Kamis, 31 Maret 2022

Persada Hospital Dukung Malang Medical Tourism

Persada Hospital Dukung Malang Medical Tourism
Malang, 1 April 2022 


Mengutip pernyataan dari Presiden Joko Widodo pada Desember lalu bahwa setiap tahunnya, lebih kurang 2 juta masyarakat Indonesia pergi ke luar negeri untuk berobat. Jika dikalkulasikan, Indonesia kehilangan hampir Rp 100 triliun karena hal tersebut. Masyarakat lebih gemar pergi ke Thailand, Singapura, Malaysia, hingga Jepang. Berdasarkan hasil riset Patients Beyond Borders, alasan masyarakat Indonesia melakukan pengobatan ke luar negeri adalah kurangnya mutu pelayanan dan pengawasan kesehatan di Indonesia, kecanggihan teknologi dan obat-obatan, serta akomodasi rumah sakit luar negeri yang lebih menyenangkan. Untuk itulah, industri kesehatan di Indonesia perlu mengembangkan inovasi dan layanan berstandar internasional, salah satunya adalah Medical Tourism.


Wakil Direktur Persada Hospital, Ardantya Syahreza  menjelaskan bahwa, “Medical tourism dalam negeri perlu dikembangkan karena masih banyaknya masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri dengan total pengeluaran hampir mencapai US$11,5miliar/tahun atau setara dengan Rp. 165triliun/tahun. Hal ini menjadi latar belakang mengapa industri kesehatan dan industri pariwisata perlu membangun ekosistem baru yaitu Medical Tourism Indonesia.”


Arahan dari Presiden Jokowi tersebut adalah sebuah dorongan kepada industri kesehatan di Indonesia untuk melakukan perubahan, yaitu rumah sakit bukan lagi sebuah fasilitas umum kesehatan yang hanya melayani customer umum, tapi juga harus mulai memikirkan untuk melayani customer VIP yang mencari layanan tanpa harus antre lama, nyaman, dan dilayani dengan baik. 

Industri kesehatan juga harus mampu bertransformasi dari sebuah layanan kesehatan yang hanya melayani pasien yang sakit menjadi sebuah layanan kesehatan yang juga melayani customer yang sehat. Hal ini dilakukan untuk menjaga kebugaran mereka dengan rajin melakukan medical check up, konsultasi gizi, dan menjaga kesehatan fisik dengan exercise teratur. Layanan kesehatan yang ditawarkan oleh industri kesehatan pun semakin lama harus semakin memenuhi kepuasan dan kenyamanan customer.

Seperti yang diketahui, Malang dikenal sebagai destinasi wisata dengan berbagai potensi.  Kita memiliki destinasi wisata alam seperti Gunung Bromo, pesona pantai selatan yang eksotis, coban, kampung heritage, theme park di Batu Secret Zoo, Dino Park, Hawai Waterpark, serta pilihan kuliner yang berlimpah. Hal ini sangat menguatkan konsep Malang Medical Tourism setelah industri kesehatan di Malang bergabung, salah satunya adalah Persada Hospital.
 
Konsep Malang medical tourism ini, menjadi salah satu ide baru yang ada di Jawa Timur yang bisa dibanggakan secara nasional dan mampu menambah kontribusi ekonomi Industri Pariwisata Indonesia.
Menyambut semangat medical tourism pertama di Malang Raya, Persada Hospital menyediakan berbagai paket medical tourism lengkap bagi berbagai kalangan, mulai dari komunitas pencinta olahraga, keluarga muda, hingga pasangan manula.  Adapun paket-paket tersebut merupakan produk kesehatan yang terbagi dalam pemeriksaan diagnostik (medical check up) dan tindakan operasi. Produk kesehatan tersebut dimiliki oleh beberapa Center of Excellence Persada Hospital.


Masyarakat yang ingin mendapatkan bentuk tubuh sempurna dan kecantikan yang tak lekang oleh waktu, Aesthetic Center Persada Hospital siap hadir dengan weightloss program, blepharoplasty, operasi bariatrik (modifikasi saluran pencernaan) dan breast implant.
 
Bagi pasangan yang sulit mendapatkan buah hati, bisa langsung ke Fertility Center dengan program inseminasinya. 

Stroke Center Persada Hospital menyediakan paket lengkap Medical Check Up (MCU) Stroke Detection. 

Cardiac Center juga mampu melayani MCU Cardiac Health, kateterisasi jantung, dan tindakan operasi bedah jantung terbuka (CABG). 

Orthopaedic Center Persada Hospital dapat memberikan layanan ideal di bidang ortopedi, mulai dari permasalahan otot, tendon, ligament, dan tulang, didukung peralatan canggih untuk tindakan rekonstruksi ACL, serta total hip/knee replacement (penggantian sendi panggul/lutut).

Benefit yang didapat dari paket medical tourism dari Persada Hospital yaitu pendampingan selama Medical Check Up dari awal hingga selesai, ruangan khusus, dan pelayanan yang cepat dan nyaman selama di rumah sakit (VIP line). 
“Masyarakat nantinya bisa memilih untuk waktu program Medical Check Up saat melakukan medical tourism, bisa pada awal sebelum berwisata, akhir setelah berwisata, atau bahkan keduanya pun juga bisa. Nantinya, sambil menunggu medical check up, pendamping pasien bisa sambil santap kuliner di sekitar Malang atau menikmati berbagai atraksi wisata”, imbuh Ardantya.


Kolaborasi awal Malang Medical Tourism ini juga telah mendapat dukungan penuh dari Menteri Pariwisata Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Menparekraf), Dr. H. Sandiaga Salahuddin Uno pada acara Virtual Business Matching #2 pada hari Selasa (29/3) lalu, yang diadakan oleh BPPD kota Malang dan diikuti oleh 3 rumah sakit, salah satunya adalah Persada Hospital. Medical Tourism ini diharapkan dapat menjadi salah satu kontributor baru di bidang pariwisata untuk menambah pendapatan ekonomi nasional.

Persada Hospital selalu siap untuk masyarakat dan seluruh pihak yang menginginkan paket Medical Tourism dengan menghubungi via Whatsapp di nomor hotline Pemasaran Persada Hospital (0811-3112-3222)

Jumat, 04 Maret 2022

ARDANTYA SYAHREZA SHARES LEADERSHIP TIPS FOR MILLENIALS AND GEN Z’S: Ardantya Syahreza from Persada Hospital shares his leadership experiences in more than 25 years

Ardantya Syahreza is a multi-tasking guy who amazed us with his leadership achievements. He is a Deputy Director of Persada Hospital in Malang, East Java. His leadership experiences in handling 700 employees in his hospital's family business shouldn't be in doubt. In fact, he already learned about being leadership since he was a student at Brawijaya University. Ardantya was a President of AIESEC Indonesia who made him have frequent interaction with global young people to talk about global issues and how we can address the issues through youth exchange programs. You can also read more about him here.

Through an interview with The S Media, Ardantya gives us insight into how to be a successful leader at a young age. 


We call you a truly multitasking man as your businesses come from various industries. How do you sharpen your fresh ideas every day?

I have learned that in order to keep our ideas alive and up to date is by always learning and be open to anything new continuously. Being open means we put ourselves as a forever-student. We are not smarter than anyone, and we want to learn about everything.

I also think that younger generations are smarter than me, and I could learn about digital, startups, and anything new from them. 


Is this pandemic affecting you a lot in terms of productivity and your journey in the professional world? What do you think this pandemic could change millennials' path to leadership?

This pandemic definitely impacts our hospital business. As a hospital, of course, we have to cater the public health issues. But on top of the rush and crisis, Persada Hospital made to achieve more in 2021. When things are changing, we just need to ride on the waves. This will require speed to adapt and change. Not all organizations and leaders can make things happen in such a quick response. The winner is the one who can adapt the fastest. 

This pandemic will make our millennials more perseverant in facing problems and more creative to face challenges. It will make every millennial to be more adaptive and faster to adapt. 


As a leader, you must have experience in handling employees from gen Z or millennials. Is that difficult as we know that young employees today are considered more unruly and behave as they want?

Gen Z and Millenials mostly tend to take easy on things. They are not pushing things to the max. Therefore, in certain cases, leaders must show examples and create a reward-punishment system to create such productive culture among the gen Z and millennials. 

Photo Courtesy of Ardantya Syahreza

In order to keep ourselves relevant with the current times and even lead changes or transformations, we need to be fast in adopting new trends and new approaches. Well, to be honest, I am often attending webinars and reading various articles regarding digital, technology, organization transformation, leadership, and many more.


There are so many young generations today that have high eagerness to be a successful entrepreneur like you. But most of them are mood-swingers. How do you see this phenomenon?

Being an entrepreneur means being alone. Being an entrepreneur is being a human being who has a strong purpose and passion to work on certain issues. An entrepreneur is someone who can not live without any strong purpose. They will work hard to achieve the purpose and gather people and resources to make things happen.

I do not see the young generations are mood-swingers. They are really smart, instead. But, they do have to lack in their emotional quotient. How they can be more persistent and able to engage and respect people is something that young generations need to learn more.


Do you have such an inspiring mentor or role model that you admire? What is the most valuable lesson that you learned from him/her?

Mr. Benny Subianto – he is my uncle, an older brother of my father, who crawled his career from a salesman in United Tractors until become one of the 100 richest men in Indonesia. He passed away on January 4th, 2017. 


I admire him because I love the story behind all the career and business success that he achieved is what I admire from him. The value of working hard and building a reputation is what I learned from him. He was also a gentleman who likes to help people. He helped so many people no matter they treated him back in different ways. But I learned from him that doing good to others is the most precious asset in life. 

First, you need to have a strong idea to address any issues. In order to lead a company, we need to know how we want to be different and unique to address customers’ problems. Secondly, as a Leader, you need to have a strong will to achieve your vision. A strong attitude will lead to our persistence, a never-say-die person, and always try to find a way to make things happen.

Lastly, you are a leader who needs to learn from your team and also empower them to become the next leader. 

https://thesmedia.id/posts/ardantya-syahreza-shares-leadership-tips-for-millenials-and-gen-z-s

Minggu, 06 Juni 2021

What a work-from-home revolution means for commercial property


What a work-from-home revolution means for commercial property

As offices remain empty, does a financial reckoning loom?

Jun 3rd 2021

Offices these days are temples of indulgence as much as places of work. One Vanderbilt, a new skyscraper in Manhattan, has unveiled a restaurant run by Daniel Boulud, a Michelin-starred chef. Amazon’s second headquarters in Arlington, Virginia, will include an amphitheatre for outdoor concerts. In London, 22 Bishopsgate is so dog-friendly that its receptionists issue passes to pets. The recently opened glass tower, which dominates the City of London’s skyline, also houses a climbing wall and a spa.

As companies try to tempt workers back to the office, developers and investors are betting on new buildings with alluring amenities. But a huge uncertainty hangs over them: will enough people come? Even as vaccinations progress, workers have been slow to return. 

In early May only one in 20 buildings in America had occupancy levels above 10%, compared with a third in Europe and Africa, and roughly half of buildings in Asia, according to Freespace, a property-tech firm. With the return to work only just beginning, stimulus still in place and long leases yet to expire, the extent of any losses is worryingly hazy.

Covid-19 has sharpened the demand for newer buildings with better facilities. JPMorgan Chase, a bank, will reduce its overall office space even as it builds the second-tallest skyscraper in Manhattan for its new headquarters. More than half of tours across New York City by prospective tenants are of high-quality “Grade a” offices, compared with 38% before covid-19. This shift is happening alongside another disruption: a tilt towards greener workspaces. Energy efficiency and air-filtration systems are now seen as essential. Asset managers including BlackRock and Brookfield have pledged to get their assets to net-zero emissions by 2050 or sooner. Many property firms are pledging that all new buildings will be net-zero carbon. The shift towards wellness and sustainability is no fad, insists James Goldsmith of axa Investment Managers. “This isn’t a social experiment. We’re asset managers—pension money is at stake.”

Few in the industry, however, will be drawn on the reckoning they may face. The flight to quality is leaving older buildings looking undesirable just as remote working reduces the total demand for office space. Start with the risk that older buildings become stranded assets. Around half of Hong Kong’s premium stock and nearly two-thirds of commercial property in London were built more than 20 years ago. sl Green, Manhattan’s largest office landlord, says rents at its older properties are down by as much as 10%. Without substantially lower rents or improved ventilation, access to outdoor space or natural light, many will struggle to sell or attract tenants.

Some dated offices are getting facelifts. Fabrix, a developer, is upgrading a 1960s building in London to include a rooftop forest and a glass-floored infinity pool. Others will be converted into lab and research space, or houses. When aig, an insurer, moves to a recently renovated skyscraper in midtown Manhattan, part of its old headquarters, a tower block built in the 1980s, will be converted into flats. The City of London Corporation, which oversees the Square Mile, plans to turn vacant space into at least 1,500 new homes by 2030.

Yet none of this can mask the fact that as remote working sticks, demand for office space should fall. Companies are beginning to rethink their property needs, with many downsizing or delaying new leases. Globally, more than 103m square feet of office space has already been vacated since the pandemic began, according to Cushman and Wakefield, a broker. That is 18% more lost floor space than during the financial crisis of 2007-09. Vacancy rates rose steeply over the past year, reaching 18% in the spring in America (see chart 1). The forecasts are gloomy. Roughly one in five offices in America will be empty in 2022, according to Moody’s Analytics, a consultancy. Rents across the country are projected to fall by 7.5% this year; those in San Francisco, by 15%.

Puzzlingly, the gloom has not yet made its way into conventional measures of prices and credit. Rent-collection rates for properties run by real-estate investment trusts (reits) in North America remained above 90% for most of last year, according to s&p, a rating agency. They may have risen since then. The Economist has examined collection rates for half a dozen of the world’s big listed office landlords: the average stands at 98% for the most recent quarter. Delinquency rates on commercial-mortgage-backed securities linked to shops spiked last summer, and are still high, according to Trepp, a data provider. But those for offices have been unperturbed by the pandemic, at around 2%. The price paid for office space in several big cities has also held up so far (see chart 2).

A number of obfuscating factors cloud the picture, however. Generous stimulus might have postponed increases in delinquencies and distressed sales. And many firms have not made up their minds yet. No one knows how many workers will stay home, and for how many days of the week. For the most part, investors are avoiding rash transactions: buyers are wary of overpaying, while sellers are unwilling to take a loss in case the crisis turns out to be a blip. The volume of sales has shrunk, making prices a less reliable gauge of health.

One way to penetrate the uncertainty is to look at more forward-looking measures of valuations. These suggest that office property has been dealt a blow by covid-19. A price index based on appraisals, calculated by Green Street, a research firm, is 9% below its pre-pandemic peak in America. The share prices of reits that invest in offices remain 13% below their level in early 2020 (see chart 3).

Central banks are on the alert. The reliance of commercial property on debt financing means a downturn could have nasty reverberations across the financial system. Banks’ exposures are sizeable: the stock of loans made to the sector by American banks exceeds $2trn, or about a fifth of their total lending. In its latest Financial Stability Review the European Central Bank warned that subdued activity could be masking deeper trouble, and deemed risks from property to be “elevated”. Many pension funds around the world have loaded up on commercial property in recent years as lower interest rates have forced them to seek returns from less liquid assets.

The fate of office property could well rest on vacancy rates. If they stay high, then things could start to get hairy. In April the imf reckoned that a lasting increase in the vacancy rate of five percentage points would dent commercial-property valuations by 15% over five years. Fitch, another rating agency, estimates that the value of offices in America could fall by more than half if workers continue to work from home for three days a week. The long-term nature of property leases and the continued availability of debt mean that losses from the pandemic may not materialise for several years. But if the reckoning comes, it will be painful. ■


REFORMASI BUMN DI CHINA

REFORMASI BUMN DI CHINA
(studi kasus).

_Erizeli Jely Bandaro_

Hal yang sangat sensitif bagi China adalah reformasi BUMN. Karena maklum ini negara sosialis. 30% PDB China berasal dari BUMN. Hampir semua kader politik Partai Komunis China berada di lingkaran BUMN ini. Proses reformasi sudah berlangsung 40 tahun. Benar benar dilakukan secara gradual. Hampir setiap Presiden China berkomitmen melanjutkan reformasi BUMN namun mereka juga tidak mau menimbulkan konflik di Internal partai. Ancaman serius politik bagi Presiden China adalah terlalu keras memaksakan reformasi BUMN. 

Mengapa? Hampir semua kader Partai punya posisi di 400 BUMN/D China. Bukan rahasia umum bila BUMN menjadi sumber daya keuangan bagi partai. Mereka juga yang melahirkan banyak konglomerat di China melalui praktik KKN. Dampak dari praktik ini, walau BUMN China sangat raksasa dari segi ukuran modal dan pelanggan. Namun tahun 2003 hanya 6 BUMN Cina yang masuk Top 500 Fortune. Artinya secara management dan tingkat laba, BUMN China gagal menjadi perusahaan berkelas dunia. Padahal BUMN  mengumpulkan utang sebesar RMB 100 triliun (US $ 15 triliun) pada akhir 2017, setara dengan 120 persen dari PDB nasional.

Puncak reformasi BUMN China terjadi di era Xi Jinping. Itupun setelah Xi Jinping mengubah UUD China yang tidak membatasi jabatan Presiden. Xi Jinping juga menguasai hampir semua posisi menentukan di Partai. Jadi praktis dia menjadi penguasa tunggal di China. Di era Xi Jinping, serangkaian reformasi keras dilakukan sejak tahun 2017. Lantas apa saja langkah reformasi yang dilakukan BUMN China?

*Pertama*, mengklasifikasi BUMN sesuai dengan politik negara sosialis. Dasar hitungannya adalah index PSO (Public Service Obligation). PSO adalah kewajiban negara memberikan pelayanan kepada publik atas dasar UUD. Apabila index PSO di bawah 50% maka harus diprivatisasi. Namun apabila index PSO diatas 50% , pemerintah akan perkuat permodalannya dan memperluas dukungan subsidi agar bisa memberikan layanan lebih baik kepada publik.

*Kedua*, memisahkan fungsi operasional dan pengawasan. Secara operasional, peran negara hanya mengelola modal atau asset saja. Semua kader partai tidak boleh masuk ke dalam jajaran Direksi maupun Komisaris. BUMN harus dikelola secara profesional dan independent. Mereka harus focus kepada pasar dan menganut prinsip pengelolaan perusahaan berkelas dunia dengan standar good governance. Dengan demikian proses restruktur bisnis dan budaya berlangsung sangat cepat dan efisien. Bahkan bila diperlukan BUMN boleh merekrut direktur dari asing. BUMN China boleh melakukan privatisasi lewat bursa atau melepas saham kepada karyawan.

*Ketiga*, memperkuat posisi pengawasan BUMN secara kelembagaan. Di China lembaga yang berkuasa mengawasi BUMN bukan kementerian tetapi State-owned Assets Supervision and Administration Commission of the State Council (SASAC) atau semacam Pengawasan Aset milik Negara dan Komisi Administrasi Dewan Negara. Tugas SASAC hanya sebatas pengawasan kebijakan strategis. Yang mengawasi tugas SASAC adalah Kementrian Keuangan. Namun khusus lembaga keuangan BUMN diawasi oleh Central Huijin Investment Co., Ltd (Huijin).

*Keempat*, penyertaan modal negara hanya berfocus kepada BUMN yang mengelola industri strategis seperti Baja, Kereta Api, Listrik, Energy, Pertahanan, kontruksi. Untuk industri ini tidak boleh ada privatisasi dan 100% sahamnya tetap milik negara. Selebihnya boleh melakukan privatisasi secara langsung atau melalui bursa.

Apa hasilnya setelah reformasi BUMN itu ? Tahun 2019, ada 129 perusahaan China masuk TOP 500 Fortune, sebagian besar adalah BUMN. China mengalahkan AS dalam daftar Top 500 Fortune. Padahal tahun 2003 BUMN China yang masuk 500 Top Fortune hanya 6. Peningkatan yang luar biasa. Dan itu berkat reformasi BUMN yang dilakukan secara keras.

Teman saya di Beijing salah satu CEO BUMN, saya tanya. Apa kunci suksesnya BUMN China?  

“Menggeser peran pemerintah dari manajemen perusahaan ke manajemen asset. Artinya peran negara terhadap BUMN lebih kepada pengelolaan portfolio asset. Konsisten melaksanakan transformasi BUMN menjadi perusahaan modern dengan memperkenalkan kepemilikan campuran, merekrut manajer profesional, membentuk dewan direksi dan komisari yang tidak terkoneksi dengan Partai, dan memberikan wewenang kepada mereka untuk membuat keputusan pasar.” Katanya. 

"Emang salahnya apa kalau kader partai jadi komisaris BUMN. Kalau mereka mampu, kan sah saja."  Pancing saya.

"ini bukan soal salah atau benar. Bukan sah atau tidak. Bukan soal kemampuan. Tetapi  soal mental. Selagi dia orang politik, jelas mentalnya engga cocok duduk di perusahaan negara. Apapun alasannya! Sudahlah. Kami sudah 40 tahun belajar dari kasus kader partai jadi petinggi BUMN. Lebih besar ruginya daripada untungnya. Dan faktanya setelah mereka keluar dari BUMN, prestasi BUMN China kini kelas dunia. Sangat efisien." Katanya. Saya mengangguk tanda setuju.

Apa yang hebat dari China adalah kemauan politik yang begitu besar dari Pemimpin puncak yang didukung oleh elit partai untuk tidak memberikan akses kekuasaan kepada kader partai di BUMN. Karena tadinya para  kader partai itu menjadikan BUMN sebagai sumber uang memperkaya diri sendiri dan teman teman. Sementara kontribusi skill dan pengalaman bisnis mereka hampir tidak ada. Mereka menjadi pengangguran yang kaya raya karena jabatan resmi di BUMN. Semoga Indonesia bisa meniru langkah China ini.

Sabtu, 29 Mei 2021

Selamat Datang MASA DEPAN

https://www.kabartujuhsatu.news/2021/01/ignasius-jonan-selamat-datang-masa.html

*SELAMAT DATANG MASA DEPAN* 

Tulisan Ignasius Jonan mantan menteri SDM  tentang prediksi masa depan.  Kondisi tentang masa depan itu bukan "akan terjadi". Tapi sedang terjadi.  Di Jakarta misalnya, PLN berencana akan membuat 1143 SPLU, Stasiun Pengisian Listrik Umum. Peluncuran ini untuk menyambut  kendaraan berbasis listrik secara masal di Indonesia.
Prediksi yg terjadi :

*1.*   Bengkel perbaikan kendaraan akan hilang.

*2.*   Mesin yg menggunakan bensin memiliki 20.000 bagian. Mesin listrik hanya memiliki 20 bagian. 
Mobil listrik dijual dgn garansi seumur hidup dan hanya diperbaiki oleh dealer. Hanya perlu waktu 10 menit untuk  mengganti mesin  listrik.

*3.*  Mesin listrik tidak diperbaiki di dealer tetapi dikirim ke bengkel  regional utk diperbaiki dgn robot.

*4.*   Mesin listrik yg gagal fungsi  ditunjukkan oleh lampu yg menyala, lalu anda akan pergi ke tempat yang menyerupai mesin cuci mobil, dan mobil akan ditarik sementara anda ngopi dan mesin mobil akan diganti dgn yg baru.

*5.*   SPBU  akan hilang.

*6.*   Meter parkir akan diganti oleh dispenser listrik. 
Banyak perusahaan akan memasang stasiun isi ulang listrik.

*7.*  Kebanyakan pabrik kendaraan (yang cerdas telah mengalokasikan uangnya  membangun pabrik  mobil listrik.

*8.*  Industri batu bara akan hilang. 
Perusahaan minyak dan gas akan hilang. Pengeboran minyak akan hilang.  selamat tinggal kepada OPEC.

*9.*   Rumah2 akan menghasilkan dan menyimpan energi listrik di siang hari dan akan menggunakan serta menjualnya listriknya ke grid. 
Grid akan menyimpan dan menyalurkannya ke industri yg banyak menggunakan listrik. Apakah anda sudah melihat atap Tesla?

*10.*   Masa depan mendekati kita lebih cepat daripada yg kita kira.

*11.* Di tahun 1998 Kodak punya 170.000 pegawai dan menjual 85% foto kertas di seluruh dunia.
Hanya dalam beberapa tahun model bisnis mereka hilang dan bangkrut. Siapa yg mengira itu akan terjadi?

*12.*   Apa yg terjadi pada Kodak dan Polaroid akan terjadi di kebanyakan industri dalam 5-10 tahun yg akan datang.

*13.*  Apakah pada tahun 1998 anda mengira bahwa 3 tahun setelahnya tidak akan pernah lagi ada foto menggunakan film?. Dengan gadget, siapa yg masih memiliki kamera dgn film?

*14.*  Kamera digital ditemukan tahun 1975. Barang pertama hanya memiliki 10.000 piksel, tetapi mengikuti hukum Moore. 
Dgn perkembangan teknologi yg eksponensial, barang yg semula mengecewakan menjadi super dan menjadi mainstream dalam waktu singkat.

*15.*  Hal itu terjadi lagi (tapi jauh lebih cepat) dgn kecerdasan buatan (artificial intelligence), kesehatan, kendaraan listrik, pendidikan, pencetakan 3D, agrikultur dan lapangan pekerjaan.

*16.*  Lupakan buku 'Kejutan Masa Depan',  sambutlah Revolusi Industri keempat.

*17.*   Software telah dan akan terus mengacaukan banyak industri tradisional. dlm 5-10 tahun mendatang.

*18.*  Uber (seperti halnya Gojek di Indonesia) hanya piranti software, mereka tidak memiliki mobil, tapi sekarang mereka adalah perusahaan taksi terbesar di dunia! Supir taksi tidak  mengira hal itu akan terjadi.

*19.*   Airbnb sekarang adalah perusahaan hotel terbesar di dunia, walaupun mereka tidak memiliki properti apapun. 
Tanyakan pada hotel Hilton apakah dulu mereka mengira hal itu akan terjadi.

*20.*   Artificial Intelligence: komputer akan menjadi lebih baik secara eksponensial. 
Tahun ini, komputer mengalahkan pemain game terbaik di dunia, 10 tahun lebih cepat daripada yg diperkirakan.

*21.*  Di USA, pengacara muda sudah tidak punya pekerjaan. 
Berkat Watson IBM, anda bisa memperoleh nasehat hukum dalam hitungan detik (untuk hal-hal dasar), dgn akurasi 90% dibandingkan 70% akurasi bila dilakukan manusia. 
Jadi jika anda belajar hukum, berhentilah segera. Kebutuhan pengacara akan berkurang 90%, hanya spesialis serba tahu yg masih bs bertahan.

*22.*   Watson telah membantu dokter mendiagnosa kanker, 4 kali lebih akurat dibandingkan dokter manusia.

*23* . Facebook sekarang memiliki software pengenal pola yg dapat mengenali wajah jauh lebih baik daripada manusia. Pada tahun 2030 komputer akan lebih cerdas dari manusia.

*24*   Kendaraan otomotif: Pada tahun 2018 mobil tanpa supir pertama sudah muncul.
Dalam waktu 2 tahun ke depan seluruh industri akan dikacaukan. 
Anda tidak perlu supir lagi karena anda akan memanggil mobil dgn telepon , mobil itu akan muncul di lokasi, dan mengantarkan anda ke tempat tujuan. 
Tidak perlu bingung memarkir mobil itu, anda hanya akan membayar jarak tempuh dan anda dapat tetap produktif selama naik mobil. Anak-anak  tak perlu punya sim dan tak pernah be back homev CV memiliki mobil.

*26.*   Hal itu akan mengubah kota2 kita, karena kita hanya perlu mobil 90-95% lebih sedikit.  Lahan2 parkir bs adi taman kota.

*27.*   Sekitar 1,2 juta orang meninggal karena kecelakaan tiap tahun, termasuk yg disebabkan berkendara sambil mabuk.
Sekarang kita memiliki satu kecelakaan tiap 60.000 mil;   Nanti dgn kendaraan tanpa supir angka itu akan turun menjadi 1 kecelakaan tiap 6 juta mil. Ini akan menyelamatkan jutaan nyawa tiap tahunnya.

*28.*  Kebanyakan perusahaan mobil tak diragukan lagi akan menjadi bangkrut.
Perusahaan mobil tradisional hanya mencoba pendekatan evolusioner dan hanya berusaha membuat mobil yg lebih baik, sementara perusahaan teknologi (Tesla, Apple, Google) melakukan pendekatan revolusioner dan membangun komputer di atas roda.

*29.*   Lihat apa yg dilakukan Volvo sekarang; tidak ada lagi mesin pembakaran internal di kendaraan mereka mulai tahun ini untuk model 2019, semua menggunakan listrik atau hybrid, dgn maksud nantinya akan melenyapkan model2 hybrid.

*28.*   Banyak ahli-ahli teknik di Volkswagen dan Audi takut terhadap Tesla, dan memang seharusnya begitu. 
Lihat semua perusahaan yg menawarkan mobil listrik. Beberapa tahun lalu keberadaan mereka tidak bisa dirasakan.

*29.*   Perusahaan asuransi akan mengalami kesulitan masif; tanpa kecelakaan, biaya akan menjadi lebih murah. Model bisnis asuransi mobil akan hilang.

*30.*  Real estate akan berubah. Jika orang bisa bekerja pulang-pergi, mereka akan tinggal di tempat yg jauh untuk hidup di lingkungan yg lebih terjangkau dan lebih menyenangkan.

*31.*   Mobil listrik akan menjadi mainstream pada tahun 2030 an. Kota menjadi tidak berisik karena semua mobil baru akan menggunakan listrik.

*32.*   Kota juga akan memiliki udara yg lebih bersih.

*33.*   Listrik akan menjadi sangat murah dan bersih.

*34.*   Produksi listrik tenaga surya telah mengalami kurva pengembangan eksponensial selama 30 tahun, tetapi sekarang perkembangan itu sedang dipacu lebih kencang lagi.

*35.*   Perusahaan energi fosil sedang berusaha mati2an membatasi akses ke grid utk mencegah munculnya pesaing dgn instalasi listrik tenaga surya di rumah-rumah, tetapi upaya itu tidak akan bisa berlanjut - teknologi tidak akan bisa dibendung.

*36.*   Kesehatan: Harga Tricorder X akan diumumkan tahun ini. 

*37.*  TV dan Koran akan  mati dgn sendirinya,  siapa yg sekarang baca koran atau siapa yg sekarang melihat TV ? Hanya sebagian kecil orang-orang diatas 50 tahun. Millenial  beralih ke Youtube dan sejenisnya lebih cepat.

*38.*   Layanan Perbankan dan Ticketing sudah  swa Mandiri  tidak perlu Customer Service atau Teller akan ada jutaaan profesi pekerjaan yg hilang 10-20 tahun kedepan. Sudah siapkah kita 
Banyak perusahaan akan membuat perangkat medikal (yg disebut 'Tricorder' dalam film Star Trek) yg bekerja dgn telepon anda, yg akan memindai retina anda, sampel darah anda, dan napas anda. 
Lalu dia akan menganalisa 54 bio-marker yg akan meng identifikasi hampir  semua jenis penyakit. Saat ini sudah terdapat lusinan aplikasi telepon untuk tujuan kesehatan.

*Inilah prediksi keadaan  MASA DEPAN .. yg bisa lebih cepat ....*

Note , tambahan dari saya :
Untuk yang menyukai tantangan berinvestasi saham, kemungkinan mulai sekarang bisa melirik perusahaan2 berbasis IT, Industri Kelistrikan seperti Tesla atau perusahaan2 yang menjual teknologi kelistrikan, tenaga surya dll, Start up Portal penunjang masa depan (macam uber, airbnb dll) dan teknologi perbankan dan telekomunikasi , bisa sangat sangat2 di perhitungkan 👍👍😀

*Cheers & salam for better future.*

Sabtu, 13 Maret 2021

CHICAGO BOOTH EXECUTIVE

Entrepreneurial Mindset in a VUCA World

  • Why the entrepreneurial mindset is essential within mature companies
  • Four key steps to become more entrepreneurial, and four skills that help you see and create the future
  • Discover what is strategy, and what are the entrepreneurial approaches in defining corporate strategy?
  • Explore what makes your organization great, how are you are positioned, and what is your competition doing
  • Analyze who could disrupt your business, have they started, and discover how to leverage data to define and cultivate strategy

Innovation Theory in Corporate Strategy

  • “The future is already here—it’s just not very evenly distributed” William Gibson
  • Closing the innovation gap
  • Analyze powerful patterns within your industry to predict and define your strategy approach
  • Explore the steps to a new venture strategy, and how to think like a venture capitalist

A Customer-Centric Strategy

  • Winning the hearts and minds of customers
  • Behavioral science in leveraging corporate strategy
  • A customer’s role

Sabtu, 06 Maret 2021

INVESTASI dan INDUSTRIAL TKDN DALAM NEGERI

Investasi dan Hilirisasi Industri Kunci Wujudkan Transformasi Ekonomi Nasional
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2021 berada di kisaran 4,5 sampai 5,5 persen. Artinya, dalam waktu setahun Indonesia harus mampu membalikkan kondisi dari minus 2,19 persen menjadi plus 5 persen, atau bahkan lebih. Presiden Joko Widodo meyakini, kunci pencapaian pertumbuhan ekonomi tersebut ada di investasi.

Hal tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo dalam sambutannya pada pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Tahun 2021 di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Jumat, 5 Maret 2021.

"Ini kuncinya ada di Pak Bahlil, Kepala BKPM, INVESTASI. Tiap hari saya telepon, saya tanya terus, berapa persen bisa (realisasi) tahun ini, berapa triliun bisa naik, siapa yang masuk, sudah sampai mana, targetnya tercapai enggak? Tiap hari," jelasnya.

Kepala Negara juga memandang bahwa banyak peluang usaha yang terbuka dan mampu membuka lapangan kerja serta bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Untuk itu, Presiden selalu berpesan kepada Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) agar bisa menyambungkan antara investor, baik asing maupun dalam negeri, dengan para pengusaha di daerah.

Selain itu, Presiden melihat bahwa dengan hilirisasi dan industrialisasi, Indonesia akan berhasil mewujudkan sebuah transformasi ekonomi. Jika ini berhasil, maka Indonesia akan dapat melesat menjadi lima besar ekonomi terkuat dunia.

Keyakinan Presiden bukan tanpa alasan. Jika dilihat dari sejumlah indikator, peluang tersebut sangat terbuka lebar. Indonesia memiliki ukuran ekonomi dan peluang bisnis yang sangat besar. Pasar domestik berupa 270 juta penduduk juga merupakan pasar yang sangat besar.

Di samping itu, daya beli rakyat juga sangat besar. Indeks konsumsi konsumen Indonesia terus meningkat dan tercatat berada di angka 84,9 pada Januari 2021, setelah sebelumnya berada di angka 79 pada Oktober 2020.

Konsumsi rumah tangga Indonesia juga sudah menunjukkan sinyal positif, meskipun masih di minus 3,6 persen di kuartal IV 2020 setelah sebelumnya sempat anjlok di minus 5,5 persen di kuartal II 2020. Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia di tahun 2020 masuk 15 besar PDB dunia. 

"Banyak lembaga-lembaga dunia yang memprediksi Indonesia akan menempati posisi lima besar dengan PDB terkuat di dunia. Pada tahun 2021, PDB kita diprediksi akan kembali, tadi sudah saya sampaikan, pada angka 4,5-5,5 persen," lanjutnya.

Beri Ruang Lebih bagi Peningkatan Kualitas Produk-Produk Lokal

Presiden Joko Widodo meminta jajarannya untuk memberikan ruang lebih bagi produk-produk dalam negeri dalam upaya pemulihan ekonomi nasional yang didukung dari sisi permintaan. Menurutnya, dengan meningkatkan konsumsi produk dalam negeri, akan tercipta efek domino yang besar bagi gerak roda ekonomi dalam negeri di masa pandemi ini.

"Saya juga selalu menyampaikan kepada kementerian/lembaga dan semua BUMN untuk memperbesar tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Ini harus terus, jangan sampai proyek-proyek-proyek pemerintah, proyeknya BUMN, masih memakai barang-barang impor. 
Kalau itu bisa dikunci, itu akan menaikkan sebuah permintaan produk dalam negeri yang tidak kecil," ujarnya saat memberikan sambutan pada pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Tahun 2021 di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Jumat, 5 Maret 2021.

Pemberian ruang yang lebih besar bagi produk-produk dalam negeri tersebut tentunya harus disertai dengan peningkatan kualitas produk itu sendiri beserta harga yang kompetitif sehingga dapat bersaing dengan produk-produk serupa dari mancanegara.

Pada kesempatan tersebut, Presiden menegaskan bahwa Indonesia menganut keterbukaan ekonomi. Indonesia juga bukan bangsa yang menyukai proteksionisme karena sejarah membuktikan bahwa proteksionisme itu justru merugikan. 

"Tetapi kita juga tidak boleh menjadi korban _unfair practices_ dari perdagangan dunia. Kita juga enggak mau itu," sambungnya.

Indonesia juga harus mampu memanfaatkan secara optimal pasar dalam negeri dan daya beli yang sangat besar untuk mendongkrak ekonomi nasional. Presiden menekankan bahwa Indonesia selalu mengundang investasi dan teknologi maju untuk dapat masuk ke Indonesia untuk membuka seluas-luasnya lapangan kerja dan alih teknologi. Namun, Presiden tidak ingin jika Indonesia hanya menjadi penonton di negeri sendiri.

"Jangan mereka dapat untung, kita hanya menjadi penonton. Enggak boleh seperti itu lagi. Oleh sebab itu, selalu tadi saya sampaikan, partnerkan dengan swasta kita, partnerkan dengan pengusaha daerah, partnerkan dengan BUMN," tegasnya.

Presiden menekankan, praktik-praktik perdagangan yang tidak sehat dan tidak adil, apalagi bila sampai membahayakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam negeri, juga tidak boleh dibiarkan.

Bogor, 5 Maret 2021
Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden