Kamis, 01 Maret 2012

MENYUARAKAN MEREK

Majalah BESTLIFE
Edisi Maret 2012

"MENYUARAKAN MEREK"
 my style : Ardantya Syahreza



Pria asli Malang ini kembali membangun bisnis komunikasi pemasarannya dengan lebih hati-hati setelah 'habis-habisan' dan lepas kendali.

Pria berkacamata itu tersenyum ketika menjelaskan bagaimana kabar perusahaan komunikasi pemasaran miliknya saat ini. "Sejak berdiri bulan September 2005, kami sempat naik turun, kemudian melaju setelah mendapat suntikan dana tambahan dan akhirnya jatuh di pertengahan tahun 2008. Kami sempat habis karena saya terlalu banyak eksplorasi dan tidak fokus. Istri saya sampai terlibat membantu kantor saya waktu itu", ujar Ardantya Syahreza, CEO PT Marketing Komunikasi Indonesia (MKI).

"Sekarang kondisinya bagus. Kami sedang menangani beberapa perusahaan consumer goods yang menjadi klien setia kami", ujarnya dengan bersemangat.

Tetapi meskipun MKI sudah mulai bangkit dan berlari, Ardantya tidak ingin membawa perusahaannya untuk lebih besar. "Saya tidak ingin perusahaan ini terlalu besar karena industrinya cukup kompetitif. Jadi saya sengaja membuatnya kecil, ramping, efisien dan prudent. Yang penting stay healthy," ujar pebisnis yang juga menggenggam 3 outlet waralaba kuliner yang sedang naik daun, Bakso Kota Cak Man; cabang Plaza Semanggi (lantai 3A), cabang Cibubur Junction (lantai LG), dan cabang Margo City (lantai 2 Food Court).

"Semua bisnis yang menonjolkan kreatifitas dan brand communication, sangat menarik bagi saya. Dalam bisnis komunikasi pemasaran seperti saat ini contohnya, kita dituntut untuk selalu kreatif kalau tidak mau dilibas oleh kompetitor."

Kamis, 26 Januari 2012

AIESEC Teach Marketing Skills to Students

http://prasetya.ub.ac.id/berita/AIESEC-Teach-Marketing-Skills-to-Students-6487-en.html


AIESEC Teach Marketing Skills to Students

Print version PDF version RTF version
Submit by humas3 on November 28, 2011 | Comment(s) : 0 | View : 596
AIESEC teach marketing skill to students

AIESEC teach marketing skill to students


AIESEC (Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales) teach marketing skills to students. Related to that, on Saturday (26/11) a marketing training entitled "Indonesian and Global Trend Need You, Young Marketer" is held. The event, held in Hotel UB, is attended by student representatives from various universities in East Java and Yogyakarta.

In his presentation "What You Can Get from Campus to Become Marketing Professional", Djanalis Djanaid stressed that the ability of a business is decided by marketing skill. According to him, marketing has several functions, such as merchandising, buying, selling, branding/standardization, storage and ware housing, transportation, finance, communication, and risk taking. To be a professional marketer, he convey the importance of special skill such as mastery of concept, art in the concept implementation, good mental attitude, and negotiation skill. Furthermore he specifically described the negotiation skill that should be possessed by a marketer. For the success of negotiation, he advised three strategy; time strategy, communication strategy, and message technique strategy.

Marketing theory is also explained by speaker from PT. Marketing Komunikasi Indonesia, Ardantya Syahreza. According to Ardantya, the core of marketing is about understanding what the people needs. "Marketing is the effort to understand market prospect in creating products and services with added value", he said. The process covers segmenting, targeting and positioning statement.

Testimonials and success story of marketing is then presented by two speakers from PT. Bogasari Flour Mills, Tbk and PT. Astra International, Tbk. Interviewed by PRASETYA Online, head of committee Karisma K. Viranata said that the training is aimed to improve marketing potentials of the youth generation to be young marketers. For the students, according to her, marketing skill is not only needed when working. By aiming for fresh graduate, she also expects that the participants at least able to market themselves when applying for works. [nok]

Senin, 24 Oktober 2011

MENJAMURNYA BISNIS WARALABA

MENJAMURNYA BISNIS WARALABA
(LIVE ON BERITA SATU TV , 21 OKTOBER 2011)
Speakers:
Ardantya Syahreza (Pengusaha Waralaba)
Tri Raharjo (Pemimpin Redaksi Info Franchise)

Hadir di Berita Satu TV

Sebagai media terdepan dalam bisnis franchise, kami sudah jadi rujukan banyak pihak terkait dengan perkembangan dan peluang bisnis franchise di Indonesia. Terkait hal tersebut, pada 21 Oktober silam Majalah Info Franchise mendapat kesempatan tampil di acara Jurnal pagi, Berita Satu TV (sebelumnya Q-Channel), sebuah televisi berbayar (pay tv) melalui First Media. Anda juga bisa menikmati live streaming BeritasatuTV di beritasatu.com.

Dalam acara tersebut, Tri Raharjo, Pemimpin Redaksi Majalah Info Franchise, dan Ardantya Syahreza, franchisee Bakso Malang Cak Man, didaulat menjadi narasumber. Tema yang diangkat juga menarik, “Menjamurnya Bisnis Waralaba”. Pada kesempatan itu, Tri Raharjo memaparkan berbagai peta market dari waralaba asing dan lokal, syarat bisnis franchise, potensi dan peluang berbisnis franchise. Sementara Ardantya Syahreza lebih menyoroti alasan mengambil bisnis franchise, tantangan dan hambatan di bisnis franchise, serta keuntungan berbisnis melalui franchise. Dipandu oleh Prima host dari Berita Satu makin menambah hangatnya perbincangan “Menjamurnya Bisnis Waralaba”.




DIALOG TRENTOP PAGI SABTU, 221011


TEMA : MENJAMURNYA BISNIS WARALABA 
BISNIS WARALABA MEMILIKI POTENSI YANG SEMAKIN MENJANJIKAN // ASOSIASI FRANCHISE INDONESIA MENCATAT / OMZET WARALABA KESELURUHAN MENCAPAI 114,6 TRILIUN RUPIAH PADA TAHUN 2010 // SEDANGKAN TAHUN 2011 DIPERKIRAKAN NAIK MENJADI 135,4 TRILIUN RUPIAH //

BAGAIMANA PERSAINGAN DUNIA WARALABA? APA SAJA PELUANG DAN HAMBATANNYA?   

KAMI SUDAH MENGHADIRKAN TRI RAHARJO / PENGAMAT BISNIS WARALABA DAN PENGUSAHA WARALABA YANG SUDAH BERKECIMPUNG DALAM BISNIS INI SELAMA LEBIH DARI LIMA TAHUN / ARDANTYA SYAHREZA//


ATURAN YANG MEMPERSEMPIT
DAMPAK KRISIS GLOBAL THD BISNIS WARALABA
WARALABA ASING NAIK 100 PERSEN DAN MAKIN PESAT DI TAHUN 2012
ANTISIPASI THD WARALABA ASING


SEGMEN 1 : WARALABA ASING VS LOKAL


TRI RAHARJO :
   1.  WARALABA ASING VERSUS LOKAL, BAGAIMANA PERSAINGANNYA?
"Sebenarnya, waralaba asing dan waralaba lokal memiliki pasar yang berbeda di pasar Indonesia ini."

   2.  WARALABA LOKAL APA YANG DOMINAN? MENGAPA?
"Yang saya lihat berkembang sekarang adalah didominiasi oleh waralaba food and beverage"

ARDANTYA SYAHREZA :
   1.  WARALABA APA YANG ANDA JALANKAN? (TIDAK USAH MENYEBUTKAN BRAND, SEBUT SAJA WARALABA MAKANAN BRAND LOKAL)
-----
"Saya sudah 5 tahun lebih ini menjalankan sebuah usaha waralaba makanan bakso atau bakwan dari kota Malang".
-----

   2.  BERAPA BESAR MODAL AWAL? BERAPA LAMA WAKTU PENGEMBALIAN MODAL?
---
"Modal terdiri dari:
1. Biaya Franchise atau license menggunakan merek tsb, sistem dan supportnya selama sekian tahun. Saya 5 tahun. Pada tahun 2005 habis 50 juta utk 5 thn.
2. Biaya Down Payment sewa tempat, around 50 juta.
3. Biaya renovasi tempat around 50 juta
4. Sisa 50 juta untuk pembelian perangkat dan kas awal.
200 juta.
Dan alhamdulillaah bisa BEP selama 1.5 tahun."

   3.  BERAPA GERAI YANG SUDAH ANDA MILIKI?
------------
"Saya saat ini memiliki 2 gerai. Di Plaza Semanggi lantai 3A dan di Cibubur Junction LG. Akan buka lagi Desember, di Margo City Depok.
Sebelumnya pernah buka di Kemang Food Fest, Blok M Plaza, dan Sabang, tapi kurang beruntung :)"

   4.  APA ALASAN ANDA MEMBELI WARALABA LOKAL?
-----
"Tidak ada alasan khusus.
Saya mengambil waralaba lokal ini yg notabene dari kota Malang, kota masa kecil saya, adalah karena saya tahu sebagai produk bakwan Malang , memang yg paling enak.
Dan, melihat Jakarta yg dipenuhi pendatang, dan sudah dikepung dg berbagai macam gerai makanan fast food dan brand luar, mereka (konsumen/pasar) ada kerinduan utk mencari bakwan yg 'kampung'.
Ya udah, peluangnya ada, maka saya ambil. Dan Alhamdulillaah benar.
"

   5.  BAGAIMANA PERSAINGANNYA? APAKAH WARALABA ASING MENYULITKAN BISNIS ANDA?

---
"Justru tidak.
Masyarakat Jakarta punya demand dan waktu sendiri untuk brand2 makanan asing, dan ada waktu sendiri untuk brand2 makanan lokal. Jadi tidak bersaing justru. Krn masyarakat ada alokasinya masing2.
Yang saya inginkan adalah menyamai ukuran bisnis dengan para waralaba asing tadi :)"
-----

SEGMEN 2 : TANTANGAN DAN HAMBATAN WARALABA



ARDANTYA SYAHREZA :

   1.  BERAPA LAMA ANDA MENJALANKAN BISNIS WARALABA?

"Sudah 6 tahun lebih."
   2.  APA YANG PALING MENANTANG DARI BISNIS INI?

"Bagaimana menyediakan sebuah produk lokal atau 'kampung' dan menyediakannya ke sebuah lingkungan urban, harus lebih modern, tapi tidak boleh kehilangan identitasnya sebagai makanan lokal. Nah, menjaga keseimbangan itu yg tidak mudah.
Selain itu, bagaimana kita juga berkreativitas untuk mencari peluang pasar, keinginan konsumen dan cara2 pendekatan apa saja yg kiranya efektif utk masing2 segmen: tua, muda, keluarga, anak kuliah, dst."

   3.  APA SAJA HAMBATANNYA?
----
"Hambatan adalah pada franchisornya.
Adalah di mana sebuah pemilik merek franchise atau franchisor tidak dapat memberikan support yg maksimal.
Dlm pengalaman saya adalah kurangnya support program marketing, sdm, quality control, keuangan dan akuntansi. Jadinya, kita ini franchisee kalau tidak jago mencari cara sendiri, bisa stagnan bisnisnya.
Yang harus dicatat adalah:
Seorang franchisor tidak hanya cukup punya produk atau jasa bagus atau diterima pasar, tapi perlu juga sistem. "

   4.  BAGAIMANA ANDA MENJAGA BISNIS INI, KUALITAS ATAU KEUNIKAN WARALABA YANG ANDA KELOLA?
-----
"Dua-duanya.
Seperti Anda mengelola brand anda sendiri. Kualitas harus dijaga, begitu juga keunikan.
Yang lucu adalah, apabila franchisor tidak bekerja optimal utk menyamakan kualitas dari gerai satu dg yg lain, kita jadinya berjuang sendiri utk differentiate outlet2 kita dari outlet2 lain dg merek yg sama.
Kita gak mau dibilang di lokasi X merek ini kok gak enak, tapi di tempat saya enak. Nah, akhirnya persaingan kurang sehat kan."

ARDANTYA SYAHREZA :
   1.  APA SAJA YANG ANDA DAPATKAN MELALUI WARALABA?
------
"Produk makanan jadi atau koki ahli untuk membuat makanannya. Kemudian boleh menggunakan mereknya selama masa waralaba."
   2.  APA KENDALA BERAT YANG MASIH ANDA HADAPI?
----
"Yg saya sampaikan tadi. Berjuang sendiri.
Maunya kalau udah beli waralaba itu kan maunya udah enak, udah ada sistem, disupport, bekerja bersama.
Pada saat itu tidak ada, kita harus kerja ekstra keras utk create segala macam program promosi khusus utk outlet kita, quality control sendiri, rekrut SDM sendiri, dll."

   3.  APA KIAT ANDA UNTUK MENJAGA KELANGSUNGAN WALARABA ANDA?
-------
"Jaga kualitas dan reputasi.
Terus ciptakan interaksi atau program promosi dg customer. Treat ini seperti merek yg Anda kelola."

   4.  TERKAIT MASUKNYA SEMAKIN BANYAK WARALABA ASING, APA STRATEGI ANDA?
------
"Nggak ada strategi khusus. Mungkin malah mencoba mencontoh dan belajar dari gerakan2 mereka. Supaya kita juga bisa besar spt mereka.
"

   5.  ANDA AKAN MENCOBA WARALABA LAIN? MENGAPA?
-----
"Why not?
Waralaba atau tidak, yg penting ada peluangnya atau tidak, customer mau atau tidak.
Kalau ada peluang, ya masuk lagi lah. Apalagi kalau kita gak terlalu bisa membuat atau melakukan jasanya, atau apalagi kalau brandnya sudah memberikan jaminan mutu dan sudah punya pasar besar.
Begitu."


Contact Person:
Ardantya Syahreza
Twitter : @ardansyahreza 

Dari Marketing Researcher Sampai Berjaya sebagai Company Owner (ARDANTYA SYAHREZA)


DARI MARKETING RESEARCHER SAMPAI BERJAYA SEBAGAI
COMPANY OWNER
---------------------------------------------------------------------------
Ardantya Syahreza
(market+ magazine , Oktober 2011, page 21)

Sosok suami dan bapak dua anak ini tak lain merupakan pengusaha muda yang berjaya di bidang pelayanan komunikasi pemasaran dan bisnis restoran. Lahir di Jakarta, 20 Desember 1976, kini Ardantya Syahreza menjabat sebagai CEO PT Marketing Komunikasi Indonesia (MKI), agensi komunikasi pemasaran yang didirikannya pada tahun 2005 silam. Tak hanya itu, pria jebolan Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya ini juga sukses menempati posisi Chairman AIESEC Indonesia Alumni Organization. Lalu, di bidang kuliner, ia merupakan sosok penting di balik kesuksesan K-Food Indonesia dengan Bakso Kota Cak Man-nya dengan cabang ada di Plaza Semanggi lantai 3A, Cibubur Junction LG dan akan dibuka di bulan Desember 2011, di Margo City Depok.

Ardantya Syahreza mengawali karirnya sebagai Marketing Researcher di ACNielsen Indonesia. Dengan memfokuskan diri pada riset-riset kualitatif untuk pemahaman dan pendalaman konsumen, ia melanjutkan karir risetnya di Exquisindo Global Research. Tak puas mengangani Indosat, Telkom Indonesia, HM Sampoerna, Honda, Daihatsu, ABC President dan klien-klien lainnya, Ardantya Syahreza mulai menggeluti bidang lain; yaitu sebagai Business Development Manager di DDB Indonesia, sebuah perusahaan periklanan multinasional global ternama. Ia pun mulai menjamah pekerjaan pengembangan strategi komunikasi pemasaran berbasis consumer insights.

Tak sampai disitu, pada tahun 2005, Ardantya Syahreza mengibarkan dua bendera sekaligus; PT Marketing Komunikasi Indonesia dan K-Food Indonesia.

Pengusaha muda yang tergabung dalam HIPMI sejak 2007 lalu ini mengoperasikan PT MKI dalam dua divisi; EXIGO (http://www.createbrandexperience.com/ atau www.mki-group.com/exigo) , agensi yang berfokus pada brand activation, dan Cauldron Research (www.mki-group.com/cauldron_research) yang mendedikasikan diri di bidang riset pemasaran.

Kini PT MKI di bawah naungannya telah menangani Bank Central Asia (BCA), Hutchison Telecom Indonesia, Kalbe Farma, Nestle Indonesia, Danone Dairy Indonesia, Kraft Foods Indonesia, Sari Husada, Abbott, Mercedes-Benz, BMW Indonesia, LG Electronics, Ranch Market, Produgen, Garudafood, Kidzania Jakarta, Exelcom Indonesia dan klien-klien ternama lainnya.

Ardantya Syahreza telah memutuskan untuk terus berkontribusi dan menginspirasi lewat karirnya di bidang business of brand marketing communication, marketing research, events & sales promotion dan food culinary.


Contact Person:
ARDANTYA SYAHREZA
Twitter : @ardansyahreza

Senin, 05 September 2011

Minal Aidin Wal Faidzin : "Lebaran adalah Hati yang Baru, bukan Show Off Barang Baru"

Jakarta, 1 September 2011

Di hari Idul Fitri ini, saya dan sekeluarga mengucapkan Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Semoga kita semua telah melewati bulan Ramadhan dan Idul Fitri dengan khusyuk dan menemukan banyak pembelajaran sehingga menjadi manusia yang lebih baik di masa mendatang.

Berikut adalah sedikit sharing kami di koran INDOPOS, 1 September 2011.
"Lebaran artinya memiliki Hati yang Baru, bukan memiliki Barang Baru untuk di Show Off"


koran INDOPOS, 1 September 2011


"Tidak ada persiapan apa-apa bagi kami sekeluarga di Lebaran ini. Hanya siap-siap saja ditinggal oleh para pembantu dan baby sitter pulang kampung".
"Setiap lebaran kami pada umumnya berlebaran di Jakarta, karena nenek dan ibu mertua saya ada di Jakarta. Orang tua saya dari Malang juga biasanya akan berlebaran di Jakarta karena keluarga pada umumnya ada di Jakarta"

Lebaran adalah suatu momen yang 'memaksa' kita untuk dapat memaafkan dan meminta maaf pada orang lain. Ibadah kita di bulan Ramadan satu bulan penuh dan di Idul Fitri, semuanya adalah satu kesatuan.
Ini adalah suatu pelatihan buat kita untuk menjadi manusia yang lebih baik. Manusia yang sabar, taqwa pada Allah SWT, terkontrol, lebih tenang dan rendah hati (karena menyadari besarnya kuasa Allah SWT).

Lebaran bagi keluarga kami bukan berarti harus semua baru dan berfoya foya. "Jadinya malah jadi riya' kan?"
 Jadi tips untuk mengelola keuangan pada waktu lebaran adalah hilangkan persepsi di Lebaran itu harus selalu beli barang baru.

Selain itu, justru di bulan Ramadhan ini , orang harusnya bisa menabung lebih karena telah menerima THR (Tunjangan Hari Raya). "Simpan saja dananya dan diinvestasikan untuk membeli rumah, emas, tanah atau aset lainnya".

"Kita harus tahu, bahwa lebaran itu artinya hati kita yang harus baru, bukan punya barang baru".

Rabu, 15 Juni 2011

Gabungkan Brand Activation dan Research

Gabungkan Brand Activation dan Research
(Koran INDOPOS, Rubrik Bisnis, 14 Juni 2011, hal. 15)




Koran INDOPOS, 14 Juni 2011, hal. 15




Pintar mencari peluang usaha adalah salah satu kunci kesuksesan. Itu yang dikatakan Ardantya Syahreza, CEO MKI Group dan anggota pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia DKI Jakarta dan Jakarta Timur ini. Seperti apa?

Ardantya Syahreza atau disapa Dacil mengaku melihat peluang bisnis brand activation yang belum banyak dijamah para pengusaha. "Saya baru mendirikan perusahaan sendiri pada 2005 lalu, masih baru ya?", kata CEO PT Marketing Komunikasi Indonesia (MKI Group) itu di areal booth MKI Group pada saat mengikuti pameran di ICC (Jakarta, 8-12 Juni 2011) yang lalu.
Dia mengaku pada saat itu belum banyak pengusaha yang membuka perusahaan marketing komunikasi yang memiliki jasa brand activation.

"Pada era tahun 1990-2000-an", lanjut Dacil, "banyak produsen atau perusahaan mengemas komunikasi iklannya melalui Televisi. Semakin banyak pemainnya, konsumen menjadi jenuh", kata Dacil.
Akhirnya dia mencoba mencari peluang baru. "Saya mulai mencoba bergeser, mengemas komunikasi pemasaran merek ke dalam berbagai macam jenis aktivitas below-the-line misalnya exhibition, talk show, in store promo, launching, community, sampling dan school to school", terangnya.

Saat ini, sudah mulai banyak perusahaan yang bergerak di bidang Event Organizer maupun brand activation. Namun, belum ada perusahaan yang menggabungkannya dengan sebuah research unit.
Dengan adanya sebuah research unit, activation idea dan communication strategy yang ditawarkan menjadi lebih tajam dan mengena consumer insights-nya. Tentunya ini akan berdampak pada tingkat keberhasilan dari program activation dan marketing brand tersebut.

Pria yang pernah bekerja di perusahaan ACNielsen tersebut mengaku MKI Group pernah menangani beberapa client kunci seperti BCA, Nestle, BMW, Kidzania, Danone, Kalbe Farma, Sari Husada, Mercedes-Benz, Kraft Indonesia, Hutchison Telecom, Garudafood, Toshiba, Sari Segar Alami (Country Choice) dan beberapa klien blue -chip lainnya.

Ke depannya, Dacil menambahkan, persaingan bukan masalah besar. "Selama kita selalu mengikuti trend perilaku konsumen, termasuk di mana saat ini perilaku online dan mobile yang harus diikuti oleh pendekatan brand activation online and mobile, kita tidak usah khawatir", imbuh Dacil.
Serta tentunya secara konsisten diperlukan penelitian pasar dan pengenalan konsumen secara terus menerus dan lebih dalam.


(INDOPOS, Selasa, 14 Juni 2011)

Selasa, 07 Juni 2011

Ardantya Syahreza in ENTREPRENEUR TV at TVOne (June 4th, 2011 - 8.30AM)



"Menjadi seorang Entrepreneur yang baik, memerlukan proses. Ada proses gagal coba yang berulang kali untuk menyempurnakan kemampuan kita untuk melihat peluang yang baik dan cocok, atau tidak. Perlu pengalaman juga untuk mengetahui keseimbangan yang bagaimana agar kita dapat terus melaju."
 (Ardantya Syahreza)

"Menjadi seorang Entrepreneur harus selalu konsisten membuka mata, telinga, hati dan pikiran untuk menerima masukan dan mempelajari segala hal di sekitar kita. Baik itu yang baik maupun tidak. Karena tugas kita adalah mencari opportunity / peluang dan kemudian mengolahnya menjadi suatu usaha yang berhasil dan memberikan perubahan yang baik"
(Ardantya Syahreza)

"Menjadi Pengusaha harus Fokus dan Tekun. Jangan mudah menyerah. Tipsnya adalah; Anda harus menyenangi apa yang Anda kerjakan terlebih dahulu, sehingga ketahanan mental dan passion akan terus terjaga"
(Ardantya Syahreza)


"Apabila Anda memang menyenangi kebebasan berinsiatif dan memprakarsai ide-ide, memilih mengambil resiko dan konsekuensinya daripada mengikuti agenda / aturan orang lain, maka ambil profesi  menjadi seorang Entrepreneur"
(Ardantya Syahreza)



"Menjadi seorang pengusaha memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi segala bentuk kemungkinan usaha. Ikuti saja intuisi itu. Namun, tetap ada batasnya dimana itu akan ditemukan setelah kita mencobanya. Biasanya pengusaha pemula akan getol mengeksplorasi, namun lama-lama akan menemukan mana yang cocok buatnya"
(Ardantya Syahreza)

"Semakin sukses kita sebagai Entrepreneur, seharusnya akan membawa sukses juga untuk orang lain. Karena apa yang kita bangun dan lakukan adalah mengembangkan usaha. Manfaat tersebut seharusnya akan semakin dirasakan oleh para karyawan kita, keluarga karyawan kita dan juga customer kita."
(Ardantya Syahreza)



"Perbedaan menjadi karyawan dan entrepreneur adalah; kebebasan dalam mengeksplorasi atas inisiatif kita yang tidak kita dapatkan apabila menjadi seorang karyawan"
(Ardantya Syahreza)

"Menjadi seorang Entrepreneur adalah artinya kita telah memberanikan diri untuk mengambil tanggung jawab sebagai seorang Change Leader yang akan membawa perubahan yang baik bagi lingkungan dan masyarakat"
(Ardantya Syahreza)