Minggu, 16 Juli 2023

Pengusaha Memiliki Kemewahan Berkreasi


“Pengusaha itu Mempunyai Kemewahan untuk Berkreasi”

November 8, 2020 Kisah Sukses 

Ardantya Syahreza (Owner & CEO PT Indocre Lintas Usaha)

Berpindah dan satu pekerjaan ke pekerjaan lain, bukan sekadar karena bosan  menjadi “orang suruhan”, melainkan juga lantaran merasa “kebebasannya” terpasung. Akhirnya, Dacil pun membangun perusahaan sendiri. Meski pernah meraih puncak kejayaan, tapi ia juga pernah mengalami kebangkrutan. Ketika pada akhirnya ia mampu bangkit kembali dan melaju, salah satu pelajaran hidup yang ia dapatkan yakni pengusaha itu mempunyai kemewahan untuk berkreasi. Kebebasan/kemewahan itu tidak dapat dibeli oleh profesi apa pun

e-preneur.co. Ingin melepaskan diri sebagai orang suruhan, ternyata bisa dijadikan modal untuk membangun usaha sendiri. Dan, itulah yang dilakukan Ardantya Syahreza.

Namun, setelah meraih puncak kejayaan di usahanya yang pertama, pria yang akrab disapa Dacil ini terpuruk hingga titik nadir alias bangkrut. Tapi, dengan dukungan penuh dari sang istri dan tekad tidak ingin kebebasannya terpasung lagi, ia bangkit.

Dalam tempo delapan tahun dan usia belum genap 37 tahun, ia telah memiliki tiga perusahaan di bawah bendera PT Indocre Lintas Usaha (Indocre). Bukan cuma itu, satu perusahaannya yang pertama mampu membukukan omset per bulan sebanyak milyaran rupiah, sementara satu perusahaan yang lain ratusan juta rupiah.

Berikut, bincang-bincang e-preneur.co dengan Dacil:

Kapan Anda mulai bekerja?

Saya mulai bekerja untuk pertama kalinya tahun 2000, di lembaga riset Nielsen sebagai staf di bagian research executive. Pada pertengahan tahun 2002, saya pindah ke perusahaan riset yang lain yakni Exquisindo Global Research sebagai research manager.



Meski dunia riset itu menarik—karena kita belajar bagaimana mengulik konsumen dalam suatu group discussion—tapi membosankan. Lantaran, yang saya buat itu hanya sebuah finding/rekomendasi.

Imbasnya, tahun 2003, saya pindah lagi. Kali ini ke dunia advertising, yang bagi saya berbeda sekali dengan dunia kerja saya saat itu.

Dunia advertising adalah dunia yang kreatif. Skill saya di dunia riset pun terpakai di sini. Mengingat, untuk membuat iklan atau komunikasi harus mengetahui terlebih dulu apa yang dimaui klien.

Di sini, saya menempati posisi sebagai development manager, dengan tugas seperti membuat strategi komunikasi. Pekerjaan ini, saya jalani hingga tahun 2005. Sebab, ternyata, saya merasa bosan lagi.

Dari situ, saya menyadari bahwa saya menyukai semua dunia kerja yang saya jalani. Tapi, saya bukan tipikal orang yang suka disuruh-suruh. Selain itu, saya menemukan opportunity dari para klien yang saya temui.

Pada umumnya, pengusaha Indonesia akan menanyakan apa imbal baliknya jika mereka mengeluarkan dana untuk iklan usaha mereka. Dalam arti, sejauh mana imbas iklan yang mereka danai itu terhadap perusahaan mereka. Atau, bagaimana mereka bisa mengetahui efek dari iklan produk/perusahaan mereka terhadap konsumen yang dituju.

Melihat adanya opportunity itu, akhirnya saya membuat sebuah perusahaan sendiri dengan modal nekad. Dengan bantuan seorang teman yang brand manager sebuah perusahaan, lalu saya men-set up sebuah marketing company yang saya beri nama Exigo (PT Marketing Komunikasi Indonesia) pada September 2005. Sementara modal usaha sebesar Rp500 juta, saya pinjam dari orang tua.

Exigo bergerak di bidang marketing communication. Kalau kita berkomunikasi ‘kan bisa melalui macam-macam media, misalnya iklan radio, iklan TV, iklan media cetak, tapi kami bentuknya lebih ke event. Jadi, berbeda dengan iklan melalui media massa yang tanggapannya tidak diketahui, maka dalam bentuk event, setidaknya ada database yang bisa dihitung/dicatat.

Cakupannya lebih luas ketimbang EO (Event Organizer) yang hanya penyelenggara acara. Karena, kami juga harus membuat programnya agar relevan dengan masyarakat yang menjadi target market-nya.

Tahun 2006, saya meng-hire adik saya. Sehingga, perusahaan ini seperti perusahaaan keluarga. Saya juga meng-hire orang India agar terkesan keren. Karena, ada orang asing yang bekerja di perusahaan saya.

Sampai, suatu ketika, saya merasa stagnant. Akhirnya, saya memanggil teman-teman di tempat kerja saya dulu dan minta inject lagi agar dapat menggaji mereka. Harapan saya, akan muncul talent-talent dan network-network baru untuk bisnis-bisnis baru.

Harapan ini, terwujud pada tahun 2006–2007. Saya menikmati klien-klien besar. Saya mengerjakan proyeknya Kidzania, BCA, Kalbe, Danone, dan sebagainya. Nilai proyek yang dulu hanya Rp60 juta, berkembang menjadi Rp500 juta, Rp700 juta, Rp2 milyar, dan naik terus. Tahun itu, ongoing very good.

Tapi, pada akhir tahun 2007, muncul masalah internal. Saya baru menyadari bahwa ternyata di kantor saya ini terlalu banyak orang (25–30 orang). Padahal, billing belum stabil.

Masuk tahun 2008, tepatnya Januari–Juli, saya melihat kok bisnis ini semakin seret. Sulit sekali memenangkan suatu pitching. Hingga, akhirnya, setiap bulan saya hanya membayar gaji karyawan saja. Kondisi ini, semakin lama semakin ngedrop sampai akhirnya bangkrut.

Saya mengatakan kepada para karyawan bahwa saya tidak bisa lagi membayar gaji mereka. Lalu, satu per satu, karyawan saya resign, yang tertinggal cuma sekretaris dan OB (office boy).

Waktu kejadian itu, saya baru setahun menikah dengan Sofia Ambarini dan anak pertama kami baru saja lahir. Saya sempat berpikir, untuk bekerja sebagai karyawan lagi. Meski, saya tidak bisa membayangkan kebebasan saya akan terpasung lagi.

Akhirnya, saya keukeuh usaha sendiri dengan modal yang ada yaitu portofolio. Apalagi, menurut orang-orang, saya mempunyai kredibilitas.

Akhirnya, saya mendapatkan proyek-proyek baru, tapi bekerja sama dengan teman yang lainnya lagi. Istilahnya, kerja saweran: saya hanya “berjualan” klien, sementara teman saya itu yang memberi modal kerja dan melakukan eksekusinya. Dalam perjalanannya, kami mendapat klien Sari Husada, Craft, dan sebagainya.

Imbasnya, saya mempunyai tabungan dan sudah bisa membangun usaha sendiri, di luar Exigo yang sedang “istirahat”. Usaha baru ini saya jalankan hanya beserta istri. Selanjutnya, saya mampu meng-hire manager, account executive, dan bagian kreatif.

Tahun 2009, kami semakin naik. Bahkan, tahun 2010, kami mendapat klien Nestle.

Singkat kata, memasuki tahun 2012, semuanya berjalan lancar kembali: Exigo hidup kembali; bisa pindah kantor dari Kemang Utara, Jakarta Selatan, ke Gedung Adveco II di Jalan Warung Jati Barat, Jakarta Selatan; mampu membeli rumah di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan; dan mampu meng-hire general manager yang kemudian saya tugaskan untuk mengurusi PT Marketing Komunikasi Indonesia. Sementara, saya hanya melihat dari jauh. Kadang-kadang, saja saya “turun”.

Terakhir kali saya pegang (tahun 2012), Exigo mampu membukukan omset sebesar Rp8 milyar/bulan.

Kebebasan berkreasi itu harus ditunjang financial yang kuat

Tapi, Anda lebih dikenal sebagai CEO PT Kuliner Nusantara Sejahtera Indonesia (K-Food)?

Pada saat yang bersamaan (tahun 2005), saya membeli franchise Bakso Kota Cak Man. Ini terjadi, ketika saya pulang kampung dan makan di warung bakso itu. Di sana, saya melihat kertas-kertas yang ditempel di dinding yang menawarkan franchise.

Sebagai orang Malang yang mengetahui market Jakarta, saya melihat bakso-bakso di sini yang mengusung embel-embel Malang itu banyak banget. Tapi, tidak ada yang Malang banget. Lalu, saya ingin membawa Bakso Kota Cak Man ini ke Jakarta.

Berbekal ilmu marketing yang saya miliki, saya permak dia, lantas saya buka outlet franchise saya di Plaza Semanggi. Saat itu, belum saya anggap bisnis, sekadar latihan kalau nanti mempunyai usaha sendiri.

Dalam perjalanannya, saya bertemu dengan Hendi Setiono, pemilik Kebab Turki Baba Rafi. Ternyata, Hendy sedang mendekati Donny Pramono, pemilik Sour Sally.

Hendy membutuhkan orang yang dapat meng-handle kerja sama antara Sour Sally dengan Baba Rafi. Dan, Hendy meminta saya membantunya. Jadi, boleh dianggap saya joint dengan Hendy untuk mengelola franchise Sour Sally Mini. Dan, jadilah saya Master Franchise Sour Sally Mini.

Sour Sally, saya urus dengan serius. Dengan pemikiran, bisnis kuliner saya akan naik satu step lagi. Ini antusiasme baru, bisnis baru yang bisa membuat bisnis saya berkembang.

Apalagi, bisnis kuliner saya cuma begitu-begitu saja. Dari dulu, saya hanya mempunyai tiga cabang Bakso Kota Cak Man (Plaza Semanggi, Cibubur Junction, dan Margo City).

Tentang nama K-Food, baru muncul ketika saya membuka outlet franchise Bakso Kota Cak Man di Cibubur Junction. K-Food berada di bawah PT Kuliner Nusantara Sejahtera Indonesia di mana perusahaan ini baru dibentuk tahun 2012. K-Food dibangun dengan modal Rp60 juta dari “bank pribadi” dan satu setengah tahun kemudian sudah balik modal.

Misi K-Food yakni mengapresiasi kuliner Indonesia. Ketika menekuni dunia kuliner, saya menyadari bahwa kuliner Indonesia sangat banyak dan sama layaknya diangkat ke permukaan dengan makanan-makanan dari luar. Itulah esensinya.

Bakso Kota Cak Man sudah dalam genggaman dengan omset sekitar Rp200 juta/counter/bulan. Sate Buntel Solo juga sudah di-launching September 2013. Sedangkan Sour Sally, meski froyo (frozen yogurt) bukanlah kuliner Indonesia, tapi hasil kreasi dari orang Indonesia. Jadi, everything should be Indonesian.

Dari sini, bisa disimpulkan bahwa garis merah Indocre yaitu saya bergerak dalam bidang-bidang usaha yang berhubungan dengan kreatif, Indonesia, dan kepemudaan. Saya juga menyukai usaha-usaha yang berhubungan dengan anak-anak muda. Sehingga, lahirlah Generasi Muda ID.



Apa itu Generasi Muda ID?

Selama saya berwirausaha, saya merasakan sulitnya mencari kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) yang baik. Di sisi yang lain, saya suka sharing dengan para mahasiswa. Akhirnya saya membuat Generasi Muda ID.

Karena, saya melihat issue besar bahwa anak-anak muda zaman sekarang secara mental, wawasan, dan keahlian belum memenuhi standar kualitas yang dibutuhkan perusahaan aktif. Dan, jumlah mereka sangat banyak.

Dari sini, saya baru ngeh jika pengangguran itu terjadi bukan karena tidak ada pekerjaan, melainkan tidak matching-nya kualitas yang diproduksi dari perkuliahan ke dunia pekerjaan. Jadi, di sini ada gap.

Karena itu, saya membuat Generasi Muda ID dengan tujuan sederhana yaitu mem-break the gap. Untuk itu, saya datang ke kampus-kampus, offering sesuatu yang baru yang tidak mereka dapatkan di kampus.

Awal tahun 2013, saya membentuk Generasi Muda ID dengan melakukan berbagai roadshow. Awalnya, roadshow ini saya lakukan dengan gratis, dengan pembicara para CEO (Chief Executive officer). Saya juga membuat website dan berharap nantinya akan ada sponsor yang mensponsori kegiatan keliling ini.

Ternyata, tidak berjalan sesuai harapan. Akhirnya, saya mengubah polanya. Roadshow tetap gratis. Karena, antusiasmenya besar sekali. Nah, untuk kota-kota yang antusiasmenya besar itu, saya akan membuatkan sekolah-sekolah kecil, semacam sekolah pelatihan yang memberi intensive class pada para mahasiswa, tapi berbayar.

Secara pribadi, saya ingin Generasi Muda ID di-acknowledge di dunia usaha bahwa anak-anak yang sudah pernah datang ke sini very qualified people. Di sisi lain, ini sociopreneur saya.
Saya senang melakukan hal ini. Karena, seakan-akan saya ada manfaatnya jadi orang.

Selasa, 04 Juli 2023

Ketua Umum Malang Health Tourism Board Mengucapkan Selamat Bertanding untuk Peserta Malang Marathon 2023


Perhelatan Malang Marathon 2023 sebentar lagi akan digelar yaitu pada tanggal 9 Juli 2023. Kegiatan ini perlu diberikan apresiasi yang setinggi tingginya kepada organizer yang bercita cita terus mempromosikan pariwisata kota Malang kepada masyarakat luas.

Kota Malang yang masih kaya dengan bangunan bangunan jaman belanda sebuab heritage yang menarik bagi para wisatawan. Selain itu, bentuk pariwisata kesehatan dan olahraga ini sangat cocok bagi masyarakat luas karena kota Malang yang memiliki udara segar dan sejuk, menambah kenikmatan berolahraga di kota Malang.

Ketua Umum Malang Health Tourism Board, Ardantya Syahreza, SE, yang juga seorang bakal calon walikota Malang periode 2024 - 2029, sangat mendukung diadakannya acara ini bagi warga Malang, Jawa Timur, Nusantara bahkan Manca Negara.

Ardantya mengucapkan selamat datang kepada para delegasi dari luar kota dan berharap semua peserta dapat menikmati pengalaman olahraga di Malang dan akan terus kembali ke Kota Malang.

Malang Health Tourism sendiri tidak saja menaungi kegiatan olahraga namun juga menaungi kegiatan medik seperti Cancer Center, Cardiac Center, Orthopedic Center, Geriatric Center dan lain sebagainya - yang memiliki kompetensi wisata medik. Selain itu, alam yang sangat kaya di Malang Raya seperti Gunung Bromo, Batu, Coban Rondo dan Jatim Park lainnya sangat mendukung Program Malang Health Tourism ini.

Sabtu, 24 Juni 2023

Malang, selain sebagai kota Pendidikan dan Wisata, Berpotensi Menjadi The Healing City

*Malang, selain sebagai kota Pendidikan dan Wisata, Berpotensi Menjadi The Healing City*

Dalam dua pekan terakhir, Jakarta telah beberapa kali menduduki peringkat pertama sebagai kota dengan polusi udara terburuk di dunia berdasarkan data IQAir. Pegiat lingkungan dan warga khawatir kondisi udara di Jakarta akan secara perlahan semakin parah.

Kehidupan di Jakarta memang identik dengan menjanjikan penghidupan yang lebih layak secara ekonomi karena pusat roda ekonomi nasional dominan berada di ibukota. Kegiatan warga ibukota sangat dekat dengan macet dan pulang kerja lebih dari jam 20.00 wib, serta berangkat kerja sejak jam 05.30 wib. Kualitas hidup sangat rentan stress, lelah, putus asa dan yang jelas minim waktu dengan keluarga. Mereka merasa bahwa hidup adalah bekerja dan bekerja.

Kehidupan orang tua lansia di Ibukota juga tidak kalah peliknya. Mereka tidak berani berharap untuk dapat diantar keluarganya atau anaknya pergi ke rumah sakit untuk sekedar rutin kontrol dokter. Jalanan macet. Antrian di RS juga sangat ribet. 

Namun pandemi mengubah semua persepsi tersebut yang memaksa seluruh masyarakat harus tinggal di dalam rumah. Masyarakat dipaksa bekerja secara online atau work-from-home. Masyarakat mulai menyadari adanya ketidak seimbangan gaya hidup selama ini. Mereka mulai menyadari pentingnya Work-Life-Balance. 

*Apa hubungan cerita di atas dengan Kota Malang?*

Kalau kita lihat kembali, begitu banyak Arema yang perantauan ke Jakarta mengadu nasib dan tidak sedikit yang sangat sukses di Ibukota. 

Tapi lagi-lagi Pandemi juga yang mengubah sesuatu yaitu bagi para Arema perantauan yang lama di Jakarta, ingat orang tua nya yang berdomisili di kota Malang, sendiri dalam tekanan suasana pandemi kala itu. Termasuk saya, saya pulang.

Kota Malang merupakan salah satu kota yang terkenal di Indonesia. Kota ini terletak di Provinsi Jawa Timur.
Kota ini merupakan kota terbesar ke dua di Jawa Timur setelah Surabaya, dan terbesar ke dua belas di Indonesia.

Kota Malang telah sangat dikenal sebagai kota Dingin. Sudah bukan rahasia lagi kalau Malang mempunyai suhu yang cukup dingin. Hal ini wajar karena secara geografis Kota Malang dikelilingi wilayah pegunungan.
Lokasi kota ini berada di dataran tinggi. Hal inilah yang membuat suhu di Kota Malang lebih dingin terutama pada malam hari.

Malang juga semakin dikenal sebagai Kota Wisata karena Kota Malang terkenal dengan berbagai pilihan wisata baik wisata alam, seperti Gunung Bromo, Air Terjun Coban Rondo (di Batu), pantai Tiga Warna di Kab Malang, wisata Kulinernya yang terkenal dengan macam Bakso, Cwie Mie, Gado Gado, Soto, Nasi Pecel dll yang tidak jarang menjadi daya tarik utama kota maupun wisata buatan, yang makin terkenal dengan pengembangan pengembangan oleh pihak swasta seperti Jatim Park Group dan group group lain di bidah perhotelan maupun cafe. Belum lagi kota Malang punya banyak sudut design bangunan yang masih mempertahankan gedung ala kolonialnya yang banyak dipugar utk menarik wisatawan.

Kota Malang juga paling terkenal sebagai Kota Pendidikan. Ada lebih dari empat puluh perguruan tinggi di kota ini yang menampung mahasiswa dari penujuru negeri. Ribuan mahasiswa berbondong menuntut ilmu di kota Malang dari berbagai penjuru Indonesia, membuat kota Malang hidup sekali ekonomi kuliner, pendidikan, akomodasi dan akhir akhir ini sebagai pusat startup.

Tapi, menurut saya, dari semua cerita di atas, Malang juga memiliki potensi untuk menjadi The Healing City. 

Karena kombinasi RS Syaiful Anwar dengan Kampus Universitas Brawijaya dan kampus Universitas Muhammadiyah Malang, dalam memproduksi dokter dan dokter spesialis konsultan, jumlah Profesor dan Doktor serta dokter-dokter ahli subspesialis semakin banyak bertebaran di kota Malang ini. Terlebih pasca pandemi, awareness masyarakat akan kesehatan semakin meningkat. Masyarakat semakin ingin melakukan pencegahan- pencegahan penyakit alias ingin sehat terus. 

Kembali pada cerita masyarakat di Jakarta dan kota metropolitan yang lain, bahwa Gaya Hidup rutin berlari, bersepeda bahkan triathlon semakin menjamur. Masyarakat urban sekarang makin getol berolahraga. Dan mereka selalu mencari lokasi lokasi menantang dan berudara segar di manapun untuk berolahraga. Tidak hanya itu, kegiatan Spa, Yoga, atau sekedar bersantai menikmati keindahan alam juga menjadi hal-hal yang menjadi agenda penting dalam gaya hidup modern, agak Tidak Stress!

Kota Malang dengan semua stempelnya sebagai kota pendidikan, kota wisata, kota kuliner dan kota kolonial, berikutnya juga bisa menjadi;

1. *Kota Kesehatan alias The Healing City*, dimana sudah tersedia institusi fasilitas kesehatan di Malang yang sudah terlengkapi dengan alat alat canggih dan para dokter sub spesialis ahli yang kompeten. Terlebih, Malang telah dicanangkan menjadi Destinasi Wisata Kesehatan keempat di Indonesia oleh Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif RI , pada 16 April 2023 lalu. Pemerintah melihat bauran potensi kota Malang yang dingin, kaya destinasi wisata alam, buatan, dan kuliner, dan memiliki para penyedia layanan kesehatan yang kompeten, maka layak untuk menjadi produk nasional sebagai Destinasi Wisata Kesehatan dengan brand Malang Health Tourism.
Bahkan kota Malang, berpotensi menjadi kota ramah lansia alias dapat dirancang sebagai kota pensiun dengan perumahan-perumahan asri, dan memiliki akses mudah ke layanan kesehatan, homecare maupun monitoring by hospital.

2. Startup alias pusat inovasi karena begitu banyak universitas, harusnya dapat digenjot juga buat Malang untuk menjadi pusat inovasi teknologi layanan kesehatan. Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya baru baru ini teridentifikasi sebagai penyumbang proposal inovasi terbanyak dan berkualitas oleh Direktorat Inovasi dan Inkubasi Bisnis Universitas Brawijaya. 

Wisata Kesehatan bukanlah barang kaleng-kaleng. Dampak ekonominya dapat memberikan sumbangan positif signifikan pada bisnis perhotelan, rumah sakit, transportasi, pekerja pariwisata, kuliner, oleh-oleh dan bahkan bisa jadi pada Real Estate yang bisa menawarkan areal areal baru yang ramah pensiunan dan lansia. 

Apa yang kita butuhkan sekarang? Kesamaan visi dan komitmen untuk mendesign dan membangun kekuatan serta potensi kota Malang ini dalam sebuah orkestrasi. 

Bagaimana menurut Bapak/Ibu? Bisakah kita membawa Malang menjadi the next Healing City?

*Ardantya Syahreza*
Chairman Malang Health Tourism Board

Senin, 01 Mei 2023

Malang Dinobatkan sebagai Destinasi Wisata Kesehatan Keempat di Indonesia

Malang, 16 April 2024 - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno meresmikan Malang Health Tourism sebagai asosiasi yang diharapkan dapat memperkuat ekosistem pariwisata berbasis kesehatan, sehingga menarik lebih banyak wisatawan yang melakukan pengobatan di Indonesia.


Menparekraf Sandiaga dalam peresmian "Malang Health Tourism" di Mercure Hotel Malang, Jawa Timur, Minggu (16/4/2024), menyebutkan bahwa penetapan ini merupakan upaya pemerintah untuk menekan laju peningkatan dari banyaknya wisatawan yang memperoleh fasilitas kesehatan di luar negeri.


Menurut data Kementerian Kesehatan pada tahun 2021, Indonesia menjadi kontributor terbesar dalam hal kunjungan medis ke luar negeri dengan total Rp161 triliun. Malaysia dan Singapura menjadi negara yang paling sering dituju oleh wisatawan nusantara. 


"Mudah-mudahan dengan hadirnya Malang Health Tourism menjadi awal dan inisiasi dari kebangkitan pariwisata dan industri kesehatan di Malang Raya dan Indonesia," ujar Menparekraf.

Wisata Kesehatan telah ditetapkan sebagai salah satu program prioritas strategis nasional pemerintah Republik Indonesia. Malang menjadi kawasan health tourism keempat di Indonesia setelah Sumatra Utara dengan Medan Medical Tourism Board, Bali dengan Bali Medical Tourism Association, dan Sulawesi Utara dengan North Sulawesi Health Tourism.


Menparekraf Sandiaga berharap Malang Health Tourism bisa memfokuskan pada wisatawan nusantara terlebih dahulu. Setelah berjalan dengan baik dan sukses, maka baru pasar mancanegara yang dibidik. Wilayah Bali sebelumnya sudah lebih dahulu dibangun KEK Kesehatan yang ditargetkan untuk wisatawan mancanegara.

"Kita melihat bagaimana Malaysia, Thailand, perlu waktu 15 - 20 tahun. Tapi pasarnya dari Indonesia, kalau kita gerak cepat, saya yakin dalam lima tahun kita betul-betul menyamai layanan kesehatan yang diberikan. Konsepnya harus kolaboratif, harus gotong royong," ujar Sandiaga.


Chairman / Ketua Umum Malang Health Tourism Board terpilih, Ardantya Syahreza, berharap dengan terbentuknya kepengurusan Malang Health Tourism bisa mengundang para dokter untuk aktif memberikan input kepada rumah sakit terkait apa saja layanan yang diperlukan di Malang.


https://kemenparekraf.go.id/event-pariwisata-dan-ekonomi-kreatif/siaran-pers-menparekraf-resmikan-malang-health-tourism-kembangkan-wisata-kesehatan-indonesia


Senin, 30 Mei 2022

Doctot Strange Multiverse Learning

[Catatan Saya Belajar Psikologi & Neurosains #2]

*SPOILER ALERT*

Pada saat artikel ini ditulis, saya baru saja menonton film Dr. Strange 2 seminggu sebelumnya. Teman saya mengatakan bahwa film ini kurang berkesan superhero dan kurang memenuhi ekspektasinya, tetapi bagi saya film ini justru sangat menyenangkan untuk ditonton, terutama banyak sekali unsur-unsur absurd yang memantik imajinasi.

Dari film ini saya mendapatkan beberapa pembelajaran yang sangat relevan dalam kehidupan, terutama dari perspektif psikologi (sesuai dengan bidang keahlian saya), berikut ini beberapa pembelajaran yang saya temukan dalam film ini:

*1. Menolak kenyataan dapat menjerumuskan hidupmu.*

Masalah utama dalam film ini adalah Wanda yang tidak dapat menerima kenyataan bahwa Vision sudah meninggal dan ia tidak hidup bersama anak-anaknya. Hal ini membuat Wanda menggunakan kitab Darkhold yang meminta pengorbanan: jiwanya sendiri. Akhirnya Wanda berubah menjadi Scarlet Witch dan berusaha untuk mengambil kekuatan America Chavez (yang akan membunuh Chavez), supaya dapat berpindah ke universe lain dan hidup bersama anak-anaknya.

Gara-gara ini, Scarlet Witch telah membunuh banyak orang, bahkan para superhero di semesta lain pun dibunuh olehnya.

Lain cerita bila Scarlet Witch dapat menerima kenyataan sehingga tidak berusaha untuk berpindah ke semesta lain, mungkin huru-hara multiverse ini tidak perlu terjadi (tapi nanti Marvel Studio gagal dapat profit dong, hehehe).

Penerimaan terhadap kehidupan merupakan salah satu sikap yang penting untuk hidup bahagia dan sehat secara mental. Penerimaan (acceptance) seringkali dipahami membiarkan diri sendiri menderita, padahal bukan itu esensinya; sebaliknya, penerimaan justru mengakui bahwa pengalaman yang tidak menyenangkan itu ada tanpa berusaha untuk menyangkal atau mengubahnya.

Mengapa penerimaan ini penting?

Kita tidak mungkin bisa memiliki hidup yang 100% sesuai keinginan kita, dan bagaimanapun kita berusaha mencegahnya, akan selalu ada pengalaman yang tidak diharapkan yang hadir dalam hidup kita. Jika kita tidak dapat menerima pengalaman-pengalaman yang tidak diharapkan itu, maka dipastikan kita akan selalu terombang-ambing dengan kemarahan dan kecemasan. Masalahnya, memikirkan atau mencemaskan pengalaman yang tidak menyenangkan itu tidak akan mengubah kenyataan, sebab hal itu sudah terjadi.

Daripada kita menghabiskan energi untuk menolak kenyataan itu, lebih baik kita mencoba berdamai dengan situasi dan mengambil pembelajaran dari pengalaman ini.

Dalam psikologi, penerimaan merupakan strategi untuk meregulasi emosi kita ketika menghadapi masalah (Wojnarowska et al., 2020). Ketika kita berbicara tentang penerimaan, maka yang dimaksud adalah penerimaan seutuhnya, termasuk menerima emosi dan pemikiran kita sendiri terhadap pengalaman eksternal itu (Williams & Lynn, 2010).

Ada kenalan saya yang mengeluhkan kepada saya bahwa dia sudah belajar menerima, tetapi ia berkata bahwa kesedihan yang ia alami tetap terjadi. Saya katakan bahwa itu bukan menerima, sebab ketika kita mengharapkan emosi kita berubah dari sedih menjadi senang, maka itu sudah bukan penerimaan. Belajar menerima berarti menyadari emosi negatif kita yang muncul dan tidak berusaha untuk mengubahnya. Cukup kita sadari bahwa emosi negatif ini muncul karena kita belum mampu untuk menerima kenyataan, dan emosi negatif ini pun akan menghilang nantinya - sebab bukankah baik emosi positif maupun emosi negatif sesungguhnya hanya datang dan pergi?

Berharap emosi negatif untuk pergi dengan berusaha menerima, justru membuat kita semakin tidak menerima.

Penerimaan ini kemudian diadopsi menjadi sebuah terapi yang bernama "Acceptance and Commitment Therapy" (ACT) yang menggabungkan penerimaan dengan berkesadaran penuh (midnfulness). Misalnya kita bisa menyadari dan merenungkan tiga hal ini:

- Pemikiran ini muncul karena adanya sebab, maka dari itu ia juga akan berlalu,
- Perasaan ini muncul karena adanya sebab, maka dari itu ia juga akan berlalu,
- Sensasi ini muncul karena adanya sebab, maka dari itu ia juga akan berlalu.

Penerimaan juga bukan berarti bersikap toxic positivity, sebab kita tidak diminta untuk berpikir positif; kita hanya perlu menyadarinya apa adanya tanpa berusaha mengubahnya. Sadari sebagaimana adanya. Penerimaan juga bukan berarti menyerah dengan hidup. Sebaliknya, karena kita tahu ada situasi-situasi yang tidak dapat kita paksakan agar sesuai dengan keinginan kita, kita justru berusaha menyesuaikan diri untuk berdamai dengan kejadian itu agar tetap bisa melanjutkan hidup.

*2. Melarikan diri dari perasaan negatif juga bisa menjerumuskan hidupmu*

Ketika Dr.Strange berpindah ke semesta lain, ia bertemu dengan versinya di semesta itu, yang secara tidak formal disebut sebagai "Sinister Strange". Nah, Dr.Strange versi jahat ini ternyata juga sama seperti Wanda, ia menggunakan darkhold untuk mewujudkan keinginannya sehingga harus merugikan banyak orang.

Tetapi, untuk apa Dr.Strange versi semesta itu menggunakan darkhold?

Jika kita masih ingat di awal film, mantan kekasih Dr.Strange, yaitu Christine, akan menikah dengan pria lain. Strange nampaknya belum move on dan belum bisa menerima pernikahan itu, meskipun ia berusaha untuk tegar. Pada hari pernikahan Christine, ia bertanya kepada Strange, "Apakah kamu bahagia?"

Strange berusaha menjawab bahwa ia bahagia - yang ternyata hanyalah sebuah kebohongan. Di semesta lain, Strange akhirnya berusaha untuk memunculkan Christine dari versi yang lain agar dapat hidup bersamanya, yang akhirnya membuat ia harus menggunakan darkhold. Sialnya, hal itu justru menyebabkan incursion dan semestanya secara perlahan mengalami kemusnahan.

Mungkin kondisi semesta itu akan lain bila Strange bisa mengakui perasaan sedihnya dan menerima itu.

Dalam psikologi, kita tidak pernah diminta untuk menghindari emosi negatif secara total. Emosi negatif memang lebih banyak rugi daripada untungnya, tetapi bukan berarti tidak ada manfaatnya sama sekali; misalnya, emosi negatif justru bisa membantu kita untuk menjauhi hal-hal yang berpotensi merugikan kita (bayangkan kalau kita tidak bisa merasakan takut atau cemas, kita bisa saja melompat dari atas gedung tinggi hanya karena merasa penasaran dengan rasanya terbang).

Emosi negatif adalah hal yang alami terjadi dalam sistem psikologis kita. Berusaha mati-matian untuk menolak / melarikan diri dari emosi negatif justru hanya akan membuat kita berpikir pendek dan menggunakan cara-cara yang merugikan diri. Misalnya, meminum alkohol dalam jumlah besar sebagai pelarian dari perasaan sedih.

Menariknya, kemampuan untuk menerima emosi negatif justru membuat mental kita semakin sehat (Campbell-Sills et al., 2006). Berusaha untuk terus-menerus menolak emosi negatif justru akan membuat kita semakin frustrasi, karena hal itu adalah hal yang tidak mungkin; dan alih-alih membuat kita merasa semakin baik, justru usaha ini hanya membuat kita semakin merasa buruk.

Lalu apa yang harus kita lakukan ketika mengalami emosi negatif?

Menerima dan menyadarinya. Jika kita sedang merasa sedih, kita perlu mengakui dan menerima bahwa kita memang sedang merasa sedih. Setelah bisa menerimanya, maka kita bisa bertanya kepada diri sendiri, apa pesan yang hendak disampaikan oleh emosi negatif ini?

Sebagai contoh:
- emosi takut memberi tahu kita bahwa ada bahaya di depan mata yang harus dihindari,
- emosi cemas memberi tahu kita bahwa ada kemungkinan bahaya muncul di masa depan sehingga harus diantisipasi,
- emosi sedih memberi tahu kita bahwa ada hal yang berjalan tidak sesuai keinginan dan kita perlu menerimanya,
- emosi marah memberi tahu kita bahwa kita perlu melindungi diri, dan sebagainya.

(NB: meskipun marah atau cemas itu mengandung pesan, tetapi bukan berarti kita harus membiarkan diri marah-marah atau cemas secara berlebihan).

Lagi-lagi, bayangkan kalau Dr.Strange bisa menerima kenyataan bahwa Christine lebih memilih laki-laki lain untuk dinikahi, mungkin semestanya tidak perlu hancur. Lagipula, di Marvel versi komik, Strange akan menemukan kekasih lain setelah Christine menikah. Ternyata tidak seburuk yang dibayangkan, toh?

*3. Mensyukuri kondisi saat ini adalah yang terbaik.*

Bagian favorit saya dari film ini adalah bagian terakhir, ketika Dr.Strange bertanya kepada Wong, "Apakah kau bahagia?"

Dan pertanyaan ini dijawab Wong dengan begitu baik, "Kadangkala aku memikirkan tentang diriku di semesta lain, tetapi aku tetap bersyukur dengan semesta ini. Bahkan dengan kesulitannya sekalipun."

Jawaban dari Wong ini memberi pesan bahwa kita perlu belajar untuk menerima dan mensyukuri kondisi kita saat ini.

Bersyukur dapat diartikan sebagai sikap menghargai hal-hal baik yang sudah terjadi dalam hidup kita. Hal ini diperlukan sebab kita kerap lebih mengingat kejadian-kejadian buruk daripada yang baik. Neurosains menemukan bahwa emosi negatif seperti rasa takut dan cemas memicu peningkatan aktivitas di bagian otak yang berkaitan dengan ingatan. Adalah Elizabeth Kensinger (2007) dari Boston College yang melakukan pemindaian menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI) dan menemukan bahwa ketika seseorang mengalami emosi negatif, aktivitas di otak bagian pemrosesan emosi seperti orbitofrontal cortex dan amigdala memiliki korelasi yang lebih kuat dengan hipokampus - bagian otak yang mengatur ingatan - daripada ketika seseorang sedang mengalami emosi positif atau netral. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kita akan lebih mudah merekam dan mengingat kembali kejadian negatif dengan detil yang lebih baik, dibandingkan dengan kejadian yang menyenangkan atau netral.

Penelitian Ini menunjukkan fakta bahwa kita ternyata lebih mudah menderita daripada bahagia. Jika ada dua hal yang terjadi secara seimbang, yaitu kejadian menyenangkan dan tidak menyenangkan, maka otak kita akan lebih memilih untuk mengingat kejadian yang tidak menyenangkan itu. Bukankah ini menjadi tidak adil?

Hal inilah yang kemudian membuat kita membutuhkan rasa syukur. Bersyukur bukan berarti menipu diri merasa seolah-olah bahagia, karena memang bukan itu definisi dari bersyukur. Bersyukur artinya menyadari bahwa ada hal baik yang muncul dalam hidup ini, dan dengan demikian menyeimbangkan pikiran kita yang lebih mudah menyadari konten-konten bermuatan emosi negatif.

Maka tidak heran bahwa psikologi menyarankan kita untuk bersyukur. Seligman dan koleganya (2005) memberi tugas pada sekitar 400 orang partisipan untuk mencatat 3 hal baik yang terjadi setiap hari selama 15 hari. Percobaan ini menemukan bahwa 94% dari partisipan mengalami peningkatan emosi positif setelah melakukan praktik tersebut. Praktik ini kemudian dinamakan sebagai "three good things" (tiga hal baik). Kita dapat melakukannya juga dengan langkah-langkah berikut:

1. Pikirkan tiga hal yang berjalan baik hari ini,
2. Catat dalam kertas (atau diketik di ponsel), lalu
3. Renungkan mengapa hal baik ini bisa terjadi.

Praktik ini merupakan praktik untuk melatih rasa syukur kita, yakni dengan mengingat kembali hal baik yang sudah terjadi (sesuatu yang seringkali kita abaikan begitu saja).

Bersyukur sama sekali tidak sama dengan toxic positivity. Bersyukur tidak memaksa kita untuk menolak emosi negatif. Kita hanya perlu mengingat hal-hal baik, tanpa mengabaikan bahwa hal buruk memang terjadi; kita hanya memilih untuk fokus pada hal baik saja. Selain itu, kita harus mensyukuri hal baik yang benar-benar terjadi, bukan memaksakan diri untuk pura-pura positif. Dan ada satu catatan yang selalu saya ajarkan kepada mahasiswa saya di kelas: bersyukurlah terhadap hal baik yang memang terjadi, dan jika kamu memang sedang benar-benar sedih, jangan dipaksakan untuk mencari sisi positifnya. Terima dan sadari saja dulu.

Maka di sini Wong mengajarkan meskipun terdapat kesulitan dan ketidakpuasan dalam semestanya ini, ia tetap mensyukurinya. Jadilah seperti Wong.

*Penutup*

Dari film ini, kita bisa belajar bagaimana penerimaan atas hidup dan emosi bisa berperan besar terhadap hidup kita. Jika di film Dr.Strange ketidakmampuan untuk menerima dapat mendorong seseorang untuk mencari semesta lain, di dunia nyata mungkin tidak seperti itu; alih-alih memunculkan semesta lain, jangan-jangan justru memicu kita untuk berhalusinasi atau berdelusi?

Apa yang sudah terjadi tidak dapat diubah kembali. Jika kita tidak sengaja menanak nasi terlalu lama sehingga menjadi bubur, jangan menangisinya; beri saja daun seledri, suwiran daging ayam, dan kecap manis - rasanya tetap enak meskipun bukan nasi.

Sekian.

Jakarta, 29 Mei 2022

Referensi:
1. Wojnarowska, A., Kobylinska, D., & Lewczuk, K. (2020). Acceptance as an emotion regulation strategy in experimental psychological research: What we know and how we can improve that knowledge. Frontiers in Psychology, 11:242.
2. Williams J.C., & Lynn S.J. (2010). Acceptance: an historical and conceptual review. Imagination Cognition and Personality, 30(1), pp.5–56. 10.2190/IC.30.1.c 
3. Campbell-Sills, L., Barlow, D. H., Brown, T. A., & Hofmann, S. G. (2006). Effects of suppression and acceptance on emotional responses of individuals with anxiety and mood disorders. Behaviour Research and Therapy, 44, 1251–1263. http://dx.doi.org/10.1016/j.brat.2005.10.001.
4. Kensinger, E.A. (2007). Negative emotion enhances memory accuracy: Behavioral and neuroimaging evidence. Current Directions in Psychological Science, 16(4), pp.213-218.
5. Seligman, M. E., Steen, T. A., Park, N., & Peterson, C. (2005). Positive psychology progress: Empirical validation of interventions. American Psychologist, 60(5), 410-421.

Selasa, 17 Mei 2022

15 Jobs You Eill Be Recruiting in 2030

15 Jobs You’ll Be Recruiting for in 2030

Authored byBruce M. Anderson (he-him)

Content Marketer / Editor / Writer

May 16, 2022

Many of the jobs that today’s students will be doing in 2030 haven’t been invented yet. The big question for talent acquisition teams everywhere: What will those jobs be?

It turns out that many of these jobs will spin off from technologies that are emerging today — drones, alternative energy, autonomous cars, and cryptocurrencies and blockchain developments, for starters.

We looked into our crystal ball — and around the web — and here are 15 of the most intriguing (and perhaps far-fetched) jobs you may be recruiting for in the not-so-distant future:

1. Organ creator

The New Zealand–based website Crimson Education speculates that the shortage of transplantable organs will, eventually, lead scientists to create organs and body parts from stem cells and other materials, including some that may not even exist yet. Recruiters will be searching for candidates with a background in molecular biology, tissue engineering, or biomedical engineering.

2. Augmented-reality journey builder

Starting with notions developed in Total Recall (memory implants of vacations) and Westworld (an android-staffed amusement park), AR journey builders will allow customers to experience virtually anything they wish. The AR journey builders will, according to Cognizant’s 21 Jobs of the Future, “design, write, create, calibrate, gamify, build, and — most importantly — personalize the next generation of mind-blowing stories and in-the-moment vignettes” for well-heeled clients. The position will demand a film school degree as well as experience with massively multiplayer online role-playing games.

3. Metaverse planner

Ironically, some of the first jobs created by the metaverse are brick-and-mortar retail jobs — Meta opened a California store in early May to hawk VR and AR gear. Down the road, of course, the metaverse will not only augment reality, it will augment the LinkedIn list of in-demand jobs. And one of those roles will be metaverse planner. 

4. Biofilm installer

Biofilms — collections of microbial cells attached to wet surfaces — are icky, sticky, and tricky. They are literally slime and pond scum and the source of 80% of microbial infections. But they are also a remarkable tool for sewage treatment, oil spill cleanup, and generating power. “By coating certain surfaces in the bathroom and kitchen of homes, they will become key tools for environmentally friendly buildings,” says the Canadian Scholarship Trust (CST), which also sees a big role for biofilm installers in “retrofitting smart, energy-efficient buildings.” It’s possible that biofilm installers will fit showers with microbes that attack bathroom mildew or, more broadly, equip homes with a living organism to process the garbage.

5. Earthquake forecaster

Many of the jobs on this list would have been inconceivable even a few years ago, but the role of earthquake predictor has been a job of the future for at least 50 years. In the 1970s, many scientists said that accurate, timely earthquake prediction was just around the corner. Five decades later, that’s where it remains — just around the corner. But an acceleration of machine learning applied to seismology in recent years has also accelerated hopes that businesses and governments might be hiring forecasters soon. Clearly, a background in geology and geophysics will come in handy, but so might a little abracadabra.

6. Makeshift structure engineer

The days (not so long ago) of using 3D printing to create keychains and Yoda heads have been replaced by the technology being employed to produce prosthetic hands and prototypes of jet engines. In the future, makeshift structure engineers will deploy 3D printing to construct temporary buildings for those in need after natural disasters or armed conflict (can’t we manage to get rid of that by 2030?). “3D printing will be able to print the parts needed to create small housing units, similar to trailers, in several hours or days, so that they can be assembled quickly for those in need,” CST says. Makeshift structure engineers will have a background in industrial design and structural engineering.

7. Algorithm bias auditor

Algorithms drive much of 21st-century life, from the musical choices put forth by Spotify to the dating options offered by Tinder. The contemporary hiring process — from which postings are teed up to job seekers to which candidates an ATS serves up to recruiters — is also powered by them. “[G]iven the increasing statutory scrutiny on data,” says the World Economic Forum, “it’s a near certainty that when it comes to how they’re built, verification through audits will help ensure the future workforce is also the fair workforce.” Algorithm bias auditors will have a background in computer science or data analytics.

8. Rewilder

These are the radical transformers who will potentially turn a concrete jungle into a green belt. Rewilders will focus on undoing the blight of two centuries of industrial revolution, replacing aging factories and unneeded buildings, roads, and fences with forests and native species. Rewilders will likely have a background in agriculture, wildlife management, and environmental science.

9. Human-machine teaming manager

There may be no other position that puts its occupant in the middle of the future of work quite the way the role of human-machine interface manager does. “As a man-machine teaming manager,” Cognizant says, “you will identify tasks, processes, systems, and experiences that can be upgraded by newly available technologies and imagine new approaches, skills, interactions, and constructs. You will define roles and responsibilities and set the rules for how machines and workers should coordinate to accomplish a task.” Requirements? Recruiters will be searching for candidates with a background in experimental psychology or neuroscience paired with work in computer science, engineering, or HR.

10. Digital currency advisor

With the soaring interest in cryptocurrencies such as Bitcoin, Litecoin, and Ethereum, investors now have enormous opportunities — and potential exposure — in unregulated financial instruments. “Digital currency advisors,” CST says, “specialize in these currencies and show people how to manage their wealth by using the right balance of systems.” Digital currency advisors will have backgrounds in accounting, financial management, and data security — but probably not professional basketball (as called out in this TV ad with Stephen Curry).

11. Drone traffic optimizer

Once a novelty, drones today are filming our movies and fighting our wars, policing our neighborhoods, and delivering our packages (well, that’s the plan anyway). In another decade or so, they will be everywhere. And someone will need to oversee their flight paths so they don’t begin to wreak complete havoc. In the United States, NASA and the FAA are working on this issue at a national level. The drone traffic optimizers will handle at a local level.

12. Autonomous car mechanic

The coming lines of autonomous cars from companies such as Tesla, Waymo, GM, Hyundai, Cruise, Pony.ai, and Ford will drive themselves. But they won’t repair themselves. And the mechanics who will care for cars will combine an old-fashioned love of tinkering with a cutting-edge understanding of technology. Mr. Goodwrench meets Watson.

13. Smart home design manager

The Home of Tomorrow was once a world’s fair staple. But now that future has arrived and current homes can control their own lighting, temperature, and security. “The rise of smart home design managers,” says the World Economic Forum, “will boom as homes are built — or retrofitted — with dedicated home office spaces, replete with routers in the right place, soundproofing, separate voice-driven entrances.” These managers will be “home-schooled” with advanced degrees in AI, robotics, and residential architecture.

14. Agile supply chain worker

In a global and online economy, businesses will increasingly need to respond in real time to fluctuations in both supply (where can I get parts faster, cheaper, of better quality?) and demand (why the sudden interest for our product in Southeast Asia?). “[C]ompanies need people who constantly scout out new sources for materials and components and connect company supply lines on the fly to keep costs low and turnaround fast,” says CST. Recruiters will look for candidates who’ve studied supply chain management and logistics at business school. Military veterans with experience in SCM will also be high in demand.

15. Trash engineer (aka, Garbage designer)

Humans, according to the United Nations, produce over 2 billion tons of garbage each year. And we’re running out of places to stash our trash. But to those who say there’s no way out of this mess, our future trash engineers say, “Rubbish!” The Thrillist weighs in: “Garbage designers . . . will be charged with coming up with clever methods to upcycle trash on a large scale, and manufacturers of everything from toys to clothes to furniture will hire them to find more efficient ways to use and reuse their byproducts.” A background in materials science and industrial design will be needed for those who dream of nothing less than cleaning up the world.

Final thoughts: Jobs of the future have never looked so good

Sabtu, 23 April 2022

Selamat Jalan Om dr. Agung Prasmono, SpB SpBTKV (K) MARS

Selamat Jalan Om Agung kecintaan kami semua.
Om Agung menikah dengan Tante Gadis tahun 1985. Om ganteng yang datang ke Teuku Cik Di Tiro melamar Tante Adis kala itu. 

Aku tinggal bersama Om Agung dan Tante Adis di Surabaya tahun 1992 sampai 1994 karena aku bersekolah di SMAN 5 Surabaya. Om Agung dan Tante Adis udah seperti Bapak Ibuku juga. 

Om Agung adalah teman makan kuliner Kepiting anytime. 

Sepanjang kukenal Om Agung tidak pernah marah-marah, paling cuma ngomel2 sebentar lalu senyum dan bercanda terus sepanjang waktu.

Kita punya kesukaan yang sama; lagu lagu lawas seperti Chicago, Nat King Cole, Earth Wind & Fire dan banyak lagi. Sempat kita nonton konser Chicago cuman berdua, and we had great time banget dengerin lagu lagu Chicago kala itu. 

Sejak aku kuliah dan menetap di Jakarta, gak setiap hari lagi ketemu Om Agung. Tahun 2019 aku balik ke Malang untuk ikut mengurusi Persada Hospital, berharap bisa lebih banyak waktu untuk main ke Surabaya ketemu Om Agung dan Tante Gadis, tapi keburu Covid. 

Hingga di tahun 2021 awal, aku baru tahu kalau Om Agung terdiagnosa ada tumor di pencernaannya. Sejak itu kondisi Om Agung fisiknya naik turun. Keluar masuk Rumah Sakit. Sediiih sekali melihat Om Agung seperti itu karena beliau selalu menjadi sumber kebahagiaan di setiap kala kita berkumpul. 

Pada saat Ibunda juga terdiagnosa ada kanker, Om Agung lah yang tak henti ikut menyemangati Ibu, dengan upaya kemoterapi yang sudah lebih dulu beliau jalani. Membuat Ibuku juga ikut semangat.

Tak kukira di bulan Maret di saat Om Agung sudah tampak pulih dan bernyanyi lagi, beliau kembali ada keluhan. Beliau kembali harus dirawat di RS. Hingga beberapa minggu terakhir, beliau harus banyak istirahat di rumah. Tak hentinya setiap ada kesempatan kita menengok Om Agung. Berharaaaaaap sekali Om Agung pasti akan bisa pulih bila bisa didampingi dokter dokter yang mendampingi beliau untuk pemulihan beliau.

Hingga suatu weekend beliau sudah tampak melemah di rumah. Harus masuk RS ,LAGI. Pada saat kita tengok, kita berharap Om bisa pulih kembali setelah banyak dibantu suster utk asupan beliau yang susah makan slm bbrp hari. Tapi, Allah Berkehendak lain. Om harus masuk HCU. Lalu tiba2 harus masuk ICU. 

Devastated knowing our Uncle sudah harus di ICU. Lemah sekali. 

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Telah berpulang Om kami yang SANGAT BAIK HATI SEKALI. Senyum terus kepada semua orang. Semoga husnul khotimah ya Oom. Amiin YRA. 

Kami keponakan keponakanmu, akan selalu mendoakanmu Om. Diterangkan alam kuburnya Om. Dan Diterima semua amalan ibadah dan tindakan2 baik Om. Doa semua orang yang telah Om bahagiakan selalu.

"Kami bersaksi, dr. Agung Prasmono SpB BTKV (K) MARS adalah Orang Yang Baik Sekali". 

Berikut suara suara emas beliau yang akan menjadi lullaby indah bagi keponakan2nya ini.