimpin organisasi dapat menerapkannya dalam bidang masing-masing.

Intinya adalah membiasakan diri melihat kebutuhan atau masalah, mengambil inisiatif, mengusulkan solusi, mengujinya dalam skala kecil, lalu belajar dari hasilnya.

IPK Perlu Berjalan Bersama Karakter

Dalam paparannya, Ardantya juga membahas tantangan yang akan dihadapi mahasiswa setelah lulus. Persaingan mencari pekerjaan semakin ketat. IPK yang tinggi merupakan pencapaian akademik yang penting, tetapi lingkungan profesional juga menilai bagaimana seseorang bekerja bersama orang lain dan menjalankan tanggung jawab.

Kemampuan menyampaikan gagasan dengan jelas, mendengarkan kebutuhan orang lain, menerima masukan, menghargai waktu, menjaga sikap, dan menuntaskan pekerjaan ikut membentuk kepercayaan. Keterampilan tersebut dapat dilatih jauh sebelum mahasiswa mengikuti wawancara kerja, antara lain melalui tugas kelompok, organisasi, kepanitiaan, magang, dan kegiatan sosial.

“Salah satunya melalui penguatan soft skill dan karakter. Capaian akademik yang tinggi perlu diimbangi dengan kemampuan leadership, bekerja sama, berkomunikasi, serta membangun relasi dengan orang lain,” tegas Ardantya.

Ia menggambarkan dua lulusan dengan nilai akademik yang sama baik. Salah satunya menguasai teori, tetapi sulit bekerja sama dan selalu menunggu instruksi. Lulusan lain juga terus belajar, namun terbiasa bertanya apa yang dapat ia bantu, mendengarkan sebelum menjawab, serta menuntaskan tugas yang dipercayakan kepadanya. Perbedaan sikap itu dapat memengaruhi kepercayaan yang mereka peroleh.

“Di perusahaan, kami akan lebih memilih teman-teman yang mau belajar dan mau kerja keras daripada yang sudah pintar tapi tidak bisa bekerja sama,” ujarnya.

Karena itu, mahasiswa diajak menilai perkembangan dirinya dengan pertanyaan yang lebih luas daripada nilai akademik: apakah ia mampu menjelaskan ide dengan baik, sungguh-sungguh mendengarkan, menepati janji, dan membuat timnya bekerja lebih baik?

Empat Fondasi Entrepreneurial Mindset

Ardantya merangkum pola pikir kewirausahaan dalam empat fondasi.

Pertama, kejelasan tujuan. Mahasiswa tidak perlu memastikan jabatan yang akan dipegang sepuluh tahun mendatang. Mereka dapat mulai dengan bertanya kemampuan apa yang ingin dibangun, persoalan siapa yang ingin dibantu, dan mengapa hal itu penting. Tujuan yang jelas membantu mereka memilih kesempatan belajar yang bermakna.

Kedua, mengambil tanggung jawab. Mahasiswa tidak dapat mengendalikan seluruh keadaan ekonomi ataupun keputusan orang lain. Mereka tetap dapat menentukan cara mempersiapkan diri, merespons penolakan, mencari masukan, dan memperbaiki kemampuan.

Ketiga, berinisiatif. Ketika menemukan masalah, langkah awal dapat berupa mendengarkan orang yang mengalaminya dan mengajukan ide sederhana. Inisiatif terlihat ketika seseorang bersedia mencoba, tanpa selalu menunggu tugas atau jabatan resmi.

Keempat, daya juang. Semangat never give up berarti terus belajar ketika percobaan pertama belum berhasil. Mahasiswa perlu memahami alasan sebuah ide belum bekerja, mengubah pendekatan, meminta bantuan bila diperlukan, dan mencoba lagi dengan pengetahuan yang lebih baik.

Keempat fondasi itu menghubungkan tujuan pribadi dengan tindakan. Mahasiswa diajak menjadi lebih peka terhadap kebutuhan di sekitarnya, lalu berani memulai dari masalah yang dapat mereka pahami.

Memulai dari Modal yang Sudah Dimiliki

Ardantya menanggapi anggapan bahwa menciptakan peluang selalu harus dimulai dengan uang. Pendanaan dapat diperlukan ketika sebuah usaha berkembang. Namun, langkah awal untuk menghasilkan manfaat bisa dimulai dari pengetahuan yang dipelajari, kemampuan yang diasah, waktu, perhatian, dan kesediaan untuk mengamati.

Ia mengajak awardee mengikuti proses sederhana: mengamati persoalan, mendengarkan orang yang mengalaminya, memahami kebutuhan mereka, mengajukan ide, menguji solusi kecil, lalu memperbaikinya.

Contohnya dapat ditemukan dalam berbagai bidang studi. Mahasiswa pertanian dapat berbicara dengan petani dan pembeli ketika melihat hasil panen sulit terserap. Mahasiswa kesehatan dapat membantu menyusun informasi kesehatan yang lebih mudah dipahami, dengan memeriksa akurasinya bersama tenaga yang kompeten. Mahasiswa teknik, sosial, atau ekonomi juga dapat mengamati proses yang menyulitkan sebuah komunitas dan menawarkan perbaikan yang sesuai dengan kemampuan mereka.

Langkah tersebut mungkin belum menghasilkan usaha baru. Namun, pengalaman mendengarkan, menyelesaikan persoalan, dan bekerja bersama orang lain akan membangun kemampuan sekaligus kepercayaan.

Kepemimpinan Tumbuh dari Kepercayaan

Bagi Ardantya, jiwa kewirausahaan berkaitan erat dengan kepemimpinan. Sebuah gagasan membutuhkan orang yang mau memberi masukan, bekerja sama, dan mempercayakan tanggung jawab. Pengaruh karena itu dibangun melalui tindakan yang membuat seseorang dapat diandalkan.

Mahasiswa dapat mulai memimpin dalam kelompok kecil: memberi ruang bagi anggota yang belum berbicara, membantu tim menyepakati langkah berikutnya, menuntaskan bagian tugasnya, serta mengakui dan memperbaiki kesalahan.

Ardantya, alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis UB, juga menilai pengalaman organisasi sebagai ruang latihan yang penting. Kegiatan di luar kelas memberi mahasiswa kesempatan menghadapi perbedaan pendapat, membagi pekerjaan, dan bertanggung jawab atas hasil bersama.

“Akademis itu satu hal penting pada waktu lulus. Tapi pada waktu kerja, kalau dia punya pengalaman sosial atau organisasi, pernah memimpin, itu akan jauh lebih menunjukkan bahwa dia orangnya proaktif,” ucapnya.

Kepercayaan tidak dibangun dalam satu kegiatan. Reputasi tumbuh dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten. Ketika seseorang terbukti dapat diandalkan, ia akan lebih siap menerima tanggung jawab yang lebih besar.

Literasi Keuangan untuk Menopang Kemandirian

Selain karakter dan kepemimpinan, pembekalan ini mengangkat pengelolaan keuangan pribadi. Alifa Gina Maharani, Mutual Fund Product Campaign Specialist Trimegah Sekuritas, membahas kebiasaan menabung, dasar-dasar investasi, serta cara mahasiswa memahami arus uang yang mereka kelola.

“Harapannya ketika nanti mereka sudah lulus dan bekerja, mereka sudah mempunyai bekal bagaimana mengelola keuangan, bagaimana cara menabung yang benar, dan bagaimana mengoptimalkan penghasilan yang mereka dapatkan,” ujar Alifa.

Menurutnya, kebiasaan menabung dapat dimulai dari nominal kecil. Konsistensi membantu mahasiswa membangun disiplin yang kelak berguna ketika mereka mulai memperoleh penghasilan sendiri.

“Mindset untuk menabung dan berinvestasi itu harus dibangun dan dibiasakan sejak dini, dari nominal yang kecil. Kalau dari uang yang sedikit saja kita tidak terbiasa menabung, ketika nanti memegang uang yang lebih besar justru akan semakin sulit,” jelasnya.

Alifa juga mengajak mahasiswa membedakan kebutuhan dan keinginan, mencatat sumber dana, serta memetakan pengeluaran. Dengan mengetahui dari mana uang berasal dan ke mana uang digunakan, mahasiswa dapat menyusun prioritas tanpa mengabaikan kebutuhan utama selama kuliah.

Pengetahuan dasar tentang investasi turut membantu mereka menilai tawaran keuangan secara lebih kritis dan mengenali potensi penipuan atau investasi bodong.

Satu Masalah, Satu Langkah dalam Tujuh Hari

Menutup paparannya, Ardantya memberi para awardee tantangan yang dapat segera dilakukan. Dalam tujuh hari, mereka diminta menuliskan satu masalah nyata di sekitarnya, berbicara dengan sedikitnya dua orang yang mengalaminya, lalu melakukan satu langkah kecil. Langkah itu bisa berupa rancangan awal, percobaan sederhana, ajakan bekerja sama, atau usulan perbaikan kepada pihak yang tepat.

Target tersebut tidak menuntut hasil besar dalam waktu singkat. Tujuannya adalah melatih mahasiswa untuk melihat persoalan, mendengarkan, dan bertindak berdasarkan apa yang mereka pelajari.

 Berdasarkan bahan pemberitaan kegiatan, program Beasiswa Dana Abadi UB telah memberi manfaat kepada 124 mahasiswa.

Melalui dukungan pendidikan dan pembekalan ini, para awardee diharapkan dapat menjaga prestasi akademik sambil mengembangkan karakter, kemampuan bekerja bersama, inisiatif, dan kemandirian finansial. Kepercayaan yang mereka terima hari ini menjadi lebih bermakna ketika kelak hadir dalam karya serta manfaat bagi orang lain.

Disusun dengan menggabungkan materi paparan Ardantya Syahreza dan bahan pemberitaan BACAMALANG.COM serta TIMES Indonesia mengenai Pembekalan Penerima Beasiswa Dana Abadi UB, 3 Oktober 2026.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar