Senin, 23 November 2015

Setya Novanto, Luhut, Chalid dan KMP

"Saya harus pinter seperti Jokowi 🙏🙏🙏"

Jokowi Di atas Angin, Paksa KMP Bela Setya Novanto, Luhut Terperangkap

22 November 2015 00:33:44

Jokowi marah besar atas pencatutan namanya. Reaksi itu disetujui publik dan itu tidak berlebihan. Di sini Jokowi mulai di atas angin. Simpati publik mengalir deras kepadanya sebagai pihak yang dizalimi. Reaksi Jokowi selanjutnya terukur, pas, tepat dan cerdas. Dia tidak mau melaporkan si pencatut kepada polisi langsung. Bola liar dilempar Jokowi lebih dulu kepada Mahkamah Dewan Kehormatan (MKD) di DPR. Kepada MKD, Jokowi bersuara merdu: ‘Ia Jakowi sangat menghormati dan percaya kepada MKD’.

Jokowi yang cerdas, tahu betul siapa itu MKD. MKD itu adalah ‘Mahkamah Kepura-puraan Dewan’. Sebuah Mahkamah Pembela Novanto. Makanya Jokowi mengatakan ‘menghormati dan mempercayai’-nya. Kata ‘menghormati’ di sini berarti menghargai keberadaan MKD dalam arti sesungguhnya agar publik mengamini reaksi Jokowi dan tidak mencelanya. Namun di waktu bersamaan Jokowi mengatakan ‘mempercayai’ MKD. Di sini Jokowi bermain cerdas. Mempercayai MKD berarti percaya bahwa MKD itu akan membela Novanto dan mengadakan sidang penuh drama semu.

Lewat Jusuf Kalla yang ikut namanya dicatut, Jokowi memancing ‘darah muda’ KMP seperti Fadli Zon dan Fahri Hamzah. Kalla bermanufer, mencoba menggaruk kembali emosi lama mengerek kembali perseteruan KIH vs KMP. Sejumlah politisi PDIP sengaja memancing emosi Aburizal. ‘Awas, PDIP akan mengambil alih posisi ketua DPR’. Pancingan itu menyinggung harga dirinya. Ketua DPR itu adalah harga diri Aburizal Bakri yang termanifestasi dalam diri Setya Novanto. Maka tak berlebihan jika Aburizal Bakri mengatakan pelengseran Novanto dari jabatan ketua DPR adalah dosa. Haha, saat Aburizal dengan liciknya membuat gigit jari PDIP yang sebetulnya yang paling berhak mengambil posisi ketua DPR, itu bukan dosa. Saat terpojok, Ical mengeluarkan kata ‘dosa’.

Jebakan Jokowi yang melempar bola liar ke MKD dan memancing KMP membela Novanto berhasil. Kalkulasi Jokowi bahwa Aburizal Bakri akan menggerakkan KMP membela Novanto, sinyalnya sangat kuat adanya. Ical, panggilan Aburizal sudah mengeluarkan pernyataan bahwa KMP akan membela mati-matian Novanto. Di sinilah kecerdasan Jokowi terlihat. JIka KMP akan membela Novanto, otomatis kegeraman publik mengalir deras kepada KMP. Bagaimana mungkin Aburizal memihak orang yang jelas-jelas salah? Bagaimana mungkin KMP membela orang yang meminta ‘papa minta saham’. Itu adalah perilaku koruptif yang menjijikan rakyat. Membela orang yang berperilaku koruptif adalah sebuah kegilaan.

Jokowi memainkan psikologi massa. Pembelaan mati-matian KMP kepada Setya Novanto, justru diinginkan Jokowi. Jika KMP terus-menerus membela Setya Novanto, maka itu adalah bom waktu bagi mereka. Masyarakat semakin muak dan ujung-ujungnya reputasi partai-partai KMP semakin jeblok. Ini pukulan maut bagi partai-partai KMP yang menjagokan kadernya di Pilkada Desember mendatang. Begitu masyarakat mendengar calon dari Golkar, langsung muntah-muntah. Pada tataran ini, keuntungan ada di pihak PDIP. Demokrat sedikit kecipratan karena dia tidak pernah membela kadernya yang korup. Untuk tujuan jangka panjang, Jokowi mulai menanamkan kampanye terselubung memukul partai-partai KMP. Di samping itu, kasus Novanto, sebagai cadangan modal untuk bermanufer di masa mendatang.

Blunder Setya Novanto mencatut nama Jokowi jelas menguntungkan Jokowi. Kini Jokowi mempunyai alasan untuk menyikat para mafia di Freeport sekaligus mematikan libido para calo, makelar, para pemburu rente yang bermain di Freeport. Bahkan jika setelah kalkulasi sumber daya manusia Indonesia cukup mumpuni, maka Jokowi bisa memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak Freeport itu yang berakhir pada tahun 2021 mendatang. Moment kasus catut itu, datang tepat pada waktunya. Saat Freeport ‘keblinger’ ingin memperpanjang kontrak Freeport, sementara Jokowi mengatakan ‘tunggu’ hingga tahun 2019, kasus catut datang.

Apakah kasus catut itu tiba-tiba datang? Jelas tidak. Kepala BIN, Sutiyoso ikut bermain dengan Presdir Freeport, Maroef Syamsuddin, mantan wakil BIN. Skenario intelijen berbicara. Novanto yang ‘lihai bermain’ sudah lama diincar sebagai sosok perusak bangsa. Celakanya, Novanto lupa bahwa Syamsuddin, adalah orangya BIN. Novanto yang sudah terlena dengan jabatannya ketua DPR, dengan mudah masuk dalam skenario BIN dan direkam. Tugas Sutiyoso yang diemban dari Jokowi untuk melihat siapa yang bermain di Freeport berhasil dilakukan. Ternyata ‘malingnya’ dalam rekaman adalah: Luhut, Chalid, Novanto.

Kepercayaan Jokowi kepada Luhut sejak diangkat menjadi Kepala Staf Kepresidenan dan terakhir menjadi Menko Polhukam, ternyata disalahgunakan. Jokowi sudah tahu benar sepak terjang Luhut yang disebut-sebut ikut terlibat dalam bencana kebakaran hutan. Jokowi semakin tahu ‘kebusukan’ Luhut saat ada namanya disebut 16 kali oleh Novanto. Ternyata Luhut ikut ‘bermain’ dengan cantik. Revolusi mental yang sedang digalakkan oleh Jokowi, ternyata menjadi revolusi bermain cantik bagi Luhut.

Jokowi amat paham reaksi Luhut saat mengatakan bahwa soal kasus catut itu ‘saya dan kami tidak akan memperpanjang masalah’. Bukannya marah, tetapi memandang sepele kasus itu. Justru yang aneh, Luhut dengan panik menyebut Sudirman Said melapor ke MKD tidak atas restu Jokowi.
Padahal jelas sekali Jokowi dan Kalla mendorong Sudirman Said melapor ke MKD. Bahkan lebih geli lagi Luhut mengatakan bahwa laporan Sudirman itu ke MKD adalah aneh. Pesan pernyataan ini sangat vulgar sekali. Luhut tanpa malu membela Novanto karena takut luar biasa, kedoknya dibuka Novanto jika masalah diperpanjang.

Pembelaan Luhut atas Novanto itu jelas tindakan gila. Bagaimana mungkin seorang Menko Polhukam, yang namanya dicatut 16 kali tidak marah, tidak ikut juga melaporkan si pencatut ke MKD bahkan kepada polisi? Ini sebuah kegilaan. Namun Luhut rela melakukannya demi kepentingan bisnisnya. Kepentingan pribadi yang membuatnya masuk dalam perangkap. Luhut lupa daratan, bahwa ia sedang dipelototi oleh Jokowi. Masyarakat pun amat mencurigai Luhut sebagai ‘bagian pemburu rente’.

Perkembangan terakhir kasus catut itu melebar kemana-mana. Setya Novanto berbalik bermanufer dan menuduh Sudriman Said yang catut Presiden. Hal itu semakin memaksa Jokowi benar-benar berhitung terkait soal kasus catut itu akibat adanya keterlibatan Luhut yang selama ini orang kepercayaannya. Jokowi akan berhitung apakah melaporkan Novanto ke polisi seperti maunya Jusuf Kalla, membiarkannya mengawang-ngawang atau membiarkan Novanto menang atas Sudirman Said, mengorbankan Sudirman Said atau Luhut, atau dua-duanya. Dampak dan efeknya sedang dihitung dengan matang oleh para jenderal, politisi, ahli hukum, BIN yang ada di belakang Jokowi. Apapun keputusan Jokowi, indikasinya dia tetap di atas angin. Apapun keputusan MKD, Jokowi tetap di atas angin.

Terkait dengan Luhut, Jokowi yang sebetulnya sudah mau mengakhiri konsolidasi politiknya saat penggantian Budi Waseso pada Oktober lalu, kini kembali dipaksa melakukan konsolidasi strategis pada akhir Desember mendatang. Setelah Pilkada selesai, maka Jokowi akan mempertimbangkan penggantian Luhut sebagai Menko Polhukam pada reshuffle kabinet Jilid II dan bisa saja digantikan oleh Gatot yang sekarang dirindukan oleh Jokowi. Luhut yang juga pengusaha, tidak bisa membedakan instingnya yang mana kepentingan rakyat, dan yang mana kepentingan pribadi atau kepentingan bisnis. Keduanya dicampur-baur bagaikan kopi susu.

Jadi kasus catut itu menjadikan Jokowi di atas angin, memaksa KMP membela Setya Novanto secara membabi buta yang mengakibatkan KMP semakin terjerembab dan membuat Luhut masuk dalam perangkap, terbuka sendiri kedoknya.

Salam Kompasiana, Asaaro Lahagu

Minggu, 22 November 2015

Becoming A Person of INFLUENCE

Becoming a Person of Influence: How to Positively Impact the Lives of Others by John C. Maxwell

In Becoming a Person of Influence, John focuses on the following 10 ways (in bold text) a person becomes an INFLUENCER, and I've also added a supporting quote from my customized lesson. When John developed the content, he was very intentional. You'll notice each one of the 10 words begins with the letters that make up "INFLUENCER."

An Influencer has INTEGRITY with people

In order to be a leader a man must have followers. And to have followers, a man must have their confidence. Hence the supreme quality for a leader is unquestionably integrity. Without it, no real success is possible, no matter whether it is on a sections gang, a football field, in an army, or in an office. If a man’s associates find him guilty of phoniness, if they find that he lacks forthright integrity, he will fail. His teachings and actions must square with each other. The first great need, therefore, is integrity and high purpose.~ Dwight D. Eisenhower

An Influencer NUTURES people

There are a lot of coaches with good ball clubs who know the fundamentals and have plenty of discipline but still don’t win the game. Then you come to the third ingredient: If you’re going to play together as a team, you’ve got to care for one another. You’ve got to love each other. Each player has to be thinking about the next guy. ~ Vince Lombardi

An Influencer has FAITH in people

As you work to gain more influence, always remember that your goal is not to get people to think more highly of you. It’s to get them to think more highly of themselves. Have faith in them, and they will begin to do exactly that. ~ John C. Maxwell

An Influencer LISTENS to people

One of the best ways to persuade others is with your ears, by listening to them. ~ Dean Rusk

An Influencer UNDERSTANDS people

You can have knowledge without understanding, but you cannot have understanding without knowledge. ~ Mack Story

An Influencer ENLARGES people

You’ll always have everything in life that you want IF you help enough people get what they want. ~ Zig Ziglar

An Influencer NAVIGATES for people

The man who goes alone can start the day. But he who travels with another must wait until the other is ready. ~ Henry David Thoreau

An Influencer CONNECTS with people

The #1 criterion for success is the ability to connect with people. Connecting with people is the ability to identify with people and relate to them in such a way that it increases our influence with them. ~ John C. Maxwell

 An Influencer EMPOWERS people

Moral leaders exercise power for good purposes. Essential to this is that they do not hoard power; they give it away. There is no leadership without power. However, a leader will frequently want to distribute rather than to maintain power. Leaders empower their followers. ~ Terry Smith

An Influencer REPRODUCES leaders

Where there is no belief or hope for growth to be real, it is no longer attempted. People, or organizations, enter into a state of sameness, and as we have seen, that is really when things are no longer alive. Death is taking over not growth. ~ Dr. Henry Cloud

Jumat, 13 November 2015

Helianti Hilman JAVARA: Masalah Perdagangan

Kiriman foto dari Pak Tom Lembong (Menteri Perdagangan RI). Foto bersama setelah audiensi Presiden Jokowi dengan beberapa pelaku Bisnis Sosial dan Bisnis Inklusif. Satu jam yang intensif, dan akan berlanjut lagi dg sesi-sesi selanjutnya. Senang punya Presiden yang mau mendengar.

Kita menyanpaikan isu hambatan bagi usaha berbasis komunitas dan produsen skala kecil berikut contoh-contohnya terkait dengan:
1- regulasi yang tidak kondusif
2- birokrasi yang menghambat penetrasi ke pasar
3. standar nasional yang tidak peka dengan realitas perkembangan pasar
4- logistik transportasi dari luar jawa
5- akses ke energi untuk produktivitas
6. ketersediaan teknologi tepat guna yang peka dengan skala kecil dan kondisi pedesaan
7. akses ke pembiayaan
8.  technical assistance untuk kualitas paska panen dan produk bernilai tambah.

Tentunya akan masih banyak lagi. Monggo kalau ada teman-teman yang ada masukan juga ya.

Ini pesan wa dari Pak Tom Lembong: Selamat siang Mbak Heli - saya hutang budi besar ke Mbak Heli, karena tadi bicara terus terang dan apa ada-nya ke Pak Presiden...

Semoga ada tindak lanjutnya ya.
Kami berdoa untuk Indonesia yang lebih baik.

#bisnissosial #bisnisinklusif #socialentrepreneur #audiensipresiden #javaraindonesia #javaraindigenousindonesia #jokowi

Mahatma Gandhi: First they Ignore you, then Fight you and finally You Win


Dulu ketika Gandhi sdg belajar hukum di University College, London, ada seorg professor yg bernama Peter, yg kurang menyukai Gandhi.

-----

Suatu hari ketika Prof. Peter sdg makan siang di kantin kampus, Gandhi dtg & duduk di sampingnya sambil membawa mkn siangnya.

Prof. Peter berkata, "Gandhi, apakah anda tdk mengerti bahwa seekor babi dg seekor burung tdk duduk berdampingan untuk makan?"

Gandhi bagai org tua yg menatap anak nakal menjwb, "Jgn khawatir Prof. Sy akan segera terbang" & Gandi segera ngeloyor ke meja lainnya.

Muka Prof. Peters memerah penuh kemarahan & memutuskan utk balas dendam.

------

Hari berikutnya di dlm kelas dia sengaja mengajukan pertanyaan ke Gandhi: "Gandhi, andai kamu sdg berjalan tiba2 menemukan paket berisi 1 tas penuh uang & 1 tas penuh dgn kebijaksanaan; Mana yg kamu ambil?"

Tanpa ragu Gandhi menjwb "Ya uang lah."

Prof. Peters, tersenyum sinis & berkata "Jika itu aku, mk aku akan mengambil kebijaksanaan."

Gandhi menjwb: "...seseorg itu mengambil apa yg tdk dia punya."

--------

Prof. Peters hilang akal, tdk bs berkata apa2.
Dgn penuh kemarahan dia menulis kata "idiot" pd lembar jwban ujian Gandhi & memberikan ke Gandhi.

Gandhi mengambil & duduk sambil berusaha keras tetap tenang.

Bbrp menit kemudian Gandhi berdiri & menghampiri sang professor seraya berkata dgn sgt sopan, "Prof. Peter, anda hanya menanda tangani lembar jwban sy tapi belum memberi nilai." 😊

-------

Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.

Bersikaplah tenang & bijak apabila ada org yg membenci kita. Sebab semakin dia membenci kita semakin byk kebodohan yg akan dibuatnya.

Di dalam dunia yang penuh dengan kompetisi, ingatlah untuk tetap rendah hati sehingga kejadian berikut ini bisa terjadi :

"First they ignore you, then they laugh at you, then they fight you, then you win."
Mahatma Gandhi

We Are Alive when We Know What We Die For

The Monk Moment -

Many great entrepreneurs have had a moment when they have lost everything. Monks create this situation intentionally through "Vairagya" when they give up all money and possessions. Many entrepreneurs end up in the same situation unintentionally. :-)

Elon Musk lost $180M and was in debt in 2008. Seven years later, he's worth $13 billion, but he'd be ready to risk it all again. Steve Jobs lost his entire Apple fortune by 1994, betting it on NeXT and Pixar. In 1995 everything turned around, he sold NeXT to Apple, Pixar to Disney and he passed away an icon. Walt Disney mortgaged away his entire fortune in the 1950s to build Disneyland, against everyone's advice. He too went from giving up everything to becoming a legend. Each bet everything material they had on something invisible - their Purpose and Vision.

Monks call the state that comes after giving up everything "Moksha" which means liberation from the illusion. We're not alive until we know what we'd die for.

I'm not saying great entrepreneurs are monks, but they do have 'monk moments' when they lose everything.

Many of the greatest entrepreneurs unintentionally find themselves in this state by betting everything on their dream. Maybe you're in this place right now. It is a place of pure power. When you have nothing to lose, you have infinite potential.

That is provided you don't focus on what you've lost, but on everything you Have to Gain. That's when everything turns around.

As Walt Disney said "I don't make movies to make money. I make money to make movies".
That's the paradox of entrepreneurs having a 'near-death' experience where they lose it all. Steve Jobs wrote:

“Remembering that I'll be dead soon is the most important tool I've ever encountered to help me make the big choices in life.

Almost everything--all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure--these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important. Remembering that you are going to die is the best way I know to avoid the trap of thinking you have something to lose. You are already naked. There is no reason not to follow your heart.

No one wants to die. Even people who want to go to heaven don't want to die to get there. And yet, death is the destination we all share. No one has ever escaped it, and that is how it should be, because death is very likely the single best invention of life. It's life's change agent. It clears out the old to make way for the new.”

What mission is so important to you, that you'd be ready to clear out the old and make way for your new?

Senin, 09 November 2015

Rizal Ramli: Rewrite the Indonesian Natural Resources Management

Rizal Ramli Benar, Kini Saatnya!

Memang tidak mudah mengurus negara dengan 250 juta kepala ini. Masing-masing merasa benar sendiri. Namun sebenarnya apapun perbedaannya tidak apa-apa selama kerangka berfikir dan dasar tindakannya untuk kepentingan rakyat banyak. Dan yang terpenting adalah apapun keputusannya harus berlandaskan pasal 33 UUD 45.

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli menegaskan jika para pejabat dan pembuat kebijakan di Indonesia melaksanakan pasal 33 UUD 45 maka Indonesia akan makmur. Demikian ditegaskan Rizal saat menjadi keynote speaker dalam acara Roundtable Discussion Lembaga Ketahanan Nasional ( Lemhanas), Jakarta Pusat pada hari Selasa kemarin (3/11/2015).

Rizal Ramli lebih lanjut mengatakan, "Kita miskin karena kita kaya. Kalau kita miskin beneran... ya pantas miskin. Tapi ini karena kita kaya.".

Apa yang dikatakan Rizal memang benar, sejarah sudah mencatat sebuah cerita sedih tentang kemiskinan sebuah negara kaya akan sumberdaya alamnya, tapi sayang dibawa kabur keluar negeri tercinta ini tanpa kita dapat sesuatu apa yang berarti. Buktinya dari dulu kita begini terus. Rakyat kebanyakan terus mengalami kesulitan hidup, yah .... hanya cukup hidup pas-pasan saja. Kalau ada, itupun hanya gula-gula permen penghibur saja. Walaupun ada segelintir kecil orang mengalami hidup yang lebih dari cukup bahkan berlimpah. Kita lihat saja crude oil dibawa keluar, disuling di luar negeri kemudian dibawa kembali ke negara penghasil minyak yang namanya Indonesia. Berapa biaya atau cost yang terbuang dari perjalanan hilir mudik crude oil atau minyak mentah tersebut? Delivery cost itu bisa mencapai USD 30/barrel. Sesuatu yang sebenarnya sia-sia.

Dibidang tambang, sama juga. Berapa banyak hasil tambang kita dibawa berbongkah-bongkah tanpa kita sempat tahu dengan pasti barang tambang apa saja yang dibawa keluar negeri itu karena tidak adanya smelter disini. Padahal hasil tambang kita mengandung REE Rare Earth Element atau unsur tanah jarang yang baru ditemukan dan memiliki harga jual tinggi, misalnya bahan baku untuk baterai masa kini yang dipergunakan oleh smartphone.

Menurut Rizal, sekarang inilah waktu yang tepat untuk menulis ulang sejarah bangsa. Rizal membeberkan sudah banyak kesempatan emas yang diberikan oleh Tuhan untuk Indonesia namun disia-siakan karena ulah pejabatnya yang tunduk pada asing dan gampang disogok oleh pemilik modal.

Rizal Ramli yang sudah menjadi aktifis sejak masa kuliahnya di ITB dulu ditahun 1970an dan bahkan pernah ditangkap ketika menjadi aktifis mahasiswa tahun 1977-1978 karena melawan rejim Soeharto ketika itu, merasa sangat prihatin terhadap kondisi negara dan bangsa ini. Rizal sudah membuktikan dirinya untuk tidak mau berkomplot dengan comfort zone members, dengan para pemburu rente. Dia terbukti konsisten sejak dulu. Kini ketika dia berada di tampuk pemerintahan, dia tidak berputus asa bahkan dia ingin membantu pemerintah agar semuanya lebih fair. Rizal sama sekali tidak anti asing. Dia cuma ingin semuanya berada dalam tataran fairness, win-win game.... not win-lose game.

Kenapa selama ini terjadi  unfairness? Karena ulah pejabatnya sendiri yang mau diatur dan menyerahkan segalanya kepada pihak asing, maunya enak dan terima bersih (termasuk rente) dan tidak mau berkeringat. Dalam pikiran pejabat kita hanya mau tebang pohon di hutan dan langsung dijual kayunya secara gelondongan tanpa mau pikir untuk downstream nya sehingga bernilai tambah (added value).  Sungguh menyedihkan memang. Oleh karena itu kita harus tatap masa depan dengan penuh harapan dan semangat. Kita harus keluar dari lubang kegelapan tersebut. Sudahlah, kita buka lembaran baru.

Ya..., nasib bangsa ini sekarang terletak ditangan kita sendiri. Maukah kita berubah? Kalau ya... mulailah dari sekarang.

*) Gambar foto koleksi pribadi diambil seorang kawan: Rizal Ramli didepan Lemhanas Selasa 3/11/2015. Disebelahnya Gubernur Lemhanas Budi Susilo Soepandji.
http://www.kompasiana.com/muhammad_e_irmansyah/rizal-ramli-benar-kini-saatnya_56396701527a61b410b276f5

Sabtu, 07 November 2015

Menteri Perekonomian Darmin Nasution di HIPMI SDP1 : "Kita butuh BUSINESS AGGREGATOR untuk UKM UKM INDONESIA"

http://m.antaranews.com/berita/527993/peningkatan-perekonomian-butuh-kebijakan-transformasi

Sabtu, 7 November 2015 19:31 WIB - 2.452 Views

Pewarta: Fiqih Arfani

Menko Perekonomian Darmin Nasution (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

Surabaya (ANTARA News) - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyampaikan untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian di Indonesia dibutuhkan kebijakan besar untuk mentransformasi perekonomian yang programnya memerlukan waktu panjang karena menyangkut sektor ekonomi, perdagangan, pertanian dan industri.

"Jadi, meningkatkan pertumbuhan perekonomian bukan hanya deregulasi saja yang dibutuhkan," ujarnya di sela pembukaan Sidang Dewan Pleno I dan Musyawarah Nasional Khusus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Surabaya, Sabtu.

Menurut dia, jika ingin ekonomi bisa berkembang dengan baik maka sektor industri harus dijadikan motor penggerak perekonomian.

"Selain itu, keberadaan BUSINESS AGGREGATOR juga diperlukan sehingga bisa tercipta standar yang hampir sama," ucapnya.

"Kita membutuhkan para pelaku usaha yang bisa menjadi HUB dan Facilitator bagi para UKM untuk:
- membenahi desain packaging
- memasarkan dan membuka pasar global.
Saya rasa para pemuda dengan intelektual dan skill lebih baik, bisa bawa UKM products ini ke level lebih tinggi."

Di tempat sama, Gubernur Jawa Timur Soekarwo menilai bahwa pengusaha muda mempunyai peran strategis dalam membangun bangsa, terutama sebagai penggerak perekonomian.

Untuk mewujudkannya, kata dia, dibutuhkan sinergitas dan soliditas dengan pemerintah agar tercipta akselerasi dalam pertumbuhan ekonomi.

"Jika para pengusaha muda ini terus melakukan sinergi dan kerja sama kuat maka dalam MEA nanti saya yakin bisa menang. Apalagi ditunjang dengan kebijakan-kebijakan yang telah digulirkan Pemerintah Pusat maupun Daerah," katanya.

"Semisal, saya di sini mengkonsep Jatimnomics, yang mencoba memposisikan Jatim sebagai provinsi industri berbasis UMKM dengan penguatan aspek ekonomi berupa peningkatan produksi, sistem pembiayaaan yang kompetitif, dan pemasaran yang inovatif," katanya.

Dukungan para pengusaha muda, lanjut dia, juga tepat diberikan karena daya saing Jatim menduduki peringkat kedua se-Tanah Air.

Sementara itu, Ketua Umum HIPMI Bahlil Lahadiala mengatakan, SDP I dan Munassus ini menjadi ajang konsolidasi para pengusaha muda untuk merapatkan barisan menghadapi tantangan perlambatan ekonomi dan implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.

Ia mengaku optimistis, anggota HIPMI yang jumlahnya mencapai lebih 42 ribu orang se-Indonesia akan berkontribusi dalam dunia ekonomi dan mampu menyerap tenaga kerja yang tak bisa diremehkan.

"Anggota HIPMI tentu mempunyai bisnis dan mereka pasti punya karyawan. Kami ingin mendorong agar teman-teman pengusaha muda tidak patah arang menghadapi kondisi ekonomi sekarang," katanya. 

Editor: Tasrief Tarmizi

COPYRIGHT © ANTARA 2015

Copyright © 2015 www.antaranews.com
All Rights Reserved