Minggu, 24 Mei 2020

AT THE SAME STORM, BUT NOT IN THE SAME BOAT

Kita tidak bisa marah dengan mereka yg masih harus keluar rumah utk bekerja karena kebutuhan hidup.

Kita juga tidak bisa iri dengan mereka yg bisa #stayathome dengan NYAMANnya, karena perjuangan tiap orang dalam masa Covid-19 ini tidaklah sama.. 

Ada yang diberi KELEBIHAN MATERI untuk bisa #dirumahsaja.. 
Ada juga yang TERSEOK-SEOK dgn segala kesulitan untuk bertahan hidup jika hanya #dirumahsaja.. 

Yang bisa kita lakukan adalah MENJAGA DIRI masing² sebaik mungkin dan tetap  mengikuti anjuran memakai masker, minum Vit, rajin mencuci tangan n menjaga jarak dg orang lain, BERFIKIR POSITIF  bagi satu sama lain.. 

Sadarlah kita berada di BADAI YANG SAMA, tapi TIDAK DIKAPAL YANG SAMA... 

Biarlah masing² kapal mencari jalan keluar dari badai ini... 
Berdoa dan berharaplah yang terbaik untuk setiap kapal, tanpa saling menghakimi... 

Tetaplah kuat iman dan imun, semangat menjalani hidup....Badai pasti berlalu, tetapi pastikan Allah ada dalam kapal anda dan memegang kendali atas kapal anda. Jangan menyerah 🙏👏

Rabu, 13 Mei 2020

PEKERJAAN TERDISRUPSI dan KEHADIRAN AI dalm Hidup Manusia

*Disrupsi AI: Apa yang Lenyap 10 Tahun ke Depan?*


Tahun baru 2020 tak hanya menandai pergantian tahun dari 2019 ke 2020, tapi juga pergantian dekade memasuki 2020an. 

Dekade 2020an adalah masa yang krusial dalam sejarah peradaban umat manusia karena di dekade ini untuk pertama kalinya akan terjadi penggantian massal pekerjaan-pekerjaan yang selama ini dilakukan manusia oleh robot yang digerakkan oleh Artificial Intelligence (AI). 

Namun AI tak hanya “membunuh” jutaan produk, bisnis, industri, dan pekerjaan yang out–of–date, namun juga sekaligus “melahirkan” jutaan yang baru dan promising. “the fall, and the rise“. 

Coba bayangkan kita sedang merayakan pesta kembang api di malam tahun baru 2030. Dan barangkali hal-hal berikut ini bakal terjadi: 

#1. Chatbot berbasis AI kini telah digunakan oleh bank-bank besar di tanah air menggantikan petugas callcenter dan customer service. Seiring murahnya layanan ini, semua industri akan menggantikan layanan pelanggannya dengan layanan chatbot yang makin cerdas, murah, dan handal. Lonceng kematian bagi petugas call center. 

#2. Profesi sekretaris bakal punah karena sejak 2017 Personal Virtual Assistant (PVA) berbasis AI maju pesat dikembangkan oleh Amazon (Alexa), Apple (Siri), Google Assistant, hingga Samsung (Bixby). PVA akan terus disempurnakan sehingga nantinya setiap orang akan memiliki sekretaris pribadi yang menjalankan perintah mulai dari memesan tiket di Traveloka, memilihkan film di Netflix, mengurus SIM dan KTP, hingga memesan barang di Tokopedia. 

#3. Profesi sopir makin tak dibutuhkan dengan kehadiran kendaraan yang dapat berjalan dengan sendirinya tanpa perlu pengemudi sama sekali. Hanya dengan perintah suara atau bahkan tanpa perintah sama sekali, mobil akan bisa menelusuri jalan-jalan secara otonom. Self-driving vehicle kini terus-menerus disempurnakan ekosistem AI-nya, sehingga sudah menjadi moda transportasi massal sebelum kita melalui malam Tahun Baru 2030. 

#4. Begitupun profesi kasir akan kian langka karena gerai ritel semacam Indomaret atau Alfamart bakal mengadopsi konsep autonomous retail seperti Amazon Go. Akan kian banyak supermarket, minimarket, conveniencestore (kalau masih ada) yang mengaplikasikan computer vision yang memungkinkan konsumen keluar-masuk gerai tanpa harus antri bayar di depan kasir. AI akan tahu konsumen mengambil produk yang mana, harganya berapa, dan langsung mendebetnya ke virtual accountkonsumen.  

#5. Barangkali akan makin banyak kurir yang menganggur karena drone yang digerakkan AI bakal mengantar paket atau barang dengan efisien, presisi, dan super murah. Menjelang tahun 2030 kita bakal menyongsong era “satu miliar drone” yang berseliweran mengantar barang di udara kita. 

#6. Pekerja pabrik kian terpangkas. Mengaplikasikan AI untuk 3D printing bakal menghasilkan revolusi “additive manufacturing”. Produksi barang menjadi demikian presisi, betul-betul zero–defect, dan super-cepat. Mesin-mesin manufaktur akan bisa mengambil keputusan sendiri karena data yang di-feeding ke algoritma AI memungkinkannya “belajar” dan mengambil keputusan sendiri. “Welcome ghost factory.” Pabrik dimana tak satupun pekerja ada di dalamnya.

#7. Pekerja gudang akan banyak yang menganggur karena robot bermesin AI akan melakukan pekerjaan operasional di gudang selama 24/7 non-stop tanpa perlu lagi bantuan manusia. Mereka mulai menggantikan buruh gudang dalam memindahkan dan mengatur penempatan barang untuk meminimalisir human error dan mendongkrak produktivitas. Konsep “ghost warehouse” (gudang tanpa satupun tenaga manusia) akan menjadi mainstream di dekade 2020an. 

#8. Profesi petani kini tidak menarik dan semakin terpuruk ketika agriculture drone mendominasi industri pertanian menggantikan peran petani. Agriculture drone adalah salah satu bentuk unmanned aerial vehicle (UAV) yang berfungsi menggantikan manusia dalam memantau, mengontrol, dan mengelola tanaman pertanian dengan jauh lebih efektif, efisien, presisi, dan tanpa pernah kenal capek. “The death of farmers” 

#9. Profesi penerjemah dan kursus bahasa asing bakal terancam. Pasalnya AI juga bakal mampu melakukan penerjemahan berbasis percakapan (speech-to-speech translation), bukan hanya berbasis teks. Artinya, jika ada bule berbicara dalam bahasa Inggris, maka wearable device berbasis AI yang dipasang di telinga Anda bisa langsung menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia dalam bentuk ucapan secara real time.

#10. Celakanya profesi guru pun tak luput dari incaran “malaikat pencabut nyawa” AI. Ya, karena robot berbasis AI dapat menjadi pengajar dan sepenuhnya menggantikan guru manusia. Teaching robot yang digerakan AI ini bisa berinteraksi secara natural dengan murid, bisa membaca ekspresi wajah murid, menguasai puluhan bahasa, lebih sabar dan tekun. Dan karena otaknya komputer yang tersambung ke cloud, maka tentu saja ia jauh lebih cerdas dari guru manusia paling cerdas sekalipun.

#11. Di sektor perbankan, analiskredit juga semakin tidak dibutuhkan ketika machine learning (ML) modeling platform bakal merevolusi metode credit scoring dalam memotret risiko kreditor secara holistik, efisien, dan presisi. Mesin akan ML mampu adaptif dan “belajar” secara intuitif terhadap big data nasabah yang di-feedingkepadanya. Persetujuan kredit bisa demikian presisi dan bisa dilakukan secara real time. 

#12. Dokter konvensional semakin berkurang perannya ketika dengan predictive analytics AI akan bisa meramalkan bahwa seseorang bakal terkena kanker, misalnya, jauh sebelum penyakit mematikan itu datang. Sehingga berbagai upaya pencegahan bisa dilakukan, katakan 10 atau 20 tahun sebelum kanker terjadi. Inilah yang disebut predictive care.

#13. Secara massal AI mulai menggantikan pekerjaan kognitif yang berpola seperti akuntan, pengacara, wartawan, apoteker, peneliti, hingga analis saham. Pekerjaan manusia yang mengandalkan analisa dan olah data akan tergantikan, karena AI mampu melakukannya secara lebih cepat, presisi, nir-bias. 

#14. Namun menyedihkannya, tak hanya pekerjaan-pekerjaan kognitif, AI pun mulai bisa menulis novel sekelas karya JK Rowling, komposisi musik sekelas gubahan Lennon-McCartney, atau menulis skenario film sekaligus menyutradarainya. Bahkan Brad Pitt pun akan tergusur oleh CGI (computer–generated imagery) sebagai aktor (lihat: film Avatar dan terakhir Alita: Battle Angel). Pekerjaan seniman pun di ujung tanduk.

#15. Tentara juga di ambang kepunahan, karena mereka akan tergantikan oleh robot seperti di film Iron Man yang bisa mengendalikan dirinya sendiri tanpa campur tangan manusia. Deep learning memungkinkan “soldier robot” melakukan analisis situasi, menghitung kekuatan lawan, dan kemudian mengambil keputusan penyerangan secara mandiri tanpa sedikitpun intervensi manusia. Perang tak lagi antara manusia vs manusia, tapi antara robot vs robot.

#16. Teroris dan disiden bakal tak berkutik dan akhirnya punah. Cina menggunakan pemindai wajah (facial recognition) berbasis AI yang memungkinkan pemerintah mengawasi setiap gerak-gerik warganegaranya, di manapun, kapanpun. Secara agresif Cina mengembangkan jejaring kamera pemindai wajah dengan menggunakan teknologi biometrik sehingga tak satupun warganegara yang bisa luput dari pengawasan pemerintah. Welcome the era of government surveillance.

#17. Bisa jadi profesi petinju, pegulat, atau atlit UFC kian tak populer karena tersaingi oleh robot olympic yang lebih seru dan sangar. Pertarungan dua humanoid robot hingga mati dapat menjadi olahraga dan hiburan baru dalam perkembangan teknologi di masa depan. Hal tersebut dapat menggantikan pertarungan antar petinju. Menciptakan hiburan baru kepada masyarakat yang diwakili oleh robot.

#18. Nasib sial juga akan menimpa salah satu industri tertua yaitu prostitusi. Sexbot berbasis AI akan menggantikan PSK untuk memuaskan orgasme setiap pelanggannya. Harmony by RealDoll adalah salah satunya. Sexbot pertama di dunia ini bisa berbicara sensual, mendesah, berkedip menggoda, dan memahami emosi/kepribadian setiap pria pelanggannya karena diperlengkapi self–learning software. 

#19. Di bidang transportasi, mobil bensin dan disel (internal combation engine) pelan-pelan akan lenyap tergantikan oleh mobil listrik (electric vehicle) seperti Tesla, mobil nir-sopir (autonomous vehicle) seperti Google Waymo, bahkan taksi terbang (electric vertical take-off and landing e-VTOL) Vehicle seperti Uber Air. 

#20. Minimarket, supermarket, hypermarket akan kian tergusur karena kita tak perlu shopping lagi. Lemari es kita di rumah bakal dipasangi computer vision sensor yang bisa memindai dan memonitor apakah persediaan susu, daging, atau sayur kita masih cukup. Begitu habis maka ekosistem AI akan “memerintahkan” vendor produk-produk tersebut untuk mengirim barang-barang yang telah habis tersebut. Semuanya berlangsung secara otomatis tanpa campur tangan manusia. Kita akan memasuki era “zero–click shopping”. 

#21. Akademi dan universitas konvensional akan tutup tergantikan instructional tutorial system (ITS) yang mampu memberikan instruksi dan feedback pembelajaran secara customised ke mahasiswa tanpa ada campur tangan pengajar manusia. Dengan ITS pembelajaran akan berlangsung secara one–to–one, personalized tutoring tidak massal di kelas seperti sekarang. Teknologi MOOCs akan terus diperbaiki dengan memanfaatkan AI (natural language processing, machine learning, semantic web, social/emotional computing) untuk menyempurnakan learning experienceterbaik. 

Kata Prof. Clayton Christensen, pencipta teori disruptive innovation di tahun 2017: “50% of the 4,000 colleges and universities in the U.S. will be bankrupt in 10 to 15 years.” 

 

30 JOBS WILL BE KILLED BY AI

Survei McKinsey (2017) menunjukkan sampai dengan 10 tahun ke depan sekitar 800 juta pekerjaan akan hilang oleh dampak otomasi yang digerakkan oleh AI. Berikut ini adalah pekerjaan-pekerjaan yang sebagian atau sepenuhnya bakal tergantikan oleh AI: 

1. Bank Tellers
2. Cashiers
3. Administrations
4. Retail Workers
5. Restaurant Clerks
6. Warehouse workers
7. Secretary & Personal Assistant
8. Call Centre & Customer Service
9. Telemarketers
10. Drivers & Couriers
11.Tour Guide
12.Translators/Interpreters
13. Farmers
14. Traffic Police
15. Finance and Accounting
16.Tax Preparer & Tax Analyst
17. Book-keeper Clerks
18. Auditing Clerks
19. Data Entry & Data Analyst
20. Market Research Analyst
21. Assemblers (Electrical and Electronic Products)
22. Proof-readers
23. Journalists/Writers
24. Lawyers & Paralegals
25. Musicians and other 26. Artists
27. Soldiers
28. Doctors
29. Astronouts
30. Teachers
31. Actors/Actrees


Bagaimana menurut Bapak2 dan Ibu2 ....

Durasi pandemi covid19 diprediksi akan berlangsung dlm jangka 1-2 th ke dpn (sesuai prediksi dipasarkannya vaksin). 

Prediksi Business yg akan  booming : 
1. E-commerce 
2. Remote working
3. Logistic 
4. Online schooling
5. Webinar / online training 
6. Netflix, indihome
7. Telco
8. Telemedicine
9. Cleaning services
10 Wellness
11 Medical equipments
12 Home entertainment

Business yg terpuruk: 
1. Hotel 
2. Travel
3. Bioskop
4. Mall 
5. Retail 
6. Entertainment
7. Property
8. MICE 
9. Persewaan kantor 
10. Restoran ( tdk ada Dine in )

Benefit 
1. Work life balance - productivity meningkat
2. cost efisien & produktif
3. Karyawan bersedia dibyr murah

Website hrs jadi ecommerce.

Hotel akan food delivery juga.

Martha Tilaar dari kosmetik berubah jadi hand sanitizer - survival modenya.

Es teler 77 skrg masuk ke Frozen food.

Lippo mall / hotel difungsikan ke rumah sakit Krn punya RS Siloam / punya kompetensi nya.

Dlm rangka omzet ke Business yg lagi trending

Ruang guru & zoom jadi booming, cloud juga.

Makin byk perush cari survival mode agar dpt cash. Ini akan lama.

Sejauh vaksin tdk ditemukan kita akan ragu. Nanti pesawat akan adaptasi ksh jarak 0.5 mtr, bioskop juga akan jadi separuh kursinya.

Perush yg blm masuk digital hrs bgmn:
1. Arahnya ke cloud, IT as services. Masalah capability
2. Jual lewat socmed
3. Model Business direct to konsumen trend nya, misal Kalbe bikin Marketplace sendiri. Karena mengalami deepening & widening / wajib. Produsen hrs mengembangkan channelnya sendiri. Modal nyawa perush di data nya. Mrk hrs punya big data sendiri.
4. Marketplace spt tokopedia

Dlm waktu 1 bln dipaksa beli online.

Strategi marketing di era covid & building branding utk Business yg lagi bgs, mrk hrs empatik. CSR hrs kuat, giving, ksh solusi. Jgn hard sell. Spiritnya membantu.

Bagi yg businessnya kurang bgs masuk ke survival mode atau pivot spt Martha Tilaar. Lippo mall/hotel.

Semakin besar, semakin sulit berubah. Contoh Garuda : cargo. Food online delivery.

Toyota / Astra utk survive tdk mudah, ada yg mati, ada yg survive.


UKM gampang pivot ke jualan nasi goreng dll.

Konsumen akan hold spending utk jaga2 kebutuhan yg essential spt grocery, kesehatan & higienitas.

Segmentasi pemenuhan kebutuhan pasar. Walaupun big discount konsumen msh tahan spending. Termasuk perusahaan menunda bayar supplier. Kelangsungan hidup menjadi yg utama.

Sekolah sdh mulai online course termasuk konsumen.

Tips :
1. Jangan berpikir pandemi ini sementara, ini mirip katak yg di kuali yang airnya dipanaskan...  Karena ini bisa 1 -2 th menurut Bill Gates, Paul Romer, Yuval Harari, dll.
2. Business yg terpuruk harus cari survival mode atau model bisnis baru;
3. Business yg booming harus branding & soft selling, jangan hard selling.
4. Makhluk yang bisa survive bukan yg paling besar / kuat / kaya tapi yg paling bisa beradaptasi (Darwin)
5. Hadapi & terima kenyataan.
6. Fokus pada hal yg mungkin dilakukan
7. Upgrade diri utk bisa beralih dari offline selling ke online selling.
8. Bantu mereka yg hrs dibantu, peduli dan berbagi. 
9. Everything is changing; a new system is coming!

Just sharing

Sabtu, 09 Mei 2020

Mengapa Denmark Menjadi Salah Satu Negara Termakmur Dunia ?? KARAKTER!!!

*Mengapa Denmark Menjadi Salah Satu Negara Termakmur Dunia ??.*
   
*Oleh: Prof. Dr. H. Komaruddin Hidayat.*

Mari kita belajar kebaikan dari siapa saja, dari mana saja dan kapan saja.

Mengapa Denmark menjadi salah satu negara paling makmur di dunia ?. 

👉 Padahal negaranya tidak memiliki sumber kekayaan alam yang melimpah, 
👉 padahal kondisi musim di negara itu sangat ekstrim karena dekat dengan kutub utara. 
👉 Padahal di negeri ini matahari dan siang hari hanya sebentar saja, terutama di musim dingin.

Suatu hari tanpa sengaja, saya mengarahkan jari-jemari saya melalui google untuk membuka sejarah negara Denmark.

Dari info Wikipedia yang kebetulan saya baca ternyata Denmark adalah negara paling nyaman untuk tempat tinggal manusia di dunia, negara dengan pendapatan penduduk paling tinggi di dunia, juga menjadi negara paling makmur di dunia paling bersih di dunia hingga mendapat gelar “Negeri Dongeng”.

Meskipun kemudian tingkat kenyamanannya tergeser oleh New Zealand. 
New Zealand menempati urutan pertama negara paling nyaman untuk tempat tinggal manusia di dunia.

*Sebagai seorang pendidik, saya langsung berpikir bahwa mungkin yang menjadi penyebab Denmark dan New Zealand menjadi negara termakmur adalah karena* *pendidikan mereka yang sangat baik.*

*Namun ternyata dugaan saya keliru. Orang-orang Denmark justru percaya bahwa penyebab dari negaranya menjadi negara termakmur, ternyaman dan teraman adalah karena masyarakatnya jujur.* 

Orang Denmark percaya bahwa semua kebaikan yang ada di negaranya berawal dari kejujuran, pada saat seorang jujur maka semua fasilitas umum untuk rakyat akan terbangun dengan baik oleh pemerintah, sebagaimana mestinya sesuai standar mutu yang telah ditetapkan di segala bidang mulai dari kesehatan, pendidikan, kesejahteraan dll.

Masyarakat Denmark percaya bahwa kejujuran bisa melahirkan segalanya. 
Mereka percaya bahwa setiap manusia itu pintar, dengan kejujuran maka setiap kepintaran manusia akan menjadi manfaat bagi sesama dan seluruh negeri.

*Mereka yakin jika setiap aparat pemerintah jujur, mulai dari pejabat, menteri, polisi dan seterusnya dan rakyatnya jujur maka sebuah negara bisa menjadi makmur tanpa perlu menjadi yang paling pintar di bidang pendidikan.* 

*Ternyata memang benar, Denmark masuk dalam salah satu negara dengan tingkat korupsi nyaris nol, seperti juga di Finlandia dan New Zealand.* 

*Karena kejujuran itulah akhirnya pendidikan di negara ini pun menjadi lebih baik dan sangat maju. Jadi tidak salah jika kita katakan bahwa ketidak jujuran (mental korup), akan melahirkan bencana berantai dalam sebuah negara.* 

Mereka begitu yakinnya bahwa kejujuran adalah awal dari semua kebaikan dan bukannya kepintaran.

*Kira-kira 10 tahun silam, kejujuran dan etika moral adalah prioritas utama, sedangkan kepintaran itu kita kembangkan kemudian, karena kita juga yakin bahwa setiap anak terlahir pintar.* 

Kita tidak terlalu pusing jika seorang anak belum bisa berhitung saat masuk SD atau bahkan setelah sekolah SD, *tapi kami sangat peduli jika sorang anak tidak jujur dan beretika buruk.* 

Dan setelah membaca artikel ini sepertinya saya diingatkan kembali oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk tetap mempertahankan apa yang sudah kami yakini.

 *Bahwa karakter, perilaku dan kejujuran adalah landasan untuk membangun Indonesia yang kuat adil, makmur dan sejahtera, bukan sekedar angka-angka akademik yang tertera di buku-buku raport sekolah.* 

Belajarlah juga dari pengalaman negara lain. 
Semoga kita bisa mengawali dari lingkup terkecil yakni keluarga dan sekolah kita.

*“Sebagai warga negara 🇮🇩... Mari kita melakukan segala hal di Rebuplik ini dengan JUJUR dan BERTANGGUNGJAWAB demi Bangsa dan Negara Tercinta INDONESIA.*

*JUJUR itu memang INDAH.*

*BAHAGIA !!.*

Selasa, 14 April 2020

WORK FROM HOME BUSINESS YUSWOHADY


Alhamdulillah pagi ini cerah dan semoga kita semua dalam kesehatan yang prima dan keselamatan dari wabah virus corona ini, bagi yang terpapar mari kita bersama-sama bahu membahu menyembuhkan diri dan kerabat dan saling tolong-menolong.

Beberapa hari terakhir ini (fase WFH ke 2 dengan pemeberlakuannya PSBB di beberapa wilayah - dan akan terus menuju ke nasional coverage) saya banyak bertemu dengan beberapa pengusaha - entrepreuneur - pemilik perusahaan - top management baik perusahaan kecil, menengah dan besar ada 3 type yang bertemu dan berdiskusi dalam mensikapi kondisi saat ini :

1. Beberapa sahabat yang begitu sangat positif karena berkah "Blessing in disguise" dalam kondisi peribahan dampak covi-19 ini mendapatkan kesempatan peningkatan omset dan penambahan kapasitas kerja dan SDM. Dan bahkan dalam kondisi ini ada sahabat yang mendapatkan injeksi investasi yang terbilang cukup besar.

2. Ada beberapa sahabat yang tetap semangat dan ceria dan terus menularkan positivity kepada lingkungannya dengan terus berbagi : sharing ilmu, berbagi tentang tips menghadapi siatuasi berat ini hingga mentoring-mentoring class gratis untuk saling menguatkan dan saling mendorong untuk terus bertahan dan bangkit mencari celah kesempatan. Sahabat di type 2 ini lah mereka yang sanggup melakukan pivot bisnis mulai dari : 

- awalnya toko untuk persiapan baju muslim ramadhan Raya pivot menjadi toko minuman kekinian dengan delivery services, 

- merubah pabrik konveksi baju menjadi APD kesehatan, 

- perusahaan teknologi development yang tadinya fokus di pengembangan produk khusus menjadi produk SaaS, hingga 

- perubahan yang tadinya perusahaan pembersih sofa dan bed menjadi perusahaan disinfectant, 

- dan dari tadinya perusahaan pabrik kosmetik menjadi perusahaan sanitasi product seperti hand sanitizer dll.....

3. Namun dari sekian banyak yang terdampak dapat mengambil celah kesempatan dengan pivoting bisnisnya, lebih banyak saat ini yang memang betul terdampak dan tak bisa berbuat banyak.... 
- seperti industry F&B yang semua berbasis Dine in menghadapi tekanan lebih berat, 
- perusahaan Hotel dan travel sesungguhnya ambyar, 
- pemilik perusahaan jasa transportasi publik berfikir keras merubahnya menjadi perusahaan angkutan barang tanpa orang, 
- perusahaan teknologi yang berbasis teknologi solution design base menjadi terhambap proses deal dan implementasi, 
- hingga tekanan bagi perusahaan kosmetik yang berbasis salon dan layanan fasilitas umum entertaiment seperti bioskop, salon, fitnes dll.

Alhamdulillah, kami terkumpul dan saling terhubung di beberapa grup komunitas yang saling bahu membahu memikirkan dan mengusahakan dengan sangat bersungguh-sungguh dan keras untuk dapat melewati masa sulit ini berasama seluruh team dalam organisasi.
hampir semua dari para pengusaha, pemilik bisnis, entrepreneur dan Top management ini hampir bersepakat memiliki jiwa dan misi yang sama : bagaimana menyelamatkan karyawan - karena PHK itu adalah kalo bisa jadi langkah terakhir! 

Kami saling membantu bagi perusahaan yang terkena dampak terpaksa harus PHK kami buka kesempatan untuk mengalihkan karyawan2 tersebut pada perusahaan yang di point 1 dan 2. 

Hingga kami para pengusaha dan top manageent ini sudah ikhlas mengorbankan diri untuk memotong pendapatan or gaji demi keberlangsungan perusahaan.

Beberapa catatan perubahan behaviour customer memasuki fase 2 WFH bebentuk PSBB ini. 

Di fase pertama : terjadi peningkatan penjualan di bisnis : FARMASI - directly terkait dengan corona - Masker, APD, vitamin, daya tahan tubuh, supplement - 

hingga delivery services retail dan ecommerce dan makanan siap saji ke kinian

Di fase ke dua ini perlahan bergerak : diproduk healthcare yang direct ke corona tetap tinggi namun tidak setinggi sebelumnya, mulai meningkat indirect kesehatan dan lifestyle seperti :

1. Kesehatan dan LifeStyle: 
1a. peralatan fitness dan gymnastik untuk latihan kebugaran di rumah dan 
1b. perlatan memasak seperti mixer, spatula, oven dll meningkat krn family muda dengan anak2 sudah mulai mencari kegiatan dengan memasak bersama. 
1c. Peralatan home salon : cat warna rambut hingga peralatan salon2an dan alat cukur meningkat : yang gondrong mulai pada cukur sendiri. semua yang terkait dengan DIY alias Do It Yourself itu meningkat


2. Homedecor dan furniture juga meningkat peningkatan dengan WFH dan SFH beberapa keluarga sudah mulai menset up home office atau ruang kerja di rumah masing - masing termasuk penjualan peralatan elektronik dan gajet.

3. F&B : semakin banyak perubahan dari dine in dipaksa untuk delivery maka meningkatlah makanan produk Frozen dan Marinate Food yang secara automatis meningkatkan penjualan peralatan dapur dan dan perlengkapannya - freezer dan chiller. yang menarik diindustry makanan adalah semakin banyak muncul Home Food Brand dan mulai ibu-ibu saling membuat masakan dirumah dan menjualnya di online atau di group-group messenger keluarga dan komunitas dan tak lupa makanan kampung halaman semakin meningkat transaksi antar kota nya! karena kangen tak bsa pulang kampung.... makanan oleh-oleh meningkat tajam.

4. Training dan hal-hal webinar class tentang DIY dan creativity meningkat sekali dengan tema-tema yang sangat bervarian. Lama-lama bosen juga nonton Drakor Melulu. Bahkan ini menjadi bukti.... pengajian online semakin banyak (apalagi menjelang Ramadhan - ingat 11 HARI LAGI PUASA loh) bahkan undangan Tahlilan Online bagi keluraga yang sedang duka itu sudah terjadi. bahkan Yoga Class Webinar jadi favorit sekarang.

5. banyak peluang lain yang bisa kita lakukan dan ambil sebagai manfaat untuk melanjutkan keberlangsungan bisnis.... NEW FUTURE NORMAL IS CREATING NOW!

Foto : Rise & Fall of Stay @ Home Economy Mas Yuswo Hady

Minggu, 05 April 2020

50 Work from Home Profession



50 Work-From-Home Jobs Paying as Much or a Lot More Than the Average American Salary

The money can be pretty good but you're on your own. For some people that's the best part.

There was a time when working from home was a pipe dream, but recently, there's been a surge of jobs you can do from your own place.

Whether that’s working remotely for a company or starting your own business, there’s no shortage of work-from-home opportunities. Here are 50 options, many of which can generate annual earnings that equate to more than the average American salary. 

1. Affiliate Marketer / Salesman

For those unfamiliar with affiliate marketing, it’s simply referral marketing where you earn a commission. Let’s say that you have a website and refer a book on Amazon. When the visitor clicks the affiliate link and buys the book, Amazon will pay you a percentage of the sale. People love affiliate marketing because they can start earning money passively with few startup costs.

Related: 5 Ways to Ensure Remote Employees Feel Part of the Team

2. Animator

Are you an artistic and creative individual who is able to create animation and visual effects for television, movies, video games and other types of media? Then you can work at home as freelance animator. (Personally, I’ve seen animators make between $25 to $106 an hour on sites like Upwork.)

3. Baker/Caterer/Chef

If you have a knack for baking or cooking, then turn your passion into a side business. From your own kitchen, you could start a catering business or become a personal chef. If you’re a baker, you could sell you goods to friends, neighbors, online or at local farmer’s markets.

4. Blogger

Blogging is inexpensive and easy to start doing. It could be as simple as you just writing about your favorite music or food, and eventually, you can start generating money from your site. Just keep in mind that you need to pay patient when it comes to cashing in on your blog. If this is something you want to pursue, check out this guide.

5. Bookkeeper / Accountant

Believe it or not, you don’t have to be a CPA to start bookkeeping. Just sign up for a bookkeeping course at a community college or even online (such as this course from The Accounting Coach). Once you complete a course, you can start earning, and the median salary is reportedly $34,000. (Some stay-at-home bookkeepers I've spoken with personally make more than $70,000.)

6. Child Caregiver at Home

Whether if it’s just for a couple of hours or for the entire day, running a childcare business from your home can be lucrative. Just make sure that you obtain the correct licenses and permits.

7. Clinical Research Coordinator

Clinical research coordinators help manage operations for clinical trials. You could make more than $48,000 with this job, and you don't need a bachelor's degree.

Related: Bashing the Stereotypes: What You Need to Know About Gen Z

8. Consulting / Data Analyst 

If you have experience and knowledge in a specific area, then consider sharing it with others. For example, if you’re an accountant or lawyer, then you can provide advice to small businesses for a pretty penny. You could also consult businesses on how to use a new software program or how to become more environmentally friendly. (If you're interested, my company offers a consulting guide to get started.) . More examples: 

Business Consultant, Business Analyst

9. Customer Service Representative

Do you possess excellent communication skills? Do you also have a landline and reliable internet? Then you can earn between $8 and $15 per hour as a customer service representative.

10. Data Entry

Inputting data for businesses isn’t the most of exciting of jobs. However, you don’t need any previous experience, and you can start at $10 per hour.

11. Copy Writing

You can write copy for businesses from your home and, in some cases, earn up to six figures. Try Fiverr or Upwork to find gigs. 

12. E-commerce Store Owner

There are five types of e-commerce business models: dropshipping, wholesaling, manufacturing, white-labeling and subscriptions. Thanks to sites like Shopify, Magento and WooCommerce, you can quickly launch your own ecommerce store.

13. Editing and Proofreading

Companies like Book in a Box pay around $20 per hour to editors, book jacket designers and proofreaders.

14. Event Planner

Whether if it’s planning a wedding, birthday party or corporate event, people are looking for organized individuals to do most of the event planning for them.

Related: Learn the 4 Principles That Helped This Virtual Company Become One of the Best Cultures in America

15. Film and Post Instructional Videos

Are you really good at something? Try creating a YouTube account and filming yourself instructing others on how to do what you're skilled at. To start earning some cash, enroll in YouTube’s partner program so that you can make $1 to $2 per 1,000 views.

16. Grant Writer

Universities, hospitals, and nonprofit organizations often need to apply for grant money. Since these applications can be difficult to write, these businesses often turn to talented grant writers. As a grant writer, you can make between $40,300 and $67,000 per year.

17. Graphic Designer

Many businesses are in need of someone to design their logos, websites or visual ads. If you have a degree or certification in this area, you can make a comfortable salary annually (reportedly $45,000 and up). The more skilled you are, the more clients you'll likely get through word of mouth. Here's a guide on how to build a website that can help you get started.

18. Handmade Crafter

Do you make handmade products like jewelry or furniture? If so, try setting up an Etsy shop and selling your handmade crafts online.

19. Instructor

Do you know how to play a musical instrument? Can you get people into shape? Whatever your knowledge or experience, some people will pay you to share that information with them, whether in person or online.

20. Internet Security Specialist

As an internet security specialist, you monitor networks for security threats and implement security standards. You may also install data protection systems as well. Given the attention that online security has been receiving, this job is expected to grow steadily over the next several years.

Related: How to Stay Motivated Working From Home

21. Online Juror

When attorneys prepare for a trial, they often seek feedback on their case. Depending on the mock jury website you choose, you can make between $5 to $150 for your opinion.

22. Online Teacher

Are you a teacher who's looking for a more flexible schedule? Then consider teaching via Skype or via a pre-recorded session through organizations like K12and Connections Academy.

23. Patent or Intellectual Property Lawyer

Applying for a patent or protecting intellectual property are both areas where expert advice is needed. As such, if this is your area of the law, you could reportedly make between $112 and $121 per hour.

24. Peer-to-Peer Lender

Thanks to sites like Lending Club and Prosper, you can easily lend money to a business or individual. As an investor, you'd make money on the paid interest of the note.

25. Pet Groomer

Do you love being around animals? Are you also patient enough to clean and style pets? If so, this could be a great home-based business.

Related: The Biggest Do's and Don'ts of Video Conferencing

26. Photographer/Videographer

Even though everyone has a camera on their phone these days, there’s still a need for these types of professionals like for events like weddings. You can also sell your images on sites like Foap.

27. Product Reviewer

You can make a decent living (reportedly between $20,000 and $95,000) just by reviewing the products that you use daily.

28. Programmer

Learn a programming language, such as Ruby, and you could end up making around $61 per hour for programming. If you’re interested, here’s a handy programmer guide to get you on your way.

29. Realtor

While you can run a reality business from your home, as long as you have your state’s real estate license, you still need to show potential buyers the home. But don’t forget that you also have to prepare the home for showing. Thanks to technology, you can become a virtual realtor where you can show a property without having to be there in person.

30. Renter 

Do you have an extra bedroom? How about a car you don’t drive everyday? Are there household items laying around collecting dust? If so, try renting them out to people who could use them. (I personally made over $50,000 renting out my basement in 2017.)

31. Repairer

If you have a knack for fixing things, like bicycles, cars or computers, then consider launching your own repair business. It probably doesn’t cost more than a little marketing to get started since you probably already have the tools and resources.

Related: 3 Ways to Keep Employees Productive at Home

32. Short Tasks

A short task is a job or assignment that can be completed quickly. Examples include writing a review, taking a survey, or watching a video. They may not pay much, but it’s a fast and easy way to make money from home. Here’s a list of short task sites you can check out if interested.

33. Social Media Manager

There are a lot of organizations who need someone to manage their social media accounts, and some may even want you to completely develop a social media strategy for them.

34. Stylist

If you love fashion and want to work from home, then you can become an online stylist. Some reportedly make up to $15 an hour. 

35. Survey Taker

This won’t make you a millionaire, but you can be paid between $1 and $50 each time you take an opinion poll, answer questions about your shopping habits or review a product. You’re usually paid by check, PayPal or points that can later be redeemed for gift cards.

36. Tax Preparer

Even though this is a seasonal gig, you can make a salary of over $30,000. Don’t forget to register with the IRS before you start this home-based business.

37. Become an Expert

Nowadays, people are going online to find experts at things they themselves may be struglging with. A growing trend is hiring an expert versus hiring a large company to come in and help fix problems. One resource is Catalant, which hires out experts from $15 an hour to $280 an hour. That's one option if you're looking to help others with your knowledge.

Related: How This Mom Grew Multiple 6-Figure Businesses From Home

38. Telephone Nurse

If you’re a registered nurse, then you could work for health insurers or health management companies like Humana, Aetna and UnitedHealth Group. They hire nurses remotely to handle case management, treatment authorization and patient education.

39. Transcriber/Transcriptionist

This job essentially means listening to audio files, such as lectures or doctors' medical dictations, and then typing out what you hear. It’s an entry-level gig that can pay up to $25 an hour.

40. Translator

Are you fluent in another language? Start earning a living off of this skill by translating documents or becoming an interpreter.

41. Travel Agent

Despite the fact that there are numerous travel sites that make planning a trip a breeze, it can still be time-consuming. What’s more, there may be certain travel conditions that you are not aware of. That’s why there’s still a market for travel agents to scour the web for the best deals, share advice or plan itineraries.

42. Virtual Assistant

If you’re organized and can handle office duties like replying to emails, calendar management, entering data and assisting with social media, then this job is perfect for you. And you can make between $10 and $15 per hour.

Related: 4 Reasons Not to Be a Stiff About Employees Working From Home

43. Virtual Public Relations Representative

Some small- to medium-sized businesses don’t have the budget for a dedicated chief marketing officer, a vice president of marketing or even a public relations firm. But they may have the funds to hire a virtual public relations representative to take care of duties like promoting a business or managing a crisis.

44. Virtual Recruiter

This is pretty much the same position as an in-house recruiter except you get to work wherever you want. The other major difference is that you search the web to find the right employee for the right position. You’re also responsible for screening the applicant and being a part of the interviewing and negotiation process. Some recruiters are paid upward of $125 an hour for building resume templates.

45. Virtual Tutor

If you have extensive knowledge in a specific area, then you could earn between $12 to $35 per hour by tutoring students either over the phone or on Skype.

46. Voice Acting

If you have a golden voice, you can make somewhere between $56 and $72 per hour.

47. Web Developer

Depending on the specific job, as well as your expertise, you could bring in between $55,000 and $175,000 per year building websites from scratch.

Related: The Legal Implications of Expecting Employees to Work After Hours

48. Web Search Evaluator

In order to deliver the most accurate service to customers, search engines pay individuals to analyze search results. You don’t need to have much experience, and you can haul in $12 to $15 an hour.

49. Website Tester

Businesses want to make sure that their websites are intuitive and easy to navigate. As such, they’ll assign instructions for people to follow to check out their site. Each test usually takes around 15 to 20 minutes. In return, you’ll often be paid $10 to $15 per test.

50. Writing Gigs

Businesses of all sizes need written content, like blog posts, website copy or eBooks. As a result, there are thousands of writing gigs available that pay anywhere between $10 to $100 per hour.


Kamis, 02 April 2020

Coronavirus to Humanity

Coronavirus Letter To Humanity

The earth whispered but you did not hear. 
The earth spoke but you did not listen
The earth screamed but you turned her off. 

And so I was born...

I was not born to punish you.. 
I was born to awaken you..

The earth cried out for help...

Massive flooding. But you didn't listen. 
Burning fires. But you didn't listen. 
Strong hurricanes. But you didn't listen. 
Terrifying Tornadoes. But you didn't listen. 

You still don't listen to the earth when. 
Ocean animals are dying due to pollutants in the waters. 
Glaciers melting at an alarming rate. 
Severe drought. 

You didn't listen to how much negativity the earth is receiving.

Non-stop wars. 
Non-stop greed. 

You just kept going on with your life..
No matter how much hate there was.. 
No matter how many killings daily.. 
It was more important to get that latest iPhone than worry about what the earth was trying to tell you..

But now I am here.  

And I've made the world stop on its tracks. 
I've made YOU finally listen. 
I've made you take refuge. 
I've made you stop thinking about materialistic things.. 

Now you are like the earth... 
You are only worried about YOUR survival. 

How does that feel?  

I give you fever.. as the fires burn on earth. 
I give you respiratory issues.. as pollution fill the earth air. 
I give you weakness as the earth weakens every day.  

I took away your comforts.. 
Your outings.  
The things you would use to forget about the planet and its pain.  

And I made the world stop... 

And now... 
China has better air quality.. Skys are clear blue because factories are not spewing pollution unto the earth's air. 
The water in Venice is clean and dolphins are being seen.  Because the gondola boats that pollute the water are not being used.  

YOU are having to take time to reflect on what is important in your life.  

Again I am not here to punish you.. I am here to Awaken you... 

When all this is over and I am gone... Please remember these moments.. 

Listen to the earth. 
Listen to your soul. 
Stop Polluting the earth. 
Stop Fighting among each other. 
Stop caring about materialistic things. 
And start loving your neighbors. 
Start caring about the earth and all its creatures.  
Start believing in a Creator. 

Because next time I may come back even stronger....

Signed, 
Coronavirus

Rabu, 25 Maret 2020

@ HOME ECONOMY by Yuswohady

“Stay @ Home” Economy

March 25, 20201392 views

Dalam beberapa minggu ke depan ekonomi/bisnis akan mengalami kelumpuhan oleh wabah Covid-19. Ini adalah skenario terburuk kalau korban terinfeksi/meninggal terus meroket secara eksponensial seperti terlihat trennya beberapa hari terakhir. 

Dampaknya tak hanya sekedar “disruptif” tapi juga “interuptif” dimana pergerakan ekonomi bisa sampai terhenti, dan setelah wabah lewat para pelaku bisnis harus memulai dari nol.  

Bagan di bawah ini secara simpel menunjukkan bagaimana Covid-19 tak hanya menyerang kesehatan tubuh kita tapi juga akan melumpuhkan sistem ekonomi kita. 
Sumber: Baldwin, 2020

Kalau garis-garis yang menghubungkan bulatan-bulatan dalam bagan itu saya gambarkan sebagai “pembuluh darah” perputaran uang. Maka Covid-19 bakal menyumbat bahkan menutup pembuluh-pembuluh darah tersebut, hingga ke suatu titik nadir dimana aliran darah terhenti. 

Ketika karyawan dirumahkan, socialdistancing/lockdown diberlakukan, dan kemudian pelaku ekonomi (rumah tangga, perusahaan, lembaga keuangan) wait–and–see dan mengalami kesulitan cashflow maka resesi tak terelakkan lagi. 

Toko-toko tutup, 
perjalanan dilarang, 
perusahaan bangkrut, 
pengangguran dimana-mana, 
non–performing loan (NPL) menggunung, 
bank krisis, investasi mandek, cashflow sulit, 

begitu seterusnya membentuk vicious circle yang ujungnya membawa ekonomi terpuruk ke dalam resesi. Seberapa dalam resesi, akan tergantung pada seberapa cepat wabah berlalu. 

Berbeda dengan krisis-krisis ekonomi sebelumnya, proses keterpurukan menuju resesi tersebut tidak berjalan secara bergilir (domino effect) namun secara simultan(Baldwin, 2020). Itu sebabnya saya mengatakan Covid-19 menyebabkan ekonomi seperti “di-Ctrl-Alt-Del“. 

Namun di tengah lumpuhnya semua sistem ekonomi, masih ada denyut pergerakan ekonomi di unit yang paling kecil yaitu di rumah yang saya sebut: “stay @ home” economy.

Di tengah kondisi darurat krisis kesehatan (health crisis) yang bakal disusul dengan krisis ekonomi (economic crisis), “stay @ home” economy memegang peran paling krusial bagi perekonomian: 

“Stay @ home” economy akan menjadi penopang kemampuan survival kita dalam menghadapi kemungkinan terburuk krisis ekonomi akibat Covid-19. 

“Stay @ home” economy akan menjadi faktor kunci ketahanan (resilience) kita dalam menghadapi kemandekan ekonomi.   

Dan “stay @ home” economy pula yang akan menjadi titik mula kita dalam melakukan recovery dan kemudian menemukan mementum pertumbuhan kembali. 

Apa itu “stay @ home” economy? 

Gampangnya adalah ekonomi yang digerakkan oleh pelaku ekonomi yang TINGGAL DI RUMAH. Inilah ekonomi yang sebagian sudah kita jalani sekarang dan dalam beberapa minggu ke depan kita akan dipaksa menjalaninya secara full begitu wabah terus berkepanjangan. 

Sekali lagi dalam kondisi terburuk, saat kita sudah tidak boleh keluar rumah lagi karena social distancing atau bahkan lockdown, maka aktivitas ekonomi akan lumpuh. Ketika toko-toko tutup, mal-mal tutup, warung/resto tutup, kantor-kantor tutup, hotel-hotel tutup, bioskop/tempat hiburan tutup, bahkan pabrik-pabrik tutup, maka satu-satunya aktivitas ekonomi yang masih berjalan adalah di dalam rumah.  

Thanks DIGITAL, dengan kemajuan teknologi digital, maka kegiatan berbelanja, bekerja, belajar, atau menikmati hiburan masih bisa dilakukan di rumah. 

Dengan Tokopedia kita masih bisa belanja online. 
Dengan GoFood kita masih bisa memesan makanan. 
Dengan Zoom atau Google Hangouts kita masih bisa remote working. 
Dengan Ruangguru anak-anak masih bisa belajar online. 
Dengan Halodoc kita masih bisa konsultasi dokter. 
Dengan Netflix kita masih bisa menikmati film tanpa harus ke gedung bioskop.

Itu sebabnya saya menyebut, digital adalah pilar dari “stay @ home” economy. Digital adalah “jantung” yang memungkinkan geliat ekonomi di rumah bisa tetap berjalan.

Dengan adanya “stay @ home” economy yang ditopang oleh perangkat digital, maka nadi perekonomian masih bisa berdenyut. Kegiatan ekonomi seperti 

online shopping, 
food delivery, 
remote working (“work from home“, WFH), 
online schooling, 
telemedicine, 
hingga home entertainment masih bisa bergerak walaupun tentu tidak bisa mengompensasi kelumpuhan ekonomi secara total. 

Di sini “stay @ home” economy berperan krusial sebagai “genset” darurat di saat perekonomian secara keseluruhan sedang mengalami “blackout“. 

Namanya penyelamatan sementara, maka tentu saja “stay @ home” economy tak akan mampu menopang perekonomian dalam waktu panjang. Ia mungkin hanya bisa menyangga 1, 2, atau 3 kuartal ke depan. Kita berdoa semoga wabah Covid-19 tak berkepanjangan, sehingga “stay @ home” economy masih bisa menyelamatkan perekonomian kita.  

Lalu bagaimana prospek “stay @ home” economy ini ke depan? Jelas selama krisis Covid-19 akan menggeliat secara eksponensial. Tapi apakah setelah krisis berlalu, “stay @ home” economy tetap berlanjut tumbuh secepat sekarang? 

Wabah Covid-19 secara mendalam akan membentuk stay @ home lifestyle yang bakal menjadi kenormalan baru (newnormal) setelah krisis berlalu. Gaya hidup baru inilah yang menjadi landasan terbentuknya “stay @ home” economy. 

Ingat, Covid-19 akan menjadi trauma mendalam bagi konsumen dan ancaman wabah semacam akan terus dan selalu membayang-bayangi mereka bahkan setelah krisis berakhir. 

Jadi Covid-19 akan menciptakan perubahan perilaku konsumen yang bersifat permanenyang pada giliran membuka jalan bagi terbentuknya “stay @ home” economy sebagai sebuah kenormalan baru.   

Di dalam kenormalan baru tersebut beberapa tren berikut akan terjadi:

Secara umum percepatan adopsi digital (digital transformation) baik oleh konsumen maupun produsen akan terjadi. Covid-19 akan menjadi “catalyst” bagi adopsi digital. Oleh karena itu tak berlebihan kalau saya sebut, berakhirnya wabah Covid adalah: “renaissance of digital adoption” di Indonesia. Di tengah ancaman wabah di masa depan yang terus mengintai, ibu-ibu rumah tangga makin cepat mengadopsi onlineshopping; karyawan “dipaksa” mengadopsi WFH dengan memanfaatkan digital platform; guru dan murid kian nyaman melaksanakan online learning, begitupun generasi mager (“malas gerak”) dan generasi “rebahan” makin subur dengan adanya layanan seperti Netflix, GoFood, atau online gaming yang bakal berkembang pesat.   

Revolusi dalam online shopping terjadi dimana konsumen berbelanja online tak hanya untuk produk-produk fesyen, travel, elektronik, atau entertainment seperti sekarang ini, tapi makin dalam ke pembelanjaan grocery dan kebutuhan-kebutuhan dasar sehari-hari. Minimarket seperti Indomaret/Alfamaret akan menyesuaikan diri dengan mengembangkan omni–channel (O2O: offline to online). Dampaknya bisa diduga, peritel-peritel fisik/tradisional akan kian berat.  Covid-19 juga mendorong penerapan Tech 4.0 seperti virtual dan augmented reality(VR/AR) khususnya di sektor ritel. Untuk mengurangi risiko ancaman wabah virus di kemudian hari teknologi VR/AR memberikan solusi menciptakan pengalaman belanja seperti di toko fisik walaupun si konsumen berada di rumah. Di sektor ritel VR/AR bakal menjadi kenormalan baru.  

Dengan makin matangnya “stay @ home” lifestyle, maka resto-resto akan menyesuaikan diri dengan mengubah model bisnisnya ke arah online delivery services. format seperti “ghost kitchen” atau “dark kitchen” seperti Pizza Hut Delivery akan marak. Mal-mal pun akan semakin tidak populer. 

Layanan aplikasi remote working seperti Zoom, Google Hangouts, Slack, dan WeChat Work, akan semakin populer memanfaatkan momentum shifting dari traditional working ke WFH. Gig economy akan semakin booming untk beragam pekerjaan seperti: programer, content creator, sales, hingga analis data.  Dengan makin banyaknya perusahaan dan karyawan yang menerapkan WFH, maka batas-batas antara “living–working–playing“ (berkeluarga-bekerja-bermain) menjadi kian kabur. Berita baiknya: life-work balance membaik, kepuasan karyawan meningkat, dan akhirnya produktivitas terdongkrak. WFH akan menjadi mainstream. 

Karena keharusan physical distancing, konsumen “dipaksa” untuk mencoba dan bereksperimen menggunakan layanan telemedecine seperti Halodoc dan Alodokter. Setelah nyaman dan terbiasa, maka perubahan perilakunya akan permannen dan telemedicine akan menjadi cara baru berobat dan membeli obat. Ini membuka jalan bagi Halodoc menjadi the next unicorn.  

Dengan uang fisik (kertas maupun logam) bisa menjadi sumber penularan wabah yang massif, maka konsumen kian merasakan urgensi untuk bermigrasi massal menggunakan cashless payment. Ini diikuti bank sentral di seluruh dunia yang mulai mendorong penerapan cashless payment karena pengalaman traumatis Covid-19.
  
Universitas dan kursus-kursus akan berlomba-lomba memperkenalkan online learning. Maka tak terhindarkan lagi MOOCs (massive open online course) yang selama ini terkendala akan menemukan critical mass-nya. Sementara platform belajar online seperti Ruangguru akan menjamur. 

Berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan tinggal di rumah karena social distancing konsumen mulai terbiasa dengan layanan home entertainment seperti Netflix, Spotify, atau online gaming. Pasca krisis dampaknya bisa permanen dimana mereka mulai kecanduan. Model bisnis subscription untuk layanan streaming bakal booming.  

Lama ngendon di rumah juga mendorong maraknya produk dan layanan homefurnishing seperti yang diberikan IKEA, Informa, atau Fabelio. Semboyan mereka adalah: “Rumahku adalah Istanaku”. Tarikan ke arah tren ini kuat sekali karena plafrom media sosial seperti Instagram dan Facebook bisa menjadi “medium pamer” mereka ke netizen.  

Kalau ditanya bisnis apa yang bakal marak selama krisis Covid-19 dan setelah krisis usai? 

Maka jawabnya sudah pasti adalah bisnis-bisnis yang menopang “stay @ home” economy. Tak heran jika beberapa minggu terakhir saham Netflix atau Zoom meroket beberapa minggu terakhir dan bakal tetap robust ke depan.    

Kalau benar resesi ekonomi hingga ke titik nadir dan kita harus menyongsong pasca krisis Covid-19 dengan memulai dari nol, maka melalui uraian di atas Anda para marketers/entrepreneurs sudah tahu harus masuk ke bisnis-bisnis apa saja. 

Selalu optimis. Ingat Wei-Ji: di setiap krisis selalu ada peluang. 

Welcome “stay @ home” economy. 


YUSWOHADY